Tampilkan postingan dengan label health. Tampilkan semua postingan

Pengalaman Vaksin Lengkap Sinovac

25 komentar


“Mbak, sesuk neng puskesmas vaksino, lek ditanya pekerjaannya opo jawab ae pedagang”, kata bu Agung, tetangga rumah yang sudah vaksin di Puskesmas. (mbak, besok ke puskesmas vaksin, kalau ditanya pekerjaannya apa jawab aja pedagang).

Saya putuskan untuk mengambil vaksin dari desa. Karena jatah vaksin dari kantor suami belum ada kejelasan. Sementara, paksu sering keluar kota untuk urusan kantor. Jadi, biar saya tenang, datanglah saya ke Puskesmas desa Pepe untuk vaksin.

Sesampainya di puskesmas, saya bertanya ke pak satpam.

“Pak, kalau mau vaksin parkir dimana?”

“Vaksinnya habis bu”

“Loh ya, baru kemarin dikasih tahu ada pak”

“Iya habis bu, belum tahu ada lagi kapan. Nanti tak kasih tahulah bu kalau sudah ada”, jawab pak satpam sambil senyum cengengesan.

Pulanglah saya dengan senyum kecut.

Saya sebenarnya bukan termasuk golongan rentan yang mendapat jatah vaksin. Informasi dari desa setempat, banyak lansia, atau orang yang diprioritaskan untuk divaksin, tapi tidak diambil. Lebih tepatnya, takut efek samping setelah divaksin.


Kabar hoax yang banyak beredar di masyarakat, membuat banyak orang enggan untuk melakukan vaksinasi.

“La lek aku vaksin mbak, mengko mumet, panas malah gak iso nyambut gawe, terus aku mangan opo?!”, (kalau saya vaksin mbak, nanti pusing terus malah gak bisa kerja, nanti makan apa) kata bu Farida pekerja yang membantu saya di rumah.

Barangkali, orang-orang yang tidak mau divaksin punya pemikiran sama dengan bu Farida. Alhasil, vaksin yang tersedia, diberikan kepada orang yang mau saja. Meskipun tidak masuk prioritas untuk mendapat vaksin. Contohnya, tenaga medis, guru, lansia, pelaku ekonomi seperti pedagang, atau pekerja yang banyak bersentuhan di ruang publik.

Vaksin Pertama

Kira-kira sebulan kemudian, tepatnya sebelum hari raya Idul Fitri tahun ini, suami sudah mengantongi jadwal vaksin pertama dari kantor. Paksu bekerja di sebuah perusahaan Event Organizer di Surabaya. Mobilitasnya tinggi. Sering keluar kota.


Jadi, suami termasuk orang yang mendapat prioritas untuk vaksin. Sedangkan saya, juga mendapatkan jatah karena tinggal serumah, karena resiko penularan tinggi.

Lokasi suntik vaksin pertama berada di kantor Gubernur Jawa Timur, jalan Pahlawan 110 Surabaya. Kira-kira 200an orang mendapat jatah vaksin hari itu.

Saya sempat deg-degan saat memasuki ruangan. Maklum, sudah lama tidak bersentuhan dengan jarum suntik. Terakhir, waktu Caesar anak kedua 3 tahun lalu.

Sebelum disuntik, penerima vaksin harus melewati serangkaian proses. Ada 5 tahapan yang harus dilewati.

1. Verifikasi Data

Setelah memasuki ruangan, data akan diperiksa. Data yang dibutuhkan antara lain, KTP, Kartu BPJS, dan Kartu Keluarga. semua data tersebut dikoordinir oleh kantor suami. pengecekan dilakukan apakah data yang diterima sesuai dengan orang yang akan menerima vaksin.

2. Cek Kesehatan

Untuk memastikan kondisi badan fit saat menerima vaksin, petugas melakukan pengecekan suhu tubuh dan tekanan darah. Suhu tubuh tidak boleh lebih dari 37°C. tekanan darah dibawah 180/110MmHg.

Nah, karena deg-degan, tekanan darah saya tinggi, 190/110MmHg.

“Punya riwayat darah tinggi bu?”, tanya petugas vaksin

“Gak dok, saya malah darah rendah”

“Kok ini tensinya tinggi ya sampai 190, istirahat dulu sebentar ya, nanti tensi lagi”, kata petugas

Setelah kira- kira 10 menitan, saya dipanggil kembali untuk cek tekanan darah. Sayapun sudah merasa siap untuk divaksin. Hasilnya, tensi saya 120/110MmHg. Artinya, aman buat divaksin.

