Tips Komunikasi dengan pasangan

6 komentar

Tulisan ini awalnya mau ngomongin tentang tips ngobrol sama suami. Setelah dipikir pikir, kok kayaknya, istri aja ya yang berjuang buat komunikasi. Padahal, makna komunikasi itu kan dua arah. Jadi dua-duanya musti ada usaha untuk menyamakan frekwensi. Biar apa? ya biar yang ingin disampaikan bisa dipahami lawan bicara. Baik suami atau istri. Jadi, setelah selesai beberapa paragraf nulis ini, saya ubahlah jadi, komunikasi dengan pasangan. Keknya lebih oke.

Sebelumnya, saya juga mau disclaimer dulu. Saya ibu rumah tangga nyambi olshop dan ngeblog.


Suami saya pekerja kantoran. Latar belakang ini perlu saya sampaikan lebih dulu. Karena, beda peran, pasti tipsnya juga gak sama. Misalnya, jika suami dan istri sama-sama bekerja diluar.

Tapi pada setuju dong buibu atau pak bapak, kalau komunikasi itu penting banget. Apalagi yang sudah berkeluarga dan punya anak. Jangan sampai karena kesibukan masing-masing, komunikasi hanya dilakukan dengan mata batin. Seperti, “mustinya ngertilah”, “harusnya sudah tahulah” atau, trawangan lain yang bisa dipastikan banyak miss-nya daripada benernya.

By the way, meskipun tulisan ini dibuat oleh istri, yaitu saya, tapi semoga juga bisa mewakili hati bapak-bapak untuk berkomunikasi dengan istrinya. Intinya sama kok, kerjasama kedua belah pihak untuk saling mengerti dalam menyampaikan sesuatu.

Sebelum lanjut ke tipsnya, saya mau curhat dikit boleh dong buibu.

Jadi begini…

Ngobrol dengan suami itu susah susah gampang. Mungkin ini juga yang dirasakan suami waktu ngobrol sama saya, istri tercintanya. Susah susah sulit hehehe. Ada saja yang bikin gak klop atau bahkan berujung pada debat kusir. Bukannya menyampaikan uneg-uneg, eh malah dapat masalah baru. Duh!

Ternyata, ‘Isi’ kepala antara laki-laki dan perempuan memang beda. Laki-laki lebih menggunakan logika sedang perempuan pake perasaan. Tentu, ini ngaruh ke model komunikasi keduanya.

Suami saya misalnya, suka to the point, gak bertele-tele, langsung ke pokok masalah. Sedangkan saya, biasanya musti ada muqoddimah dulu bareng sejam dua jam, lalu inti, dilanjut penutup wkwkwk. Dikira pidato.

Semakin kesini, saya pikir, kita butuh solusi. Supaya komunikasi tetap berjalan dengan baik. Apa yang disampaikan, bisa difahami bersama. Tak ada yang merasa tidak didengarkan, atau merasa superior dari yang lain. Perasaan-perasaaan semacam ini juga berpengaruh pada proses komunikasi yang ingin dibangun.

Lalu, apa saja yang musti diperhatikan saat mau berkomunikasi dengan pasangan (suami atau istri)

1. Berbeda

Sadari dari awal, bahwa otak perempuan dan laki-laki itu berbeda. Ini akan mengurangi anggapan bahwa ‘saya paling benar’ atau ‘kamu pasti salah’ dalam sebuah komunikasi. Karena suami itu unik, demikian juga istri. Perbedaan ini given, bukan yang dibuat buat. Jadi, pastikan saling mengisi, memahami bukan menghakimi.

foto: google

Memahami bahwa kita berbeda ini juga bisa menipiskan superioritas. Jangan pernah beranggapan bahwa ‘saya paling berjasa’ atau ‘kamu tak berkontribusi apapun’. Ini sungguh akan membuat komunikasi sia-sia belaka. Sekeras apapun mencoba, hasilnya nihil. Karena komunikasi dengan pasangan bukan soal siapa yang menguasai podium atau bagian tepuk tangan. Ini soal menyamakan persepsi, menyampaikan rasa, lebih jauh, menyelesaikan masalah, jika ada.

2. Dengarkan

Mendengar adalah koentji. Dalam status hubungan apapun, mau mendengar itu penting. Tanpa ada niat untuk interupsi atau menjawab. Iya, hanya dengan mendengar. Give him or her attention. It means alot.

