Pertolongan Pertama Saat Anak Kejang Demam

by - Desember 05, 2019


Ini adalah cerita pengalaman pertama saya menangani anak kejang demam. 

Jangan panik!. Begitu biasanya langkah pertama menangani anak kejang demam yang saya baca di beberapa artikel kesehatan. Orang dulu biasa menyebutnya dengan setep. Tapi, apa bisa? Terlebih ini peristiwa pertama.

Tepatnya satu tahun lalu, saat usia Inara, anak kedua saya, belum genap berusia setahun.

Malam sebelum peristiwa kejang, badan Inara panas. Tapi tidak masuk kategori tinggi. Sekitar 37,8°C. Biasanya, jika anak tidak rewel, saya biarkan dia melawan panas, sembari saya gendong atau kompres agar anak nyaman. Alhamdulillah paginya, panas mulai turun sendiri.

Saya pikir saat itu kondisinya sudah membaik. Karena suhu sudah normal, anaknya juga sudah aktif. Berlarian kesana kemari. Tapi ternyata anggapan itu salah. Suhu tubuhnya kembali naik.

Saat itu, kakaknya, minta dijemput di sekolahan. Biasanya, mas Zafran diantar pulang sama yang biasa jemput. Tapi hari itu, dia minta dijemput ibunya. Lagi kangen mungkin. Karena sejak punya adik bayi, saya membayar jasa jemput untuk mas Zafran sekolah.

Pukul 11 kurang, saya berangkat. Siang itu udara lagi panas panasnya. Inara saya gendong depan. Saat menunggu masnya pulang, Inara tertidur. Saya pegang badannya panas. Tapi menurut saya gak terlalu tinggi. Jangan ditiru, aksi kira-kira ini berakibat fatal.

Nah, Setelah sampai di rumah, dia bangun. Langsung saya kasih ASI. Tak lama kemudian, seperti ada kejutan listrik di payudara saya. Jedut! Saya pikir, Inara keselek ASI. Setelah saya perhatikan, dia kejang. Kedua tangannya mengepal. Bola mata hitamnya naik ke atas. Mulutnya terbuka. Tubuhnya kejang. Seperti kesulitan bernafas. PANIK!. Tapi saya bersyukur masih ingat satu hal.

Lihat jam!!! Untuk memastikan dia tidak kejang lebih dari 5 menit. Karena, jika lebih dari itu, berpotensi terjadi kerusakan otak. Tubuhnya saya miringkan, karena saat itu, dia sedang menyusu, takut kesedak. Tapi kejang terus berlanjut. Saya dekap dan gendong. Badanya saya balik dan tepuk-tepuk punggungnya, agar sadar dan bisa bernafas. BERHASIL. Inara tidak lagi kejang. Tapi belum menangis. Tubuhnya lemas, matanya merem. Saya MULAI HEBOH!!.

“Dek, bangun dek!! Inara, bangun dek!!”

Anaknya bergeming. Matanya masih merem.

Saya lari ke tetangga buat antar ke puskesmas terdekat. Beruntung ada tetangga sebelah yang bisa antar. Naik motor dengan kecepatan super. Saat perjalanan ke puskesmas, mata Inara tetap merem!. Saya pegang nadi lehernya masih berdenyut. Untung saya gak ikut pingsan.

Sesampainya di IGD puskesmas, Inara langsung diberi obat penurun panas via dubur. Setelah diukur, suhu badannya mencapai 39°C. itu setelah diberi obat tadi. Dokter jaga menduga, suhu badan Inara lebih dari 40°C saat kejang.

Setelah itu, Inara mulai sadar. Matanya sudah melek. Keluar BAB warna hijau. Sudah bisa eye contact. Saya berulang kali menanyakan pada dokter jaga apakah Inara sudah sadar. Dokter bilang sudah.

Tapi saya baru bisa lega setelah Inara bisa tepuk tangan saat digodai suster. Tak pernah saya sebahagia ini lihat anak tepuk tangan ya Allah…

Lega……. Rasanya. Untung belum terlambat.

Besoknya, saya langsung membawa Inara ke dokter spesialis anak untuk mengecek kondisi Inara, sekaligus membuat rekam medis. Saat itu, suhu tubuh Inara sudah normal.

Begini penjelasan dr. Fauzin, Sp.A dari RS Mitra Keluarga Waru, Sidoarjo.

Kondisi Inara sudah pulih. Dokter menyarankan untuk sedia obat panas, jika sewaktu waktu suhu tubuhnya naik lagi. Tidak usah menunggu sampai tinggi. Karena sudah punya riwayat kejang.

Kedua, anak demam kemudian kejang itu tidak apa-apa. artinya, bukan hal yang membahayakan, jika ditangani dengan baik. Yang berbahaya justru, anak tidak demam, tapi kejang.

Ketiga, suhu tubuh anak kejang, biasanya langsung tinggi. Tidak naik pelan-pelan. Kalau suhu tubuhnya naik pelan-pelan, potensi kejang lebih sedikit. Tapi, karena sudah punya riwayat kejang, saya disuruh waspada, karena sewaktu-waktu, bisa saja mengalami kejang kembali.

Saya pulang dengan perasaan lega. Meskipun masih tetap was was jika terjadi kembali.

Pengalaman menangani kejang demam saya dapat dari Ibu saya.

Dua adik perempuan saya punya riwayat kejang demam. Jadi, saya seperti sudah terbiasa melihat ibu saya memberikan pertolongan pertama saat adik saya kejang. Waktu itu, adik saya usia sekitar 2 tahunan. Usianya memang terpaut jauh dengan saya. saya sudah SMA. Saat adik kejang, ibu biasanya langsung membuka baju adik saya, tubuhnya dibalur minyak telon, sambil ditengkurapkan, sampai anaknya sadar dan menangis. Kalau tak menangis juga, biasanya telapak kaki adik saya dislethik (disentil) sampai nangis. Karena kalau sudah menangis, berarti dia sudah sadar dan bisa bernafas normal.

Begitu cara ibu saya memberikan pertolongan pertama. setelah sadar, baru dibawa ke dokter.
Saya tak pernah menduga, kejadian itu bakal menurun ke anak saya. Saya pikir, anak ASI eksklusif, bakal terhindar dari kejang demam. Tapi ternyata anggapan saya salah. Anak kedua saya, juga mengalami hal yang sama.

Untuk mendapat informasi seputar kejang demam, saya rekomendasikan blognya dokter Apin. Di sana ditulis lengkap penanganan pertama anak kejang demam. Sila googling J

Kalau buibu, anaknya pernah kena kejang demam? Sharing yuk…





You May Also Like

4 comments

  1. Anak saya juga barusan kejang demam senin lalu. Ngeri banget liat kondisinya waktu kejang itu, bener-bener ga connect sama sekali ����

    Akhirnya opname soalnya nggak bisa makan/minum.

    Sekarang masih recovery, jadi belum seaktif dulu.

    Pelajarannya ternyata sedia paracetamol untuk pertolongan pertama itu penting.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ngeri banget mas, biasanya sedia obat panas via dubur juga dirumah. aku lupa nulisinya hehe... semoga cepet pulih si kecil :-)

      Hapus
  2. Anak saya juga dulu pernah kejang demam. Adik saya juga. Kata dokter sih, bakat kejang bisa diturunkan. Kalo kejang demam dibawa ke RS, dokter pasti tanya, ada riwayat keluarga ga? Kami smp sedia stesolid, obat kejang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak hani, kejang memang bisa diturunkan. kalau anakku dulu di sangoni juga obat kejang pas cek ke dokter. alhamdulillah gak sampai kepake sampai sekrang.

      Hapus