3. Tanda Tangan

Tahap selanjutnya adalah tanda tangan nokta persetujuan. Di tahapan ini petugas memberikan beberapa pertanyaan. Antara lain, kondisi fisik saat itu, apakah punya penyakit bawaan atau komorbid, tidak sedang batuk atau flu.

Kemudian petugas menyodorkan form digital untuk ditandatangani sebanyak 2 kali, setelah sebelumnya centang sana sini.

4. Vaksin

Proses selanjutnya, suntik vaksin. Sebelumnya, saya bertanya apa jenis vaksin yang dipakai.

“Sinovac bu, dari Biofarma”, kata petugas ramah.

Oh, aman pikirku.

“Tahan sedikit ya, tarik nafas panjang” kata petugas menenangkan

Sepertinya petugas melihat gelagat saya agak kaku saat mau disuntik. Ya maaf bu, grogi.

Sebelumnya, saya sempat melakukan survei kecil-kecilan tentang beberapa jenis vaksin. Bu Agung, tetangga saya di cerita awal, mendapat vaksin Astra Zeneca di Puskesmas. Sehabis vaksin, ia harus menenggak parasetamol agar tidak berlanjut demam seperti suaminya. Maklum, ibu-ibu haram hukumnya sakit.

Sedangan vaksin jenis Sinovac, dari beberapa sumber yang saya baca relatif tidak memiliki efek samping. Kalaupun ada, levelnya di bawah Astra Zeneca. Seperti lapar, tangan pegal, ngantuk atau pusing.

Tentu ini tergantung kekuatan fisik masing-masing ya. Masih perlu penelitian lebih lanjut lagi.

5. Sertifikat Vaksin

Setelah selesai, saya disuruh menunggu untuk mendapat sertifikat vaksin. Sertifikat ini yang nanti akan digunakan untuk mendapat vaksin tahap dua. Jadwalnya, satu bulan setelah vaksin pertama.

Sertifikat juga bisa didownload. Para penerima vaksin akan mendapat sms yang berisi pemberitahuan tentang sertifikat vaksin dari pedulilindung.id. Tinggal klik, langsung bisa ditampilkan sertifikat vaksin, lengkap dengan akses data berupa barcode.


Sebaiknya, tidak usah mengunggah sertifikat vaksin di sosial media. Kalaupun perlu, tutupi data pribadi seperti nomor KTP dan barcode yang tertera. Biar data kita gak dipakai orang yang tidak bertanggungjawab. Kan gak asik habis vaksin, terus unggah sertifikat, besoknya tiba-tiba dapat telpon tagihan dari pinjol. Sungguh ending yang ‘mengharukan’.

Efek Samping Vaksin Pertama

Beberapa saat setelah menerima suntikan, saya tidak merasakan efek berarti. Tangan agak kemeng saja karena disuntik. Oh iya, lapar. Tapi masih dalam tahap wajar. Mungkin karena lama menunggu antrian tanpa konsumsi (rolling eyes).

Sedangkan suami juga merasakan hal yang sama, ditambah ngantuk berat.

Vaksin Kedua

Tepat satu bulan setelah vaksin pertama, saya dan suami mendapat jadwal vaksin kedua. Lokasinya sama di kantor Gubernur Jatim.


Kali ini, saya sudah lebih siap dibanding vaksin pertama. Gak pakai drama deg-degan dan harus menunggu tekanan darah turun karena ketakutan. Duh memalukan. 

Tahapan vaksin kedua ini sama persis dengan vaksin pertama, 4 tahap. Bedanya, ada pertanyaan tambahan apakah ada efek samping saat mendapat vaksin pertama. Sayapun menjawab tidak.

Efek Samping Vaksin Kedua

Nah, untuk vaksin kedua ini saya merasakan efek samping yang cukup mengganggu. Tangan kiri bekas suntikan rasanya pegel, kemeng luar biasa. Sampai meringis saat digerakkan. Tapi itu tidak berlangsung lama. Sehari setelah vaksin, tangan sudah normal kembali.

