Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri mom shaming. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

6 Tips menghadapi mom shaming

1 komentar


foto: canva
 “Kok anaknya kurus bu?”
“Itu anaknya nangis kok dibiarin aja?”

Pernah denger yang kayak gini kan bu?! tos dulu. U are not alone. Saya juga pernah mendapat perlakuan serupa. Perilaku ini disebut mom shaming. Istilah ini berarti merendahkan seorang ibu karena pilihan pengasuhannya berbeda dengan si pengkritik. Bisa berupa sindiran, komentar dan kritik yang bersifat negatif.

Saya sebenarnya agak kurang setuju dengan istilah ini. Karena bagi saya, sesuatu yang berbau ‘shaming-shamingan’ ini selalu berdampak buruk bagi siapapun. Bapak, anak, mertua, nenek, cucu, kang bakso, kang sayur, kang kuli bangunan. Siapapun. Tapi memang dampaknya akan lebih dasyat bila dilekatkan pada ibu. Baik secara fisik, maupun mental. Karena, tak hanya ibu, dampak mom shaming juga bisa berimbas pada anak. Lebih jauh lagi, pada hubungan suami istri. Jika ini terus berlanjut, bisa berdampak buruk bagi keberlangsungan rumah tangga.

Coba bayangkan, ketika ibu badmood dengan komentar orang, kemungkinan besar mood swing juga saat menghadapi anak. Anak, justru jadi rewel. Atau sebenarnya anak gak rewel, tapi karena mood ibu kurang baik, apapun yang dilakukan anak, jadi tampak amburadul. Tidak berhenti sampai disitu. Ibu juga seorang istri. Jika dia sudah suntuk dengan kegiatan hari ini, suami datang, muka sudah acakadut. Jangankan diajak ngobrol, disenyumin aja mlengos. Bapak-bapak yang punya istri di rumah aja, mungkin akan ikut suntuk. Dan komunikasi dua arahpun terhambat. Ambyar kan bu ibu…
Lebih parah lagi, jika yang melakukan mom shaming adalah saudara atau orang terdekat dengan kita. Suami, ibu, saudara perempuan, bulik, paklik, dan sederet nama keluarga lainya. Apa gak tambah luar biasa penderitaan si ibu?! Saat ibu sedang butuh dukungan, malah tidak ada satupun yang memeluknya.

Jadi, memang harus hati-hati yang bu ibu. Apalagi saat bertemu dengan ibu baru. Kadang kita yang sudah aware dengan mom shaming ini justru adalah pelaku. Padahal, ibu baru sangat butuh dukungan dari semua pihak. Termasuk orang asing sekalipun. Bayangin aja, si ibu baru lagi serius dengan cara pengasuhan, yang jelas-jelas sangat baru bagi dia, eh ada yang nylonong “Itu putingnya kedalem, makanya anaknya rewel”. Yup, rasanya seperti kesamber petir ya bu. meskipun amit-amit saya belum pernah kesamber petir hehe…

Tapi, sebenarnya, mom shaming ini gak baru-baru amat kok. Ibu saya dulu pernah mengalaminya. Dan saya yakin, mbah, atau mbahnya ibu saya juga pernah berada di situasi ini. Cuma istilahnya tidak sekeren hari ini. Seperti misalnya, ibu saya dulu gagal menyusui saya dengan asi. Kenapa?! Gara-gara mbah saya bilang “asimu ki kurang kapur” mungkin kok asinya bening gitu kali ya. Bahkan, ibu saya juga mendapat perlakuan yang kurang lebih sama tentang asinya, oleh bidan yang menanganinya. Gak boleh minum banyak air biar bayinya gak pilek dan sederet pamali-pamali lain. Ibu pun akhirnya memutuskan untuk memberikan susu formula. Tidak habis disitu. Selepas melahirkan, harus pakai bengkung yang siset, biar bentuk tubuh gak mbleber kemana-mana. Waktu dicritain, saya cuma bisa membayangkan. Gimana rasanya perut diiket sambil nyusuin. Wow bukan?!.