3. Suasana

Untuk membangun komunikasi yang baik tentu diperlukan waktu dan suasana yang pas. Tidak perlu harus ke alam terbuka dengan dua kursi taman, sambil minum teh hangat. Ya kalau bisa sih gak papa. Tapi, di meja makan juga oke. Atau pas lagi masak, lalu ngobrol tentang anak atau kerjaan asik juga. Yang pasti, buibu sendiri yang tahu kapan waktu yang pas buat ngobrol tentang sesuatu. Keluh kesah pekerjaan rumah, tentang anak, pekerjaan, dan seabrek to do list yang musti dikomunikasikan dengan pasangan.

Lihat juga mimik muka pasangan, kalau memang sedang tidak mood buat ngobrol suatu tema, bisa di switch dengan tema lain atau akhiri saja perbincangan. Ganti dengan joke-joke ala bapak-bapak atau obrolan ringan lainnya. Kek gini wkwkwkwk


4. Distraksi

Hindari ngobrol sambil nonton tv atau pegang hp. Singkirkan semua yang berpotensi mendistraksi komunikasi. Fokus pada pasangan. Bahasa tubuh juga sangat berpengaruh, apakah komunikasi ini akan berjalan lancar atau tidak. Seperti, sambil nyender di pundak suami, pegang tangan atau tatap matanya saat ngobrol. Duh, jadi pengen hihihihi.

5. No texting
brillio.net
Hindari ngobrol serius via text. Wa, line, sms atau apapun berupa tulisan. Karena salah tanda baca, bisa berakhir bencana. Salah nempatin titik sama koma aja bisa beda arti. Meskipun sekarang sudah tersedia berbagai macam emoticon. Itu tidak bisa menggantikan senyum tulus, ngakak wekaweka atau bahkan derai air mata. Usahakan bertatap muka. Sekesel apapun kita. Semakin cepat diobrolin semakin baik. Daripada dipendem bakal jadi penyakit. 

Ngobrol via text bisa dipake buat “pak, nitip nasi goreng ya, pedes karet dua” atau “are u oke?” kalau bapaknya udah ngeluh gak enak badan sejak mau berangkat ngantor atau istri lagi mens hari pertama. Rasanya nyes bu, pak. Atau kata-kata so sweet seperti “buk, aku pulang cepet, ada maem dirumah?” (ini sweetnya dimana ya wkwkwk).

Dari kelima tips tadi, mana yang paling susah bu? eh digantilah pertanyaannya. Mana yang paling mudah?. Lakukan. Siapa dulu? Kamu. lalu? Kamu. trus? Ya kamu. siapa lagi ah elah. Siapapun yang membaca ini suami atau istri, atau yang mau jadi suami atau istri, mulailah dari diri sendiri. Hindari berpikir ‘saya paling banyak berusaha’ atau ‘kamu tidak melakukan apa-apa’. Perasaan seperti ini, percaya deh, gak akan membawa kita kemana mana kecuali bencana yang lebih besar.

In relationship, when communication starts to fade, everything else follows.

Buat buibu atau pak bapak yang lagi berusaha untuk memperbaiki model komunikasi atau yang sedang bermasalah dengan komunikasi dengan pasangan, semangat ya. Karena ini bukan lagi tentang aku kamu, ini tentang kita.
Share yuk pengalaman komunikasi sama istri atau suami.


Salam,











pentingnya asuransi jiwa untuk masa depan keluarga

2 komentar

Pagi itu, Bapak meninggal. Tak ada firasat apapun. 
"Pulango, Bapak kangen" begitu suara di ujung telepon
"Iya" dan telepon ditutup tanpa ada keterangan apapun
Di perjalanan, rasanya campur aduk. Jember-Tulungagung, 8 jam perjalanan. Sampai dirumah, Bapak sudah dimakamkan. Badan rasanya lemas tak bertulang. 

Saat itu saya masih semester 4 di salah satu perguruan tinggi di Jember. Adik saya, baru menginjak semester satu. Dua sisanya masih SD dan balita. Shock, pasti. Meskipun saya tahu Bapak mungkin gak bertahan lama dengan diagnosis kanker otak stadium 4. Setahun berjuang, akhirnya Allah lebih sayang.