Selain itu, kepala pusing. Kalau jalan, bumi seperti bergoyang. Meskipun gak sampai jatuh. Perut juga berasa mual. Padahal lapar. Jadi saya siasati dengan makan sedikit tapi sering, biar gak muntah.

Efek lain yang susah ditahan, ngantukkkkkkk.

Eh tapi, saat sampai dirumah, saya masih sempet masak nasi goreng sesuai request anak mbarep. Rasa pusing dan kantuk ternyata masih bisa dikontrol kok. Dengan kata lain, emak-emak dilarang mbliyut mbliyut. Baiq….

Suami juga merasakan efek yang sama. Bedanya, doi gak masak nasi goreng sambil merasakan bumi bergoyang. Tapi, langsung cap cus ngantor sampai malam. Beda sensasi aja sih.


Efek ini saya dan suami rasakan sesaat setelah vaksin. Besok harinya, kondisi sudah normal kembali. Pekerjaan rumah siap menanti.

Itu tadi pengalaman vaksin lengkap saya dan suami. Semoga, ikhtiar ini bisa mengurangi resiko penularan sekaligus menjaga kesehatan. Biar gak gampang ambruk. Kalaupun boleh berharap lebih, pandemi covid-19 segera berakhir. Kita bisa beraktifitas tanpa was was. Seger waras.

Ada yang sudah vaksin lengkap?! sharing yuk..

Salam sehat.






























3 Tips Mudah Agar Anak Mau Pakai Masker

12 komentar


Memakai masker menjadi kebiasaan baru di rumah. Sebenarnya, anak saya, mas Zafran (6) sudah lebih dulu terbiasa memakainya. Karea kalau sudah batuk, saya biasa memakaikan masker agar tak menular ke teman sekolahya. Ya memang, membuat anak mau pakai masker saat keluar rumah itu menjadi tantangan tersendiri.

Jangankan untuk anak-anak, orang dewasa saja masih suka ngeyel untuk pakai masker saat keluar rumah. Sebabnya banyak. Mulai gerah, tidak nyaman, dan sederet alasan lain untuk tidak mengindahkan himbauan pemerintah.

Padahal, pemakaian masker sangat penting untuk mencegah penularan virus covid-19. Yah, virus ini memang benar-benar membuat seluruh manusia di dunia harus melakukan kebiasaan baru. Apalagi penyebarannya sangat cepat. Kita dipaksa beradaptasi dengannya.

Dilansir dari laman kompas.com (4/04/2020), menurut Stephen Morse, ahli epidemologi di Columbia University, ada penularan signifikan oleh orang-orang yang tidak menunjukkan gejala. Satu kelomok potensial ini adalah anak-anak. Sebab, sejauh ini, anak-anak yang paling jarang mudah terserang virus corona. Akan tetapi, beberapa dari mereka mungkin mendapatkan infeksi ringan. Sehingga kemudian menyebarkan virus ini.

Barangkali ini juga yag membuat pemerintah meliburkan sekolah. Anak-anak memiliki potensi besar sebagai carier virus tanpa gejala.

Lah, anak-anak mau pergi kemana? Kan disuruh belajar dan bermain di rumah saja?

Iya bu, tapi, meskipun sekolahnya masih libur sejak awal april lalu, kadang, masih keluar juga. Ngaji atau bermain bersama temannya. Kadang-kadang, ikut pergi juga ke pasar kalau saya lagi belanja mingguan. Anak-anak juga bisa bosan kan?!

Anak ibu, gitu juga gak sih?!


Nah, ini pengalaman saya memperkenalkan anak untuk memakai masker saat harus keluar rumah.

1. Beri penjelasan

Menjelaskan kepada anak tentang kondisi pandemi covid-19 ini butuh usaha lebih. Sekali dijelaskan mereka bakal iya-iya ngerti. Tapi kalau sudah kecentok pengen keluar, penjelasan panjang lebar di belakang tadi bisa menguap entah kemana.

Memang begitulah anak-anak. Untuk memberinya pemahaman yang utuh, butuh 1-200 kali mengingatkan. Sampai akhirnya paham dengan apa yang kita sampaikan. Jangan bosan mengingatkan ya bu. (Ngomong sama kaca) J
Sumber: doc. pribadi 
Yang perlu dihindari, jangan memberi penjelasan yang menakutkan. Jika ada kejadian yang menurut dia seram, berikan pengertian bahwa kita bisa mencegahnya.

