Adek: "Buk mas sudah punya teman belum?"
Ibuk: "Ya masih adaptasi dek, mungkin belum kan masih
sehari"
Adek: "Ini sudah 2 hari lo buk"
Ibuk: "Ya namnya juga proses"
Adek: "Kayaknya mas belum punya temen, agak susah itu
buk"
Saya pun tertawa ngakak menanggapi kesimpulan lucu nan
jumawa dari sang adek. Obrolan itu muncul sesaat setelah saya dan adek melihat video
kiriman pondok tentang kegiatan santri hari itu. Video berdurasi tak lebih 2
menit itu sudah bisa membuat si adek mengambil kesimpulan bahwa kakaknya, tidak
memiliki teman.
Kesimpulan itu diambil saat dia melihat sang kakak berada di baris belakang. Seolah sendiri, tidak punya teman ngobrol. Posisi di pojokan dan tidak sedang berinteraksi itulah yang membuat adek mengambil hipotesa awal ‘mas gak punya teman’.
Baca Juga: Back Pain dan Olahraga untuk Ibu Rumah Tangga
Saya tidak heran melihat tingkah lucu itu, soalnya si adek boleh dibilang anak extrovert. Berulang kali saya memergoki dia mendapat teman baru di lokasi berbeda tiap kita keluar bareng. Playground salah satunya. Masnya juga mengamati hal tersebut. Adek selalu punya cerita baru dengan nama baru yang didapat dari pertemanan yang singkat di playground atau tempat umum lainnya.
Adek: “Namanya Ira buk”
Katanya sambal menunjuk anak yang baru saja bermain di
salah satu taman bermain.
Ibuk: “Oh, baru kenalan?”
Tanyaku seolah antusias dengan perilaku yang wajar itu
Adek: “iya”
Ibuk: “Kok bisa?”
Adek: “Tadi maen, dia suka itu, aku juga suka, terus
tak tanyain namanya”
Ibuk: “Sekolah dimana?”
Adik: “Nah itu yang gak tahu” sambal cengengesan.
Sebelumnya si mas juga notice kalau adeknya sudah
ngobrol dengan anak baru di playground.
Mas: “Lihat tu buk, adek udah dapet teman baru aja,
padahal baru sebentar”
Ibuk: “Ya bagus to”
Mas: “Ya gak secepat itu kan harusnya”
Ibuk: Ngakak.....
Dua anak beda kepribadian.
Si Adek, Inara adalah anak kedua saya. Dari kecil,
setiap pulang sekolah pertanyaan pertama selalu tentang teman sekolah, bermain
dengan siapa atau keseruan di tempatnya belajar. Hal serupa juga tak lakukan
dengan kakaknya, Zafran. Tapi ternyata dengan treatmen yang sama, hasilnya jauh
berbeda.
Baca Juga: Solitaire.org, Game Lawas yang Bikin Pengen Balik ke Masa Lalu
Zafran, membutuhkan waktu yang cukup lama untuk
beradaptasi di lingkungan baru. Kemampuan ‘grapyak’nya tidak secepat adiknya,
Inara. Sementara si kecil, punya kecenderungan lebih ramah dengan orang dan
lingkungan baru. Setiap hari, ada saja teman yang memanggilnya untuk bermain,
bahkan sampai larut malam.
Sebagai ibu, mengamati tumbuh kembang anak itu
menyenangkan. Seringkali kita atau saya saja barangkali, berusaha menjadi ibu
yang sempurna. Mempraktekkan segala yang ada di teori parenting, belajar banyak
hal tentang berkomunikasi dengan anak, memberi contoh yang baik, tapi respon
anak tidak sesuai dengan espektasi awal.
Dua anak saya memang telah dan sedang mengalami
kondisi yang berbeda dari kebanyakan keluarga normal. Tapi, sebagai ibu, saya
terus memastikan mereka tumbuh dengan baik. Dipenuhi kasih sayang, dan selalu punya
tempat pulang, selepas lelah di luar sana.
Anak-anak sudah mulai beranjak remaja. Kakaknya, kini
mengenyam pendidikan tingkat pertama di pondok Tebuireng Jombang. Sedangkan
adiknya masih kelas 3 SD. Meskipun berpisah jarak, keduanya masih menanyakan
satu sama lain pas waktunya telpon rutin tiap minggu.
Bersenang-senanglah nak, waktu masih panjang. Kita
nikmati hari-hari yang diberikan Allah dengan senang belajar, apapun dan dimanapun.
Semoga Allah selalu melindungimu nak, kita sama-sama berjuang ya, mencintai
ilmu.
Ibu-ibu punya cerita serupa?

Tidak ada komentar