Sepeninggal Bapak, ekonomi keluarga kocar kacir. Memang Bapak bukan satu satunya pencari nafkah saat itu. Tapi, selama ini income terbesar ya dari Bapak. Ibu saya juga bekerja. Sebagai guru TK sebuah yayasan. Bapak, wiraswasta di bidang konveksi. Selama sakit, praktis Ibu tak bekerja. Mengandalkan tabungan dan beberapa aset tanah hasil usaha. Habis. Uang tabungan tak tersisa.

Ibu saya meneruskan usaha konveksi Bapak. Bedanya, kalau dulu produksi sendiri, sekarang jadi buruh konveksi. Ambil potongan kain dari juragan konveksi, lalu disebar ke penjahit yang masih tersisa. Kalau ingat masa itu, gila. Ibu saya memang punya tenaga kuda.

Adik saya hampir putus kuliah. Saya?! kuliah nyambi kerja. Dari jadi sales promotion girl, guru les privat, sampai ikut proyek dosen. Lumayan, bisa buat bertahan hidup plus dikit-dikit bantu biaya adik kuliah. Alhamdulillah saya dapat beasiswa. Meskipun tak banyak, tapi sangat membantu. Paling gak, saya bisa menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Kuliah.

Selepas kuliah, saya bekerja di salah satu stasiun tv swasta di Surabaya. Singkat cerita, setelah menikah dan memiliki anak, saya memutuskan untuk berhenti bekerja. Praktis, semua biaya ditanggung suami. Berkaca dari kejadian di atas, saya mulai belajar mengatur keuangan rumah tangga. Salah satunya dengan menyisihkan sebagian income untuk asuransi jiwa.

Andai saja, dulu bapak sudah kenal asuransi jiwa, mungkin bisa beda cerita. Tapi, ini sungguh pengalaman berharga buat saya. Menyiapkan asuransi jiwa untuk mengalihkan resiko. Plan unplan.

Sayapun mulai belajar serius tentang asuransi. Karena sampai saat ini bahkan masih beredar mitos tentang asuransi jiwa. Seperti, memiliki asuransi jiwa seperti membuang uang percuma. Terus, budaya masyarakat Indonesia juga masih punya pegaruh kuat terhadap keputusan memiliki asuransi jiwa. Apalagi di pedesaan. Misalnya, jika ada orang yang meninggal, maka, seluruh tetangga dan handai taulan akan bergotong royong membantu. Ini berlaku sebaliknya. Jika ada orang lain yang meninggal, praktik ‘balas budi’ masih sering ditemui. Bahkan, di Bali, upacara Ngaben, masyarakat punya sistem sendiri untuk membiayai. Selain itu, tingkat literasi masyarakat Indonesia tentang keuangan juga cukup rendah.

Tiga alasan ini cukup kuat mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap asuransi jiwa. Otoritas Jasa Keuangan atau OJK, bahkan mencatat penetrasi industry asuransi hingga akhir kuartal III-2016 baru 2.63%. Angka ini menempatkan Indonesia di posisi 4 di bawah Singapura, Malaysia dan Thailand.

Padahal, asuransi jiwa ini sangat penting. Apalagi kalau sudah bekerja, dan memiliki tanggungan. Asuransi jiwa punya pengaruh terhadap kesejahteraan hidup anak-anak dan istri yang ditinggalkan, jika terjadi resiko kematian. Kondisi ini tidak hanya berdampak secara psikologis karena kehilangan orang yang dicintai, tapi juga bisa mengakibatkan kerugian finansial. Dana pendidikan untuk anak-anak yang ditinggalkan bisa kocar kacir. Belum lagi, kebutuhan sehari hari seperti makan dan tagihan bulanan.

Saya tak mau itu terjadi pada saya dan anak-anak. Meskipun saat ini saya juga bekerja dari rumah dengan bisnis baju online shop. Tapi tetap, income terbesar dari suami saya. Jadi, suami musti punya asuransi jiwa. Tentu produk asuransi jiwa yang terpercaya dan memiliki track record terbaik.



PT Asuransi Jiwa Sequis Life (Sequis Life) bisa menjadi pilihan tepat. Asuransi jiwa ini memiliki 4 pilihan produk antara lain:

1. Whole Life
Asuransi Whole Life memberikan perlindungan seumur hidup. Seumur hidup disini maksudnya sampai usia 100 tahun.  