Misalnya, “Corona itu virus yang berbahaya lo mas, bisa bikin orang mati juga. Tapi, kita bisa mencegahnya, dengan makan makanan sehat, olahraga, dan pakai masker kalau keluar rumah”

Bukan

“Kalau keluar gak pake masker, mati lo mas”

Hehehehe…

2. Beri contoh

Monkey see monkey do. Begitu kira-kira istilah untuk menggambarkan cara belajar anak. Mereka adalah spons yang bisa menyerap habis informasi di sekitar. Baik ataupun buruk.
Sumber: doc. pribadi
Jadi, jika ingin anak mau menggunakan masker saat harus keluar rumah, berikan contoh juga. Dengan menggunakan masker saat keluar rumah. As simple as that.

3. Gunakan masker dengan motif lucu

Ini akan membuat anak senang memakai masker. Apalagi gambarnya sesuai dengan kesukaan mereka. Masker kain bisa dibuat sendiri. Sekarang juga sudah banyak yang menjual masker kain dengan motif lucu.

Seperti ini, kamu bisa beli dan lihat koleksi lainnya disini.

Sumber: doc. pribadi

Pemerintah memang menghimbau untuk menggunakan masker non medis. Selain karena masker medis mulai langka karena banyaknya permintaan, masker medis memang hanya untuk tenaga medis. Sehingga, tenaga medis tidak kekurangan masker saat menangani pasien yang terjangkit virus corona.


Pemerintah kemudian menghimbau masyarakat untuk memakai masker kain. Masker kain yang terbuat dari katun. Bisa dicuci ulang, sehingga lebih hemat.

Begini efektifitas masker kain untuk pencegahan penularan virus covid-19.

Sumber: twitter @ismailfahmi,  Founder Drone Emprit and Media Kernels Indonesia

Nah, untuk menggunakan masker ini juga ada tata caranya lo. Menurut laman resmi Gugus Tugas Perceatan Penanganan Covid-19, ada hal-hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan masker kain.
  • Sebelum memasang masker, cuci tangan pakai sabun dan air mengalir (minimal 20 detik) atau jika tidak tersedia, gunakan cairan pembersih tangan (minimal alkohol 60%)
  • Pasang masker menutup hidung, mulut sampai dagu, pastikan tidak ada sela antara wajah.
  • Jangan buka tutup masker. Jangan menyentuh masker. Jika memang harus menyentuh, cucilah tangan pakai sabun dan air mengalir terlebih dahulu.
  • Ganti masker yang basah dan lembab dengan masker baru. Masker kain dapat digunakan beberapa kali dengan mencucinya setelah pemakaian 4-6 jam.
  • Jika harus keluar rumah lebih dari waktu tersebut, bawalah masker tambahan sebagai pengganti.
  • Untuk membuka masker, lepas dari belakang. Jangan menyentuh bagian depan. Masker kain bisa langsung dicuci dengan detergen.
Nah, itu tadi pengalaman saya menyuruh anak pakai masker saat harus keluar rumah. Ada pengalaman lain tentang masker ini? sharing yuk…









Sumber:  
https://www.kompas.com/sains/read/2020/04/04/180200923/anak-anak-bisa-jadi-pembawa-corona-tanpa-gejala-ini-penjelasannya.
https://www.covid19.go.id/2020/04/02/ketahui-cara-tepat-menggunakan-masker/

Pengalaman Isolasi Mandiri Dan Pentingnya Social Distancing

2 komentar


Sepulang dari kantor, suami mengeluh badannya meriang. Sebelumnya, memang sudah batuk pilek.

“Badanku kok meriang ya” kata suami.

Saya kasih termometer. Hasilnya, 38 derajat celcius. Jantung saya sudah mau copot. Pandemi virus covid-19 ini membuat saya spaneng klo ada orang rumah yang sakit. Apalagi ciri-cirinya mirip gejala virus corona.

“Sesek gak?” tanya saya

“Gak, tapi kepala pening” jawabnya

Duh!

Saat itu juga, saya suruh suami tidur di kamar depan. Alat makan dan minum saya pisah. Jaga jarak sama anak-anak. Gak boleh dekat-dekat.