Nah, karena saya juga pernah ngalamin shaming-shaming gini bu, ini ada tips dari saya. Gimana menghadapi mom shaming. Ini mungkin berbeda dengan pengalaman ibu-ibu yang lainya. Tapi mungkin bisa berguna untuk ibu-ibu di belahan bumi lainya.

1.                  Sadari
Sadari bahwa setiap orang, terkhusus ibu, tidak pernah tidak mengalami mom shaming. Mom shaming bahkan sudah ada sejak mbah saya, mungkin lebih tua dari itu, tapi beda istilah. Menerima kondisi ini berfungsi agar kita lebih siap, gak kagetan, jika sewaktu-waktu ada orang yang sengaja atau tidak melakukan mom shaming pada kita. Kesiapan diri ini penting, agar kita bisa berfikir lebih waras setelah itu.

2.                  Latih selera humor
Ibu-ibu sepertinya musti punya selera humor yang tinggi. Ini sebenarnya sebagai bentuk perlawanan atas tindakan tidak mengenakkan. Melawan dengan guyonan ini lebih menyenangkan. Baik untuk saya, tapi tidak terlihat buruk untuk lawan bicara. Seperti, 
“bu, anakmu kok kurus? Gak suka makan ya?!”
“gak kok bu, suka. Kadang beras, dedak, balungan, diemplok. Beling juga masuk”
Jika lawan bicara kita punya level humor yang sama, saya akan tertawa bersama. Case closed.
Tapi hati-hati, cara ini mungkin saja tidak berguna ketika lawan bicara kita tak punya selera humor. Anda bisa saja dicap gak sopan atau kurang ajar. Ini akan menjadi double mom shaming. Tapi bagi saya, tiap orang punya selera humor kok. Yang bikin gak lucu mungkin kondisinya, suasana hati atau perbedaan cuaca. Jadi, BMKG mungkin berguna untuk melihat kondisi cuaca saat ini. Apasih hehehe…

3.                  Stop membandingkan
Seringkali, saya sendiri membandingkan pola pengasuhan anak dengan orang lain. Apalagi sekarang zamanya media sosial. Segala macam model pengasuhan bisa dilihat dan dicontoh. Kadang, saya secara tak sadar membandingkan diri sendiri dengan apa yang saya lihat dan baca. Sungguh tampak sempurna. Influencer-influencer tentang pengasuhan bertaburan di Instagram. They look sooooo perfect. Stop it!!!
Saya bahkan sempat unfollow influencer yang menurut saya terlalu sempurna. Ini bukan saya julid ya bu. tapi sungguh, saya jadi lebih ‘nrimo’ dengan kondisi anak saya. Ini penting, Karena tiap anak berbeda. Jadi, sangat tidak salah, kitapun memperlakukan anak kita spesial dengan cara kita. Tentunya terbaik yang kita bisa.

4.                  Percaya diri
Percayalah, kita adalah orang pertama dan utama yang mengenal anak kita lebih dari siapapun. jadi, kitalah bu yang paling tahu apa yang terbaik untuk anak kita. Mencari referensi boleh saja, perlu malah. Tapi, tetap keputusan ada di tangan kita. Penting juga untuk membicarakan masalah pengasuhan dengan pasangan, biar bisa saling menguatkan, jangan lupa pelukan ya pak…

5.          Dengarkan
Dengarkan saja apa yang sedang dilakukan pelaku mom shaming kepada kita. Mereka sebenarnya sedang mencari ‘pelampiasan’ atas rasa tidak aman atau rasa bersalah atas pengasuhan yang selama ini mereka lakukan. Dengan mengkritik atau berkomentar buruk, seolah membuat mereka impas. Atau merasa telah memperbaiki hal ‘kliru’ yang terlanjur mereka lakukan selama tahap pengasuhan. So, marah kepada orang seperti ini kurang oke. lebih tepatnya, kasian.

6.                  Lupakan
Melupakan apa yang didengar bahkan di depan mata memang bukan perkara gampang. Karena ini butuh usaha lebih. Cara untuk melupakannya juga berbeda tiap orang. Saya, biasanya dengan bermain bersama anak-anak. Membuat Do It Yourself atau DIY dengan kardus. Ini sangat membantu saya melupakan hawa negatif dari apa yang terlanjut terlontar dari orang yang mungkin saja tidak sadar sedang melakukan mom shaming.