2. Endowment
Asuransi ini disebut juga asuransi Dwiguna. Karena memiliki dua fungsi. Pertama, sebagai asuransi jiwa. Kedua, sebagai tabungan.

3. Term Life
Asuransi Term Life termasuk asuransi jiwa berjangka. Untuk level term life, artinya perlindungan yang diberikan punya jangka waktu tertentu. Mulai dari 5-20 tahun.

4. Accident & TDP (Total Permanent Dissability)
Asuransi jenis ini memberikan perlindungan jika terjadi kecelakaan, baik meninggal atau cacat tetap.

Keempat jenis asuransi ini memiliki produk asuransi lagi. Bisa dilihat di infografis berikut ini.


Lalu, mana produk asuransi Jiwa dari Sequis Life yang dipilih?. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan untuk memilih jenis asuransi jiwa dari Sequis Life. Pertimbangan ini sebenarnya juga bisa dipakai untuk memilih asuransi jenis lain. Seperti asuransi kesehatan atau pendidikan. Pada prinsipnya ada tiga. Apa saja?! Tuh, ada di infografis di bawah ini :-)

Kenapa ketiganya berpengaruh pada pilihan produk asuransi jiwa atau asuransi lainnya? begini critanya. 

1. Usia 

Usia ini sangat berpengaruh pada produk yang akan dipilih. Karena jangka waktu pertanggungan dihitung dari saat usia mendaftar. Menurut saya, semakin cepat makin baik, karena semakin muda usia, premi yang dibayarkan lebih murah. Ditambah lagi, belum banyak tanggungan yang menjadi beban cashflow. Jadi, biaya premi masih ringan.

2. Besaran Premi

Tiap produk memiliki setoran premi asuransi yang berbeda. Tentunya, harus disesuaikan dengan kemampuan kita. Jangan sampai merusak cashflow bulanan. Pilih yang sesuai dengan kemampuan kita membayar. Ingat, semakin muda merencanakan, semakin ringan biaya.

3. Jenis Pekerjaan

Beda pekerjaan, tentu beda resikonya. Misalnya, pekerja lapangan biasanya memiliki tingkat resiko lebih tinggi dari pekerja kantoran. Jadi, sesuaikan resiko kerja dengan pilihan asuransi jiwa yang sesuai ya.

“Terus, kenapa memilih Sequis Life?” netizen terus bertanya. Saya dengan senang hati menjawab.  


Begini penjelasanya :

1. Terpercaya

Sequis life terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan Nomor Izin Usaha Kep-106/KM.13/1992. OJK ini adalah lembaga pengawas industri jasa keuangan terpercaya. Jadi, lembaga yang telah terdaftar di OJK mendapat pengawasan, pengaturan dan perlindungan langsung dari OJK. Tentu untuk kenyamanan dan keamanan konsumen dan massyarakat.

Sequis life juga memiliki asset sebesar Rp. 18,4 trilliun, lebih dari 410.000 jumlah polis serta didukung lebih dari 15.000 tenaga pemasaran professional. Hal ini bisa menjadi bukti kepercayaan masyarakat untuk pengelolaan keuangan bersama Sequis Life.

2. Rekanan Rumah Sakit

Sequis Life memiliki 2252 rekanan rumah sakit yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu juga ada rekanan rumah sakit yang ada di Malaysia dan Singapura. Untuk mengetahui detail lokasi rumah sakit yang terdekat, kalian bisa menggunakan tombol search lokasi rumah sakit rekanan yang tersedia di web Sequis Life. Mudah bukan.

3. Penghargaan

Sequis Life telah mengatongi 22 penghargaan untuk Sequiz Life dan 5 penghargaan untuk Sequis Finance. Terbaru, Sequis Life meraih predikat “Asuransi Nasional Terbaik 2019” kategori Asuransi Jiwa Aset di atas Rp. 10-25 trilliun versi Majalah Investor. Ini menjadi bukti, bahwa produk Sequis Life sudah mendapat kepercayaan nasabah lewat produk-produk yang dimiliki. Keren.

4. Proses klaim mudah

Selain melalui agen, proses klaim Sequis Life bisa menggunakan e-Claim. Menurut web resmi Sequis Life, Fasilitas ini digunakan untuk klaim kesehatan dengan menggunakan media elektronik. Seperti e-mail, WhatsApp dan Line. Caranya sangat mudah, hanya dengan mengirimkan foto dokumen klaim melalui media elektronik tersebut atau email resmi Sequis Life.