Besoknya, suami pergi ke rumah sakit. Tanpa saya temani, padahal, jalan sempoyongan. Gak mungkin juga saya temani karena anak-anak gak ada yang jaga. Mau dititipin ke siapa juga. Terpaksa, ke rumah sakit sendiri. Tiap menit saya wa nanya kabar.

Sampainya di IGD rumah sakit, langsung diperiksa dengan protap covid-19. Petugas berbaju APD lengkap. Cek Suhu badan, rontgen, dan ditanya tentang riwayat perjalanan.

Setelah selesai diperiksa, dokter memperlihatkan hasil rontgen. Ada sedikit flek di paru-paru. Suami memang punya riwayat bronchitis saat kecil. Tapi sudah sembuh. Sebulan lalu baru berhenti pakai vape.

Setelah rangkaian pemeriksaan selesai, dokter menuliskan resep. Parasetamol, obat sinus, obat batuk dan vitamin. Suruh istirahat dirumah. Jika dalam 3 hari belum membaik, cek ke dokter paru.

Setelah pulang, saya tetap memberlakukan aturan yang sama. Tidur terpisah, jangan dekat anak-anak. Untuk menghindari penularan. Meskipun dokter menyatakan, suami hanya sakit biasa. Sinusnya kambuh. Makanya demam disertai pening kepala. Yakan kalau anak ketularan batuk pilek, saya jadi pusing kuadrat.

Tiap malam, saya sering terbangun, seperti mendengar suara orang sesak nafas. Lalu pergi ke kamar depan buat cek kondisi suami. Tapi ternyata suami tidur pulas. Begitu seterusnya sampai kurang lebih seminggu. Saya terlalu parno untuk hal ini.

Alhamdulillah, setelah 3 hari istirahat di rumah dan mengkonsumsi obat, kondisinya mulai membaik. Batuk pilek mulai reda. Panasnya berangsur turun. Tapi tetap saya karantina.

Paling gak sampai 14 hari. Ya meskipun rumah saya gak sebesar punya mbak Nia Ramadhani ya buk, tapi tetap bisa jaga jarak. Anak-anak udah kebelet main sama ayahnya. Saya larang. Pintu kamar ditutup. Buka kalau mau makan atau ke kamar mandi. Anak-anak tetap dirumah, gak boleh main diluar.

Syukurlah, Setelah obat habis, suami sembuh. Sudah bisa beraktifitas kembali. Bermain sama anak-anak, dan bantuin saya nyuci hahaha.

Itu tadi cerita saya menerapkan isolasi mandiri saat suami sakit. Langkah ini sangat penting dilakukan untuk mencegah penularan. Memang suami saya tidak terjangkit virus corona. Tapi tetap saja, batuk atau flu bisa menular ke orang lain kan.

Jika kondisi tubuh sedang tidak baik, usahakan di rumah saja. Istirahat dan lakukan isolasi mandiri. Pantau sendiri kondisi kesehatan. WHO juga memberikan tata cara isolasi mandiri. Contohnya seperti infografis di bawah ini.
sumber: WHO
Inilah pentingnya melakukan social distancing. Untuk menjaga diri dari menularnya penyakit. Meskipun di rumah, saya juga menerakan social distancing saat suami sakit. Agar saya, dan anak-anak tidak ikut ambruk berjamaah.
__

Penerapan social distancing sangat penting. Terlebih di masa pandemik seperti saat ini. Social distancing sendiri berarti menjaga jarak aman dengan orang lain untuk menghindari tertularnya penyakit. WHO menyarankan untuk menjaga jarak dengan orang lain minimal 1-2 meter.

Melakukan social distancing bukan berearti memutus tali silaturahmi ya. Kita bisa menggunakan media lain untuk tetap keep in touch dengan orang-orang tersayang.


Barangkali ini juga yang menjadi alasan beberapa waktu lalu, WHO mengubah istilah social distancing menjadi physical distancing. Jadi, walaupun kita diminta untuk menjaga jarak, kita tidak sedang diminta untuk berhenti bersosialisasi dengan keluarga, teman atau kerabat secara sosial.

Kita bisa tetap berhubungan dengan mereka meskipun tanpa bertemu secara fisik. Caranya? Bisa video call, telepon, atau bertukar kabar via chat.

Apa manfaat social atau physical distancing?

Virus corona dapat menular lewat cairan. Menjaga jarak aman bisa mencegah penularan. Untuk menambah kewaspadaan, anggalah diri kalian sebagai carier virus. Ini akan membuat kita lebih berhati-hati saat harus berhubungan dengan orang lain.

