17 Agustus dan Menumbuhkan Rasa Percaya Diri Anak

Tidak ada komentar
foto: Chat GPT



Mas: "Buk gimana caranya biar PD waktu presentasi"
Ibuk: "Kuasai materi, kamu tahu apa yang akan diomongin di depan, itu bakal nambah percaya diri"
Mas: "Iya juga sih"
Ibuk: "Menguasai materi itu bukan hafalan, tapi paham apa yang mau kamu sampaikan"
Mas: diem, manggut...
Transfer information done!

Obrolan itu muncul setelah si mas tanya kenapa saya ambil kuliah lagi, padahal sudah jadi ibu-ibu. Nanti lah mas ibuk ceritain alasan mendasar. Tapi untuk saat ini jawabanku hanya "Selama nafas masih di badan, ada kesempatan, belajar itu penting. Biar gak bodoh. Orang bodoh itu ngrepotin" jawabku sambil terkekeh.

Pertanyaan berlanjut kenapa saya mengambil jurusan komunikasi untuk studi kali ini. Jawabannya sangat personal "Biar bisa ngobrol enak sama kamu, soalnya susah banget ngobrol sama anak remaja, apalagi pas gak mood". Diapun tertawa mendengar jawaban 'sederhana' saya. 


Obrolan pun berlanjut seperti di atas. Mempertanyakan soal tips dan trik agar percaya diri ngomong di depan kelas saat presentasi. Pertanyaan itu muncul mungkin saking seringnya dia melihat saya ngomong sendiri di depan laptop buat persiapan presentasi. Lalu ngomel sendiri karena gak paham apa yang mau disampaikan.

Begitulah keseharian kami, gelut dengan pikiran sendiri, marah-marah sama diri sendiri, berakhir mumet. What a life!! haha..

Berbeda dengan adiknya, Inara, anak kedua saya juga punya krisis kepercayaan diri di usia 8 tahun. Tapi, kasus dia sedikit berbeda. Dia memilih untuk percaya diri pada hal yang memang disukai, bermain. Untuk urusan lain, entar dulu.

Kebetulan, di kompleks perumaham saya, sedang diadakan lomba 17 agustus. Biasanya lomba diadakan jauh sebelum perayaan karena banyaknya jenis lomba. Jadi pas hari H, panitia hanya membagikan hadiah untuk pemenang atau ada acara jalan sehat seperti tahun sebelumnya.


Seperti kebiasaan setiap tahun, anak-anak mengikuti kegiatan lomba. Ada balap sendok kelereng, memasukkan paku dalam botol dan lain lain. Hari itu, setibanya di rumah, Inara membawa kabar gembira.

Inara: "Buk aku menang lomba sendok kelereng, juara satu"
Ibuk: "Wow, keren dong"
Inara: "Iya, tadi aku sama bla... bla... bla....."
Dia bercerita, siapa saja lawan tandingnya, siapa anak yang tidak ikut beserta alasan kenapa mereka tidak hadir. Tak lupa kronologi kejadian bagaimana dia bisa memenangkan permainan. Nadanya bersemangat, sedikit pongah, dengan nafas terengah engah yang belum selesai.

Sayapun memperhatikan dengan seksama. Sudah tahu inti pembicaraan, jadi saya lebih suka memperhatikan mimik mukanya, matanya yang berbinar, sambi sesekali bilang, oh dan wow tanda saya paham dan mendengarkan dengan seksama. 

Diapun menyelesaiakan dongeng malam itu dengan, seperti biasa, "Oke aku main lagi ya, assalamualaikum". dan seperti biasa saya menjawabnya dengan waalaikumsalam sambil menghela nafas panjang. 'Ilang lagi tu anak' hehehe...


Begitulah tingkah anak-anak saya. Mereka bahagia menjalani fitrahnya sebagai anak-anak, bermain dan belajar. Dari bermain, saya justru melihat perkembangan akademik Inara lebih baik ketimbang kakaknya. Dia seringkali 'hilang' dari rumah buat main. Rasa percaya dirinya juga lebih baik. Meskipun kadang, ada hal-hal yang membuat dia minder. Ya wajar, namanya juga manusia, kadang di atas kadang di atasnya lagi. Hahay..

Ngobrol soal percaya diri, sayapun sedang belajar. Banyak peristiwa yang membuat saya benar-benar hilang rasa percaya diri, hingga di titik nadir. Saat itulah saya sadar bahwa saya harus bangkit lagi. Membangun lagi rasa percaya diri yang sudah runtuh itu. Mungkin tidak secepat orang-orang. Mungkin tidak sesempurna mereka-mereka itu. Tapi saya bersyukur bertemu dengan orang-orang baik, yang mengajarkan saya banyak hal.

Kuliah lagi salah satunya. Saya sendiri kaget ketika saya dengan lancar presentasi di depan kelas. Padahal gap year berada di lingkungan akademik itu sudah 10 tahun lebih. Tapi ternyata saya bisa bicara dengan lancar, tidak lagi gagu. Menjelaskan dengan runut, tidak lagi lompat-lompat. Dan semua itu diapresiasi di tempat yang tepat dengan waktu yang sempurna menurut Allah.

Kepercayaan diri itu muncul kembali, meskipun kecil tapi itu progres yang harus saya syukuri. Tidak mudah, sama sekali tidak mudah. Satu-satunya yang membuat saya percaya pada diri sendiri adalah faith, iman. Saya belajar khusnuzon sama Allah atas kesempatan hari-hari yang diberikan. Kebahagiaan sederhana yang dianugerahkan, dan langkah kecil yang dulunya terlihat mustahil.


Barangkali itu juga yang dirasakan anak-anak. Mereka punya rasa percaya diri, karena mereka percaya, ada tempat bertanya, ada rumah untuk kembali, ada orang yang selalu siap mendengar cerita dan keluh kesahnya di luar sana. Mereka percaya, ibunya tidak akan meninggalkannya, seburuk apapun kondisinya. Mereka percaya, ibunya akan sealu mendengar bahkan berita seburuk apapun.

Percaya diri muncul kadang bukan dari diri sendiri, tapi juga dari lingkungan mereka tumbuh, dari siapa saja orang yang mereka temui, dari guru yang baik, dan tentu saja dari Allah yang Maha Segalanya.

Bertumbuhlah dengan bahagia ya nak, ada ibu di sini. Percaya sama Allah, mari jalan bersama, bismillah....

Kamu bagaimana bu? sharing yuk..









Tidak ada komentar