Kesadaran untuk menata hidup lebih baik musti diusahakan. Tidak ada yang tahu, apa yang akan terjadi besok, lusa, atau setahun kedepan. Persiapankan dengan matang, meskipun, saya jelas tak tahu kapan musibah datang. Yang pasti, siap hari ini, akan membawa dampak signifikan untuk sesuatu diluar kendali pikiran. 

Asuransi jiwa menjadi kebutuhan wajib perencanaan keuangan. Kematian Bapak dan segala drama setelahnya membuat saya belajar banyak. Jika sudah sedia payung, kapanpun hujan datang, tak akan basah kuyup kedinginan. Memulai sejak dini, mempermudah perencanaan keuangan hingga 100 tahun kedepan. Squis Life, For Better Tomorrow.



Tips Membagi Waktu Ala Ibu Rumah Tangga

13 komentar


Menjadi ibu rumah tangga tanpa asisten rumah tangga itu lucu lo. Iya, lucu nan menggemaskan. Pekerjaan tak pernah habis dimakan waktu. 24 jam sehari berasa kurang untuk membereskan printilan rumah. Kayak laundry yang punya tag line never ending story hahaha. 

Tapi ya begitulah resikonya. Memilih menjadi ibu rumah tangga atau ibu bekerja, semua punya masalah masing-masing. Trus apa bedanya?! Cara menghadapi.

Ada yang spaneng, stress, tapi yang bahagia juga banyak. Kayak saya wkwkwkw.

Pekerjaan yang tidak ada habisnya ini membuat saya harus berpikir lagi. Gimana caranya biar semua bisa dikerjakan dengan baik dan benar tanpa embel-embel stress. 

Ya, tentu, mengerjakan semua sendiri pasti menyisakan stress. Tapi sekali lagi, saya musti belajar cara menghadapi. Bukan membiarkannya berlarut dan ambyar semua.

By the way, saya ibu dua orang anak. Si sulung mau masuk SD tahun depan. Adiknya, baru 1,5 tahun. Selain sibuk ngurusin rumah, saya juga punya online shop baju anak. Zhaf.kids namanya. Kalau mau lihat koleksinya ada disini. Zhaf.kids. Produsen baju anak.

Selain itu, beberapa bulan terakhir saya mulai aktif menulis di blog. Ikut grup blogger, dan pernah diundang partnership dengan @Theurbanmama untuk event Johnson and Johnson di Surabaya. 


Sibuk banget ya saya hahaha. Bukan bu, bukan saya greedy maunya ini itu. Ini adalah salah satu cara saya menyeimbangkan mood sebagai ibu rumah tangga. Saya musti punya kesibukan lain. Tentu sesuai passion. Biar ngelakuinya juga enjoy.

Dulu, pernah mencoba beberapa tips membagi waktu ala ibu rumah tangga. Saya modifikasi sendiri sesuai ritme ‘kerja’ saya. Tapi hasilnya tetap saja amburadul. 

Kali ini, saya utek-utek lagi pembagian waktunya. Dan masih bertahan sampai sekarang. Apa saja? yuk simak.

1. Goal

Apa sih yang ingin buibu capai sebagai ibu rumah tangga?! Bisa berkarir dari rumah?! Aktualisasi diri dengan hobi?! Melihat anak tumbuh dengan baik?! Rumah tertata dengan nyaman?! 

Tak ada goal yang terlalu rendah atau ketinggian. It’s your life!. Membuat rumah menjadi tertata, sama ambisiusnya dengan membangun seribu candi. 

Jadi, jangan terpaku dengan goal orang lain. Karena ritme hidup dan kondisi orang berbeda beda. Tentu resikonya juga gak sama.


Buat saya, harus ada trigger tertentu biar tetap semangat melakukan bagi-bagi waktu ini. Semangat untuk berubah. Lah, memang dulu gak punya kemauan. Iya punya sih, cuma agak memble. Masih sering tar sok tar sok. 

Untuk kali ini saya bener-bener semangat membuat goal sendiri. Karena ini bukan untuk saya saja. Tapi seluruh penghuni rumah. Kan kalau istri bahagia nan sejahtera, seluruh penghuni rumah bisa dipastikan ketularan indahnya. Ye kan.