Dengan terus konsisten melakukan social distancing, semakin ringan pula beban tenaga medis yang saat ini terus bekerja untuk menangani mereka yang sakit. Semoga, ikhtiar ini akan membuat kondisi normal kembali.

Bagaimana cara melakukan social distanding?

Sebaiknya, ikuti himbauan pemerintah untuk di rumah saja. Tapi, jika memang harus bekerja di luar, pastikan melindungi diri dengan baik.

Seperti, tidak bergerombol lebih dari 5 orang, tidak pergi ke kerumunan, menggunakan masker, dan menerakan hidup bersih. Mencuci tangan secara teratur setelah melakukan aktifitas diluar. Segera mandi sesaat setelah sampai di rumah. Jangan sentuh apapun di rumah, sebelum membersihkan diri.


Hindari berjabat tangan, cium pipi atau berpelukan saat bertemu dengan teman atau keluarga. Ini untuk mencegah virus menular. Siapa tahu, di tangan, pipi, baju atau benda-benda yang sering tersentuh tangan, kena cairan dari kita. Sebaiknya, hindari bersentuhan secara fisik.

Masih aman kan di rumah? atau ada yang lagi sakit? Semoga lekas sembuh ya….





6 Cara Efektif Cegah Virus Corona

2 komentar


Menurut laman resmi Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, jumlah pasien positif corona di Indonesia mencapai 7.775. Pasien sembuh terus meningkat di angka 960, melebihi pasien meninggal dunia dengan jumlah 647 orang.

Angka pasien positif corona diprediksi akan terus bertambah. Menyusul kebijakan pemerintah untuk terus melakukan rapid test di sejumlah daerah.

Di Tulungagung misalnya, kota kelahiran saya, satu persatu warga mulai terdeteksi positif corona. Ditambah lagi, para TKI dan TKW mulai berdatangkan. Pemerintah setempat sudah menyiapkan tempat isolasi para pendatang ini. Meskipun terbilang terlambat, tapi menurut saya ini langkah yang bagus agar masyarakat terus waspada ada penyebaran covid-19.

Berita tentang kota Tulungagung belakangan heboh karena masuk di akun lambe-lambe yang fenomenal itu. Di salah satu desa di Tulungagung, ada yang mengadakan acara tahlilan. Padahal, ternyata, anak dari orang tua yang meninggal itu positif corona. Tertular dokter yang menangani sang ayah. Artinya, ayahnya sebenarnya positif juga dong. Duh gusti…

Alhasil, seluruh warga yang menghadiri tahlilan melakukan isolasi. Kenapa oh kenapa. Hal seperti ini bisa terjadi. Bukankah sudah ada himbauan untuk tidak melakukan kegiatan lebih dari 5 orang?! kenapa masih ngotot dilakukan sih ya…..

Tapi barangkali dengan pengalaman ini masyarakat jadi lebih aware dengan kondisi sekitar. Lebih waspada dengan virus covid-19 ini.

Nah, masyarakat sebenarnya bisa turut serta aktif dalam menangani percepatan penanggulangan virus covid-19 ini. Caranya, dengan melakukan tindakan pencegahan. Ini yang saya lakukan.

1. Tingkatkan daya tahan tubuh

Meningkatkan daya tahan tubuh bisa dengan berbagai cara. Antara lain dengan mengkonsumsi vitamin, makan makanan bergizi, berolah raga, tidur cukup dan jangan lupa bahagia. Cara ini bisa meningkatkan daya tahan tubuh terhada virus. Seperti flu, demam atau virus covid-19.

Infografis: freepik
  • Vitamin

Jika tidak memungkinkan untuk membeli vitamin yang harganya mulai gak wajar, pakai cara alami. Saya mulai rutin mengkonsumsi ramuan ini. Seduh jahe, kunyit, kayu manis dan sereh, dengan air panas. Diamkan sampai hangat-hangat kuku dan siap minum. Bisa ditambahkan madu atau gula aren.  
Jika ingin praktis, bisa beli wedang uwuh via online. Harganya cukup terjangkau. Isinya, cengkeh, daun salam, jahe,  secang, dan gula batu. Dibungkus per satu sachet. Seduh dengan air panas, siap minum.