            Yup, itu tadi bu 6 tips dari saya. Semoga bermanfaat. Jangan lupa terus bahagia. Karena ibu bahagia pangkal keluarga sejahtera. Buat ibu-ibu yang pernah ngalamin mom shaming, atau yang belum ibu-ibu tapi pernah melihat kejadian serupa, sharing yuk di kolom komentar?!





Kaleidoskop 2019, what next?

2 komentar


Selamat tinggal 2019. Beserta drama dan proses belajarnya. Selamat datang 2020. Semoga terus bisa belajar apapun. Nambah skill, lebih sabar, hemat dan konsisten dengan perencanaan keuangan.
Ini adalah rangkuman peristiwa di hidup saya dan keluarga selama satu tahun. Sedikit banyak, berpengaruh pada isi dan performa blog.

Saya bikin blog sejak tahun 2017. Sebelumnya, saya juga pernah buat blog. Pernah pakai multiply? Kita seumuran. Waktu SMA, sudah punya sih, tapi lupa password. Kuliah pernah bikin pakai wordpress. Lalu lupa lagi. Kemudian bikin lagi karena ada lomba blog salah satu provider. Terus lupa password.

Blog ini saya buat setelah punya anak. Dibuat tahun 2017. Tapi baru aktif setahun belakangan. Join ke grup blogging, follow para blogger keren, ikut blogwalking dll. Maklum, sudah vakum 7 tahun dari dunia tulis menulis. Masih ‘jet lag’.

Kegiatan tulis menulis saya sebenarnya lebih banyak di facebook. Ikut grup komunitas bisa menulis. Awalnya, saya juga join emak pintar asia milik mbak Indari Mastuti. Belakangan saya cek webnya, tidak ada. Pernah kirim tulisan di mojok.co juga, tapi gak pernah tayang wkwkwk.

And here we go…..

Januari
Bulan ini ternyata banyak tulisan yang saya buat, sekaligus upload di blog. Beberapa saya copas dari tulisan-tulisan di facebook. Sebelumnya, saya sering menulis di facebook. Tentang apapun. Belakangan lebih sering nulis tentang parenting. Saat menulis parenting, sepertinya mengalir begitu saja. Barangkali, karena saya mengalaminya sendiri. Setiap hari.

Februari
Tepat setahun anak kedua saya. Anak pertama saya, mas Zafran juga lahir di bulan ini. Bikin acara ulang tahun untuk keduanya. Semua printilan saya sendiri yang handle.


Di bulan ini juga, saya mulai menulis keluh kesah tentang dunia parenting. Salah satunya mom shaming. Ya maklumlah, ibu dua anak ini masih baper sama omongan orang. Tapi dengan menuliskannya di blog, saya jadi lebih lega. Sekaligus berbagi biar gak kebablasan bapernya.


Maret
Bulan ini saya mulai gak pede menulis. Baca-baca lagi tulisan di blog. Kebanyakan kok humble brag. Sombong yang sederhana. Rendah hati tapi pamer. Begitulah perasaan saya saat itu. Kemudian mulai ‘berkonsultasi’ dengan beberapa penulis.

Salah satu penulis favorit saya adalah mbak @mcitraningrum. Membaca tulisannya di blog dan kompasiana. Saya kepincut ingin menulis dengan gaya tulisan seperti mbak Citra ini. Kemudian, DM lah saya via Instagram.

“Gimana sih mbak caranya nulis renyah dan gak sombong?”

Kata mbak Citra, setiap orang punya kecenderungan untuk brag, sesumbar. Itu manusiawi. Tinggal bagaimana mengemasnya. Untuk tulisan renyah, kata mbak Citra, memang perlu jam terbang.