Kalau saya, deep down inside nih, pengen bekerja lagi sih bu. Tapi tetep bisa jagain bocah-bocah. Jadi, bekerja dari rumah memang pilihan paling masuk akal saat ini. makanya, pembagian waktu musti jelas, karena mood ibu bekerja dirumah itu sering ‘cek cok’ sama kondisi rumah.

2. Buat Jadwal Harian

Ini sebenernya yang susah susah sulit. Jadwal kegiatan untuk ibu rumah tangga itu hampir mustahil terwujud beberapa tahun lalu. 

Kenapa?! karena selalu ada ‘kejutan’ tiap harinya. Anak sakit, suami tugas luar kota, saya lagi mens, macem-macem. Ini mempengaruhi mood ibuk buat menjalankan jadwal yang sudah direncanakan.

Kalau saya ni ya bu. Pagi subuh mandi. Shalat, lanjut masak buat sarapan orang sekampung. Gak ya, buat anak dan bapak yang mau berangkat sekolah atau kerja.

Pekerjaan nyuci, nyiram taneman, beresin kamar dan mainan, nyapu rumah dll harus sudah selesai di angka 9 pagi. Selanjutnya, saya harus sudah nyalakan laptop untuk kerja, kerja, kerja.

Siang saat bocah pulang, biasanya nyiapin makan siang sambil ngajak ngobrol dan main sana sini. Oiya, saya juga bikin mainan dari kardus buat mas Zafran, anak pertama saya. Selain hemat, juga banyak manfaatnya. 


Saat bocah sudah tidur siang, ibuknya kadang ikut tidur, kadang kembali ke laptop.
Sore, kadang kalau masih sempet masak buat makan malam, kalau tak sempet ya beli. Don’t push your limit J

Malam harinya, saya gunakan sebebas bebasnya. Mau gegoleran asik, baca buku juga ayok. Malam adalah waktu istirahat paling menyenangkan buat saya. Apalagi kalau anak-anak sudah merem. Saya bisa lanjutkan pekerjaan main HP hahaha.

3. Meja kerja

Karena saya jualan online dan ngeblog, laptop harus ready to use tiap saat. Membuat meja kerja atau menata salah satu sudut ruangan menjadi tempat kerja itu berpengaruh di mood. Pikiran saya seperti tiba-tiba fokus di laptop dengan apa yang saya kerjakan. 

Tak perlu mahal menyiapkan itu semua. Saya bahkan pakai meja setrikaan untuk meletakkan laptop. Depan meja saya kasih sticky note tentang rencana kerja yang sudah dibikin. Atau deadline lomba-lomba menulis yang bersliweran di ig. It feels like office, unofficially

Yakan kalau sudah punya semangat membara, dimanapun tempatnya, hajar!

4. Susun skala prioritas

Skala prioritas saya dari melek adalah masak buat sarapan. Lalu jualan dan nulis. Tiga hal ini harus dilakukan setiap hari. Jika tidak, maka hari berikutnya akan banyak excuse yang keluar dari dalam diri sendiri. Entarlah, besoklah, dan sampai lebaran monyet, itu gak bakal berhenti. No excuse.

Jika perlu, buibu bisa bikin skala prioritas sendiri dan masukkan dalam table-tabel lucu biar semangat. Bikin sesuai ritme harian. 


Kerjakan yang menjadi prioritas utama, tapi tak lupa mengerjakan prioritas selanjutnya. Misalnya, masak adalah prioritas utama. Dapur bersih, masuk ke prioritas sekian. Jadi habis masak, kalau memang tak sempat beberes dapur, saya skip dulu.

5. Gadget time

Ini kenapa saya lebih suka nulis dan beresin online shop pakai laptop. Karena kalau sudah pegang hp, saya bakal lebih lama scroll Instagram dan facebook daripada promo produk. Duh!. Makanya, gadget time ini biasanya saya lakukan pas anak tidur siang atau malem hari, kalau saya tak ikut tidur hehe... 

Tapi kalau ada orderan olshop. Mau tak mau pegang hp dong.  Buibu juga bisa menetapkan gadget time sendiri di rumah. Intinya, jangan sampai mengganggu produktifitas kerja. Set your time wisely.

6. Minta bantuan

Jika sudah tak sanggup, lambaikan tangan ke kamera atau pasang white flag di kening hehehe. Mintalah bantuan pada pasangan untuk meng-handle pekerjaan rumah. 