  • Makanan bergizi

foto: freepik
Sebenarnya dengan mengkonsumsi makanan lengkap gizi, tubuh tidak lagi membutuhkan vitamin tambahan. Perbanyak makan sayur dan buah sudah bisa memnuhi kebutuhan vitamin dalam tubuh. Tapi, tidak semua orang mampu mengkonsumsi sayur dan buah tiap hari sesuai porsi. Jika demikian, vitamin tambahan diperlukan untuk mencukui kebutuhan asupan dalam tubuh.

  • Olah raga

Lakukan olah raga ringan seperti jalan atau lari. Bisa dilakukan di sekitar rumah. Tetap jaga jarak dan gunakan masker. Bisa juga dengan push up dan sit up. Bisa dilakukan di rumah. Gerakan ringan yoga via youtube juga membantu tetap bugar meskipun #dirumahsaja.

  • Tidur cukup

Ini sebenarnya yang dibutuhkan suami. Tidur cukup sesuai jadwal metabolisme tubuh. Karena biasanya suami sering lembur. Jadwal tidur amburadul. Nah, mumpung lagi WFH nih, jadwal tidur musti diperbaiki lagi. Bisa dengan tidur siang, dan tidur malam pada waktunya.

  • Jangan lupa bahagia

Ingat di dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Setelah ikhtiar fisik, psikis juga perlu treatment. Bisa dengan melakukan hobi tapi tetap di rumah saja, video call dengan orang tua bagi yang merantau, mengkonsumsi berita-berita positif dari sumber terpercaya.


Selain cara di atas, WHO juga memberikan langkah antisipasi bagi masyarakat di tengah pandemi covid-19 ini. Langkah ini juga saya lakukan sekeluarga. Apa saja?

2. Cuci tangan secara teratur

Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir bisa membunuh virus yang mungkin berada di tangan. Setelah berbelanja ke tukang saur, sehabis memegang uang, setelah keluar rumah, atau menerima paket kiriman.
Foto: freepik
Saat berada di luar, dan tidak memungkinkan mencuci tangan dengan sabun, gunakan pembersih tangan berbahan alkohol.

3. Jaga jarak

Jika berada di tempat umum, jaga jarak kurang lebih 1 meter. Di tempat-tempat umum, sudah melakukan phisical distancing. Dengan memberikan tanda pada kursi tunggu. Biasanya, kursi tunggu diberi tanda silang, dengan jarak dua kursi kosong.
Foto: freepik


Mengapa? Karena untuk menghindari droplet yang keluar dari seseorang saat batuk, bersin, atau saat berbicara.

4. Jangan sentuh muka

Jangan menyentuh mata, hidung, atau mulut sebelum mencuci tangan dengan sabun. Kenapa? Karena ketiganya merupakan jalan masuk virus menuju ke tubuh. Pastikan tangan bersih jika mau menyentuh area wajah.

5. Kunjungi dokter

Jika merasa kurang sehat, tetaplah di rumah. Tinjau kondisi diri sendiri. Jika kondisi membaik, lakukan terus kebiasaan hidup sehat seperti di atas. Tapi, jika mengalami gejala seperti batuk, pilek, mudah lelah, dan sesak nafas, segera hubungi petugas kesehatan setempat.

6. Update informasi terkini di sekitar kita

Mengkonsumsi berita positif itu perlu. Tapi mengetahui update berita terkini seputar pandemi juga tak kalah penting. Pastikan berita berasal dari sumber yang kredible. Bisa dari situs resmi pemerintah atau who.

Gali juga informasi tentang perkembangan virus covid-19 di lingkungan sekitar. Agar, bisa terus waspada. Serta informasi tentang petugas medis terdekat jika mengalami gejala seperti di atas.

Yup itu tadi langkah pencegahan agar terhindar dari virus covid-19. Semoga, dengan langkah kecil yang kita buat, bisa turut serta menurunkan angka penyebaran. Sembari menunggu pembuatan anti virus selesai. Kapan? Saya juga gak tahu.

Jangan lupa berdoa, semoga semua terus diberi kesahatan untuk melakukan aktivitas sehari-hari. baik dirumah saja, atau yang terpaksa tetap bekerja. Mari saling menjaga, untuk kepentingan bersama.


Ada tips lain yang perlu ditambahkan?









sumber:
https://www.covid19.go.id/
https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/advice-for-public