April
Mendapat job pertama kali sebagai seorang blogger. Waktu itu, ditawari via DM oleh @the_urbanmama. Acara bekerjasama dengan salah satu produk perawatan bayi. Seneng banget. Pengalam pertama liputan setelah vakum lebih dari 7 tahun sebagai jurnalis tv. Meskipun, sampai saat ini invoicenya belum cair L

Sempat awkward saat hadir di acara. Ketemu dengan teman wartawan. Berjumpa dengan anak muda yang sudah lama berkecimpung di dunia blogger. Hati saya ciut. Tapi kemudian ketemu @zahrafirdausiah. Usut punya usut, ternyata juga mantan wartawan. Satu grup sama kantor lama saya dulu. Nyambunglah kita sampai sekarang. Tengkyu buk :-*

Hari itu, kesampaian liputan bawa dua anak. Untung acaranya pas hari sabtu, jadi anak-anak di take over ayahnya. Terimakasih supportnya suami :-*

Berawal dari situ, saya jadi lebih semangat ngeblog. Sukur-sukur kalau dapat job lagi. Tapi kalaupun tidak, bagi saya menulis itu menyembuhkan.

Mei
Ikut lomba blog pertama kali. Salah satu bank syariah. Dan belum dapet. Oke, lain kali nyoba lagi. Mulai baca-baca blog pemenang lomba. Nyari blog yang langganan jadi pemenang. Belajar model tulisan, kemasan. Sampai belajar bikin infografis dan corat-coret desain lagi.

Karena sudah lama gak utak atik desain, jadinya bikin satu aja lama banget hahaha. Belum lagi anak saya masih setahun. Lagi spaneng depan laptop, alarm minta asi berbunyi. Duh! Banyak banget alesan.

Juni
Sering blog walking, malah lupa nulis wkwkwk. Tulisan saya bulan ini cuma 1. Itupun bikinnya berhari-hari. Tentang pengalaman anak saya yang baru saja ke dokter gigi.


Saya suka sekali tulisanya @ndorokakung. Mungkin sudah sangat familiar sekali. Tulisannya keren. Maklum, sudah 20 tahun lebih di dunia jurnalistik dan per-blogger-an. Nah, saya pengin nih bikin tulisan model gini. Satir, ceritanya mengalir, ya meskipun, banyak juga tulisan event. Tapi baru tulisan event @ndorokakung yang saya baca sampai tuntas.

Musti belajar lebih banyak lagi ini. Oiya, satu lagi, tulisannya pak Prie.GS. seorang budayawan dan seniman. Saya sering baca tulisannya via facebook. Atau kadang kalau blio lagi nulis panjang di ig. Tidak menggurui, santai, gak ngegas, tapi menarik. Penggunaan diksinya juga unik. Tapi tetap bisa dipahami dengan baik.

Oiya , saya juga suka tulisannya Samuel Mulia di kolom parodi Kompas. Biasanya pas hari minggu. Samuel Mulia adalah seorang perancang busana dan pemerhati gaya hidup. Tulisannya selalu menggelitik. Membuat saya berpikir ulang. Ah keren!

Juli
Bulan ini saya dan dua bocah pulang kampung. Ke Tulungagung. Kami berkunjung ke pantai Karanggongso. Naik motor. Seru sekali. Pantainya bersih. Dan banyak wahana seru.


Tulungagung punya banyak destinasi wisata. Salah satunya pantai. Tinggal pilh, mau yang dekat dengan jalan raya, atau musti masuk hutan lewati lembah juga ada. Yuk ke Tulungagung J

Agustus
Bulan ini saya mencoba ikut lomba blog lagi. Salah satu produk asuransi. Belum menang lagi. Gak papa. Yang penting sudah punya semangatnya.

Selain itu, juga mencoba menulis tentang problem rumah tangga. Menulis tema ini ternyata juga mudah. Sama seperti parenting. Saya bisa menulis panjang. Ya memang, menulislah apa yang ada di sekitarmu, merupakan obat ampuh untuk terus berkarya.