Pilih yang sekiranya tidak tambah amburadul ketika dipegang tangan bapak-bapak. Ya, saya pernah minta tolong gorengin bawang merah, dan berubah jadi hitam. Itu bukan pendelegasian yang tepat.

Si bapak, kalau pagi biasanya handle semua printilan dan keperluan si sulung yang mau sekolah. mulai mandiin, nyuapin, bantuin beresin mainan sampai nganterin sekolah. 


Adiknya, kadang pas masnya makan juga ikutan lahap. Itu sebabnya kalau bapaknya lagi tugas luar kota, jadwal bisa amburadul.

Untuk setrika baju saya mempercayakan orang laundry. Baju saya cuci sendiri sih, kalau urusan setrika, saya serahkan ke yang punya ‘passion’.

7. Me time

Dari sekian job desk yang sudah direncanakan, ingatlah, bahwa buibu juga manusia biasa. Jika lelah, berhentilah. Cari cara biar bisa me time. Komunikasikan dengan baik dengan bapaknya anak-anak tentang ini. 

Kadang, me time buat saya sesederhana bisa nulis, edit, sampai naik di blog dalam sekali duduk. Tapi sering juga pengen liburan kemana gitu. Ke Paris kek, Santorini atau deket-deket sini Jepang wkwkwk. Namanya juga keinginan bu, kan sekalian to hihihi.

Yang pasti, me time adalah waktu untuk stress release. Karena stress itu biang dari segala macam penyakit. Baik fisik maupun psikis. So, sebagai ibu rumah tangga, management stresnya musti oke. Karena ibu yang bahagia, adalah pondasi rumah sejahtera.


Yup, itu tadi tips dari saya ibu rumah tangga yang rempongnya gak habis-habis. Semua ibu pasti berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarganya. 

Jadi, sebelum memberikan yang terbaik untuk orang lain, setidaknya, saya harus berdamai dengan diri saya sendiri. Cukup sulit, tapi gak susah susah amat kok kalau punya eager menjalankannya.

Berjualan dan ngeblog adalah cara saya berdamai dengan diri sendiri. Membuat saya merasa lebih ‘berguna’. Pernah dong, buibu stay at home mom yang merasa gak berguna?! I feel u. Kalau diterusin, ini bisa berakibat fatal buat semua penghuni rumah. So, kita harus tahu cara menghadapinya.

“Apa tips ini berhasil bu? sampai berapa lama?” begitu kira-kira netizen bertanya.

If the plan doesn’t work, change the plan, but never the goal.

Semoga bermanfaat bu. sudah mandi?






Menyiapkan dana pendidikan

10 komentar


Tahun depan anak sulung sudah mulai masuk sekolah dasar. Tinggal 10 bulan lagi kira-kira hari aktif untuk menyelesaikan jenjang TK B. cepet banget rasanya. Kayaknya baru kemarin drama sapih menyapih. Adiknya, Inara, kira-kira 3 tahun lagi masuk TK. Time flies sooooooo fast.

Ngobrol soal dana pendidikan gak ada habisnya sama suami. Ini masih ngomong dana, belum sekolah mana yang dituju. Tapi untuk dana pendidikan, memang saya dan suami sudah komit untuk di prioritaskan. Jadi, uang tabungan dana pendidikan buat mas Zafran ini memang sudah disiapkan. Adiknya yang belum mulai hiks.. Masalahnya, kita belum ngitung detail berapa habisnya biaya pendidikan anak ini. Paling gak selama setahun kedepan. Bayangan saya, dana pendidikan berkutat di masalah uang gedung, SPP, daftar ulang, atau printilan wajib di sekolah. Ternyata, tak sesederhana itu.

Nah, minggu lalu, akun financial planner @jouska_id lagi membahas tentang education fund di IGTV. Dipandu oleh mbak Indah dan mas Rolland, advicer Jouska. Bagi yang belum tahu apa Jouska, bisa kepoin IGnya. Baca highlightnya satu-satu. Dijamin, hidup yang selama ini berasa baik-baik saja, ternyata ‘amburadul’ hahaha.

Meski tergolong terlambat untuk mengupas ini satu-satu, tapi better late than never lah ya. Kita lagi belajar jadi orang tua yang bener ini hihihi. Menurut mbak Indah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika akan memulai menyisihkan uang untuk dana pendidikan anak.

1. Waktu

Kapan memulai merencanakan dana pendidikan?! Mbak Indah menjelaskan, maksimal saat anak ada. Ini agar kita tahu time frame untuk menghitung berapa dana yang perlu disisihkan dari casflow bulanan. Atau bisa juga disiapkan sebelum punya anak, ini lebih baik, karena belum terbebani dengan biaya lain.

2. Hitung

Menurut mbak Indah, kita harus tahu persis berapa kebutuhan dana pendidikan. Inilah perlunya mengetahui time frame. Lebih cepat lebih baik. Biar nabung per bulannya gak memberatkan cash flow. Dana pendidikan ini tidak hanya dihitung dari kalkulasi uang pangkal, SPP, atau biaya tahunan saja. Tapi banyak printilan lain yang musti diperhitungkan seperti

        a. Transport

Uang transport kadang terlewatkan dari perhitungan orang tua. Untuk sekolah yang dekat rumah, biaya transport bisa dihitung ongkos bensin tiap bulan. Atau jika sekolah swasta yang memiliki fasilitas antar jemput, pasti ada lagi biaya yang harus dikeluarkan untuk fasilitas ini.

       b. Biaya sosial

Ini juga biasanya tak masuk itungan. Biaya sosial atau Social cost ini bisa berupa biaya kado teman ultah, biaya nongkrong ibu-ibunya yang kebetulan nganter anak, biaya pulsa kalau anaknya udah dipegangin hp, uang jajan anak, atau uang makan yang telah disediakan sekolah. Nah, biaya ini akan semakin besar sesuai sekolah mana yang dipilih. Sekolah negeri atau sekolah swasta pasti beda itungannya. Sudah pernah dengar kan cerita ibu-ibu yang biaya nongkrong sambil nungguin anak lebih besar dari uang SPP?!. Atau dana beli kado yang bisa jadi tiap bulan ada?! Apalagi di kota besar.

Biaya-biaya ini akan sangat nyata ketika tinggal di kota besar seperti Jakarta atau Surabaya. Biaya juga akan berbeda lagi kalau memilih sekolah swasta, sekolah bertaraf internasional atau sekolah berbasis agama seperti sekolah islam terpadu atau semacamnya. Jadi, ini gak boleh disepelekan  ya bu.

Masih sanggup baca buk? Lanjut….

       c. Biaya di luar sekolah

Untuk memilih sekolah, kita juga harus teliti kata mbak Indah. Apakah biaya yang dikeluarkan sudah mencakup les ini itu. seperti les Bahasa inggris atau les mapel lain yang dirasa kurang dikuasai anak. Atau les pengembangan bakat sesuai keinginan anak. Jika tidak ada, apakah kita akan menambahkan les ini itu diluar jam sekolah. Nah, ini juga perlu dipertimbangkan.

Kalau sudah ketemu berapa dana yang akan dikeluarkan, jangan lupa memperhitungan inflasi. Jouska biasanya merekomendasikan inflasi pada range 10%-15% per tahun. Jadi tinggal kalikan saja ya bu, biar tahu kapan dan besaran dana yang harus disiapkan.

3. Sumber dana

Setelah tahu besaran dana yang diperlukan, langkah selanjutnya menentukan sumber dana. Duit dari mana saja yang akan dialokasikan ke dana pendidikan. Bisa dari bonus tahunan, atau gaji bulanan bagi pekerja kantoran. Bisa juga dana dari usaha sampingan. Untuk besarannya bergantung pada cash flow keuangan masing-masing keluarga.

Perhitungan di atas sangat relate sekali menurut saya. Ini bisa dipakai buat hitung tiap jenjang kenaikan sekolah anak. SD, SMP, SMA, Kuliah. Jangan lupa kalikan dengan angka inflasi ya buibu, biar dag dig dug-ya sekarang. nanti, insyaAllah sudah lebih siap.

Nah, kalau buibu sudah sampai tahap mana?! saya masih tahap nyiapin bu, belum ngitung hehehe… tulisan ini sebagai pengingat biar gak lupa sama ilmu yang sudah didapat. Tetep semangat ya bu, semoga dilancarkan rizqinya buat anak-anak amin…

Feel free to share di kolom komentar tentang menyiapkan dana pendidikan yang udah buibu terapin selama ini. yuk ah.