September
Mendapat email kerjasama blogpost dari salah satu hotel di Bali. Tapi, setelah saya balas, tidak ada kabar lagi. hihihi. Dari sini saya mulai bertanya tentang range harga blogpost kepada para blogger senior. Selain itu, bagaimana memberikan balasan terkait email kerjasama. Alhamdulillah mereka memberikan respon yang baik. Terimakasih mastah J

Selain itu, saya juga membuat tulisan berseri #zafranask. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan ‘sulit’ anak usia 6 tahun. Keingintahuan anak usia ini memang sangat tinggi. Dulu, kalau mau bertanya ini itu, langsung di skak, jangan bawel. Tapi, saya buang jauh-jauh warisan pengasuhan model ini. Saya belajar selalu terbuka dengan anak. Bahkan dalam hal yang masih dianggap tabu oleh beberapa orang. Misalnya, sex.


Oktober
Adik saya menikah. Alhamdulillah. Ikut keruwetan persiapan sejak H-5. Maklum, ibu saya masih menganut adat jawa. Printilannya banyak banget. Mulai seserahan, selametan sebelum dan sesudah acara, tonjokan, dll.

Senang rasanya bisa melewati itu semua dengan lancar tanpa halangan berarti. Semua acara bisa dilewati dengan suka cita. Keluarga besar berkumpul. Meskipun tidak semua, karena ada yang sakit. Tapi semua senang di hari itu. Sungguh moment tak terlupakan.

Di bulan ini, saya mulai berani menulis tentang isu-isu terkini seperti zero waste. Kalau isu politik, saya masih belum berani. Meskipun, latar belakang pendidikan saya mendukung untuk itu.


Saya juga punya akun di kompasiana. Baru ngeh kalau musti di verifikasi terlebih dahulu. Tapi belum pernah nulis disitu hehehe..

November
Bulik saya meninggal. Adik dari bapak. Dulu, bulik latif yang mengasuh saya dirumah. Maklum, ibu dan almarhum bapak bekerja.

Belio terkena kanker payudara. Terdeteksi sudah stadium 4. Saya sebenarnya mau menulis tentang ini kapan hari. Tapi selalu saja ada alasan. Tahun lalu, paklik saya juga berpulang dengan diagnosis kanker. Kanker pankreas. Next saya mau nulis tentang perjalanan keluarga saya struggling kanker. Sekaligus mitos-mitos yang masih dipegang keluarga saat ini.

Desember
Moment liburan bersama keluarga. Bulan ini saya juga lebih sering menulis. Mulai menata hati dan menata duit dengan baik.


Statistik blog meningkat, saya mendapat 1k view bulan ini. Mungkin ini pencapaian yang biasa saja untuk para blogger mastah. Tapi bagi saya, ini pencapaian luar biasa. Sudah ada yang mau membaca blog saya. Bahkan memberikan komentar. Terimakasih kepada para pembaca blog saya. Juga untuk 4 follower. hehehe… masih 4 tapi saya sebahagia itu.

Bulan ini saya juga baru menuliskan cerita tentang anak kedua saya yang terkena kejang demam. Padahal, peristiwa itu terjadi tahun lalu. Sungguh peristiwa yang bikin jantung mo pindah dengkul. Tapi alhamdulillah saya bisa meng-handle dengan baik.


Oiya, moment paling kentang di akhir tahun adalah saat daftar CPNS. Gak lolos. Padahal masih tahap awal administrasi. Alasannya? Saya lupa dimana transkrip nilai yang asli. Hilang. Kacau balau dah mood rumah. Tapi yasudah, memang belum rejeki L

Nah itu tadi peristiwa-peristiwa yang saya alami selama setahun. Semoga, saya bisa banyak belajar di setiap momennya. Belajar sabar menghadapi anak-anak. Ingin terus menulis di blog dan media.
Saya berharap, tahun depan akan terbuka pintu-pintu lain bagi saya dan keluarga. Pintu rejeki dan keberkahan, amin…

Punya moment berharga apa tahun ini bu?








Menyapih Bisa Bikin BB Anak Naik?

3 komentar


Berat badan (BB) anak sepertinya menjadi masalah tiap buibu dengan balita. Rasanya, pengen deh naikin BB anak semudah bikin garis ke atas kurva tumbuh kembang. Tapi, kenyataannya tidak begitu Maria. Ada drama dibalik tiap usaha. Segala cara dan jurus sudah dikeluarkan sekuat tenaga.

Nah, ini adalah pengalaman saya menyapih Inara (2). Sekaligus menaikkan BB-nya yang sudah diambang garis kuning kurva.

Baca juga: Menghadapi Fase Terrible Two Si Kecil

Kok bisa? Begini ceritanya.

Sewaktu panas demam kapan hari, saya pergi ke dokter. Setelah diperiksa dan mendapat diagnosa, saya curhat tentang BB Inara. Singkat cerita, saya disarankan oleh dokter untuk segera menyapih Inara.

Baca juga: Pertolongan Pertama Anak Kejang Demam

Kenapa? dokter melihat BB Inara sudah memprihatinkan. Hiks… Padahal, saya kepingin Inara lepas asi dengan sendirinya. Seperti masnya yang butuh waktu 2,5 tahun untuk bisa lepas sendiri. Tapi, kondisi Inara berbeda.

Baca juga: Kunjungan Ke Dokter? Ini Yang Perlu Disiapkan

Usia inara saat itu 2 tahun kurang 3 bulan. Pengennya ngasi terus. Sedangkan produksi asi saya sudah tidak sebanyak dulu. Kata dokter, di usia Inara, asi hanya memberi 30 persen asupan yang dibutuhkan tubuh. Sisanya, didapat dari makanan yang dikonsumsi setiap hari. Sedangkan Inara maemnya susah sekali. Sebenarnya juga sudah saya kasih susu formula sebagai tambahan. Tapi, minumnya tak lebih dari 200 ml per hari. Seringan kurang, itupun minumnya agak maksa.

Masalahnya, kalau pas lapar, dia lebih memilih nenen daripada mengunyah makanan. Lalu bablas tidur. Nah, ini yang membuat BB seret naiknya. Sudah makannya susah, asinya gak cukup, susunya sedikit masuk. Lengkap sudah.

Fyi, berat badan Inara 8,5 kg. Padahal usianya sudah 21 bulan. berat badan ini sudah masuk garis kuning di kurva tumbuh kembang. Masuk -2sd, berdasar kurva pertumbuhan WHO. Galau dong saya.

Menurut dokter, jika BB inara stagnan di angka tersebut selama 2-3 bulan, musti ada pemeriksaan lebih lanjut. Apakah ada infeksi atau TB. Lemes saya dibilang gitu bu.

Akhirnya, saya ikuti saran dokter untuk segera menyapih inara. Dokter menyarankan untuk mengurangi nenen di siang hari. Malam hari, bisa dikurangi secara berkala.

Lalu, bagaimana saya menyapih Inara dengan indikasi seperti di atas?

Sounding

Sering sekali saya bilang, asinya ibu sudah habis nak, Inara sudah besar, kalau sudah besar minum susu, kalau minum susu yang banyak bisa naik sepeda kayak mas.

Di awal-awal sounding, lumayan berhasil. Tapi saat malam tiba, dia mulai ‘sakau’. Dan saya tidak tega. Seminggu pertama, gagal sapih.

Sabar

Ini selalu dibutuhkan dalam situasi apapun. Sabar menunggu dia paham sudah waktunya lepas dari asi ibuk. Saya gagal di minggu-minggu pertama saat menyapih. Lalu, intensitas nenen siang hari sudah berkurang banyak. Meskipun malam hari, dia masih saya kasih Asi saat bangun malam dan rewel.

Jangan dipaksa

Ini tidak bisa. Saya ‘terpaksa’ memaksanya lepas dari asi agar mau makan banyak. Salah satunya dengan mengoles minyak telon di puting payudara saya. Ini saya lakukan sekitar 3-4 kali. Setelah itu, saya kasian. Lalu, gagal sapih lagi.

Kalau lihat mukanya melas gitu saya jadi lembek buat ngasih asi lagi. Tapi yasudah, dua-duanya memang musti punya tekat kuat buat ‘pisah’.

Setelah drama minyak telon, saya tidak mencoba cara lain. Seperti dikasih lipstick atau butrowali yang pahit itu. Saya betul-betul kasihan melihatnya. Dia sampai hafal kalau mau minta nenen. “Pedes buk” sambil menatap saya dengan berkaca-kaca. Kayak kucing Garfield sama tuannya. Ya gak tegalah klo begitu.

Jika buibu ada yang kurang sreg dengan cara ini, silakan. Panduan buku parenting juga tidak mengizinkan langkah ini. Tapi, saya tahu persis bagaimana situasinya. Tenang, masih under control kok bu. J

Baca juga: Kapok Belajar Ilmu Parenting?

Berhasil!

Butuh sekitar 2 bulan untuk benar-benar lepas dari asi. Kalau mau tidur, biasanya saya gendong. Atau dia sudah bisa minta tidur sendiri, sambil elus-elus perut saya. Good girl J

Nah, semenjak berhasil sapih, maem Inara berangsur membaik. Susu formula sebagai pengganti nenen, berhasil masuk dengan sempurna. Kadang mau pakai gelas, sedotan, atau botol susu. Sering minta dibikinin susu juga. Minumnya gak langsung habis sih, tapi bisa disimpen di kulkas. Barangkali dia butuh jeda.

Kalau mau tidur, biasanya minum pakai dot, tapi gak lama. Karena dia minta buka dan minum langsung. Ah baiklah, jadi ibuk gak perlu sapih dot ya nanti hehehe…

Dan buibu tahu berapa berat Inara sekarang? 9 kilo bu hahahaha. Belum masuk garis hijau sih. Tapi bukankah ini pertanda baik? Sangat baik malah. Saya rasanya pengen sesumbar ke seluruh dunia. Sudah berhasil menaikkan BB anak setengah kilogram. Horay!

Naiknya BB inara juga menjadi sinyal baik. Dia memang kurang asupan. Terutama protein, sebagai booster BB. Bukan karena ada infeksi atau TB. Selama ini maemnya memang susah, atau saya yang kurang aware dengan jadwal makan Inara.

Apa saja yang saya lakukan agar BB Inara naik?

Dokter mengatakan, tidak ada vitamin penambah nafsu makan. Saya hanya harus punya jadwal makan tetap inara. Di sela-sela itu, bisa diberi camilan tinggi protein. Seperti keju, pasta, daging, minus telur. Karena doi alergi. Intensitas minum susu juga ditambah. Kurangi asupan serat seperti sayur dan buah. Tawari makanan setiap 2 jam sekali.

Baca juga: Camilan Home Made Untuk Anak Alergi

Jadi, saya bikin jadwal ala-ala sendiri

Pagi setelah bangun, biasanya saya bikin pasta tambah keju. Dia suka banget. Nanti lanjut sarapan. Biasanya bareng masnya. Iya, anak-anak saya itu kalau pagi bangun tidur sudah nyari makanan. Jadi biasanya saya bikin kentang goreng buat masnya dan pasta buat adiknya. Atau kalau lagi males, bikin roti keju dioles margarin.
Pasta keju
Siang makan olahan daging giling. Saya bikin sendiri. Ditambah sayur yang saya buat untuk sekeluarga. Sore, makan berat juga. Banyakin lauknya. Malam hari, dia juga ikut makan kalau masnya maem. Di sela-sela makan berat, selingi minum susu. Lumayan, tiap minum 180 ml. Sehari biasanya habis 3 botol. Malam hari kalau kebangun, dia juga suka minta susu. Ah leganya.

Setelah berjalan sebulan, BB-nya nambah 0,5 kg dong. Jadi pengen bikin medali sendiri terus dikalungin sendiri buat award. Hihihi.

Baca juga: 6 Tips Menghadapi Mom Shaming

Itu tadi pengalaman saya menyapih anak dengan indikasi seperti di atas. Barangkali tidak semua anak punya kondisi yang sama denga Inara. Jadi, jika BB anak stagnan selama 2-3 bulan, lebih baik konsultasikan ke dokter.

Buibu punya pengalaman sapih atau lagi galau dengan BB anak? sharing yuk…