Tampilkan postingan dengan label story of me. Tampilkan semua postingan

Bagaimana Cara Menjadi Kreatif? Gak Cuma Bakat Tapi Juga Privilege

Tidak ada komentar

 

“Mbak kok bisa sih bebikinan gitu?” begitu pertanyaan yang masuk ke DM instagram. Saat itu, saya lagi bikin mainan dari kardus buat anak anak.

Let me tell you a story….

Saya beruntung, sejak kecil, dikelilingi oleh orang-orang kreatif. Barangkali tanpa sengaja membentuk saya sampai hari ini.

Begini awalnya…

“Rizqi, ini kok bisa bikin gini caranya gimana?” tanya salah seorang guru SD saya waktu itu.
Ah, saya ingat betul momen itu. Kelas 3 SD di pelajaran ketrampilan. Bu guru memberi tugas untuk membuat ketrampilan berbahan kain. Saat itu saya membuat tempat jarum pentul. Bahannya dari kain perca. Kebetulan bapak dan ibuk saya punya usaha konveksi. Jadi, tak sulit menemukan kain perca di rumah.

Tapi, pertanyaan itu justru berbuntut gerutuan almarhum bulik saya. Saat itu, bulik tinggal di rumah saya untuk membantu usaha ibuk dan bapak. Kenapa menggerutu? karena ide pembuatan jarum pentul itu dari dia.

“La kok malah gurumu sing njaluk warah (kok malah gurumu yang minta diajarin). Kudune kan ya dia yang ngasih tahu caranya. Lain kali klo ada tugas tapi gak dikasih tahu caranya, gak usah bikin”. Begitu kira-kira omelannya saaat itu. Sayapun bilang iya biar omelannya gak berlanjut. Al fatikhah buat bulik Latif.

Sejak saat itu, justru bulik yang terus ngajarin saya bikin pernik dari kain perca. Saya selalu semangat bikin. Salah satunya taplak meja dari bahan perca yang dibuat serupa rangkaian bunga kecil. Hasil karya itu tak lupa saya pamerkan di sekolah. Guru SD saya waktu itu malah promosi ke guru lainnya. Minta dibikinin taplak meja serupa.

Senang betul saya.

Cerita berlanjut ke mainan kardus. Saat itu, di sekolah sedang hits kotak pensil susun yang punya banyak ruangan rahasia. Bergambar lucu-lucu. Bisa dipakai bolak-balik. Banyak fungsinya. Rautan, tempat penghapus, sampai ada kotak rahasia buat nyimpen koin. Siapa yang sudah punya kotak pensil itu, sudah pasti ortunya kaya.

Nah, karena saya pengin banget punya, tapi belum bisa beli, bikinlah saya dari kardus. Kardus saya potong sesuai pola. Tempel sana sini lalu jadi. Pamerlah saya ke bapak. 

Almarhum bapak bilang

“Apa bedanya tempat pensil ini sama yang beneran beli di toko?” tanya bapak

“………………..” saya pura-pura mikir.

“Kalau yang asli, dipencet otomatis keluar. la kalau ini dipencet tambah masuk” jawabnya tanpa diminta.

Kamipun ngakak berjamaah.

Sejak saat itu, saya selalu senang bikin apapun dari kardus. Tak lupa, saya minta pendapat bapak atau ibuk untuk melengkapi hasil karya. Seperti membuat frame foto dari kardus. Ditambah ornament ranting kayu, biji-bijian, kerang, macam macamlah. Seadanya di rumah.

traktor dari kardus 

Beruntung, saya punya support system yang yahud untuk ini. itu makanya, saya berusaha gak marah kalau rumah berantakan gara-gara anak-anak main apapun. Ya meskipun pernah juga ngomel sih. wajar dong ya kan (tetep cari pembenaran).

Lanjut ke origami.

Mbah saya, adalah mbahnya kreatifitas. Selalu bisa bikin sesuatu dari barang yang ditemui. Contohnya. Daun pisang. Dulu, daun pisang sangat biasa ada di rumah. Buat masak atau sekedar bungkus bumbu dapur. Potongan daun pisang bisa dibuat berbagai macam benda. Seperti uang koin, kalung, ulat-ulatan. Sampai sekarang, saya masih ingat bikinnya.

Lalu ada lagi, bikin boneka dari jarik. Jarik adalah selimut dari kain batik. Saya menyebutnya selimut, karena fungsinya memang buat selimut saat malam hari. Buat si mbah, jarik juga berfungsi sebagai rok span untuk bawahan kebaya. Beliau biasa memakainya sehari hari.

Jarik ini, entah bagaimana cara melipatnya, bisa jadi teddy bear. Sebutan boneka paling hits saat itu. Meskipun tak punya mata dan mulut, tapi jelas bagian inti tubuh yang dibuat. Kepala, tangan dan badan.

Mbah juga bisa membuat pakaian lama tampak baru. Bahasa kerennya sustainable fashion. Saya ingat betul waktu SMP. Celana olahraga saya sudah tidak berbentuk celana panjang. Karena postur tubuh mulai meninggi, sedangkan badan tetap langsing. Jadilah itu celana dipotong sedengkul. Tara… celana pendek baru bisa dipakai buat main di rumah.

Ada lagi. baju balita biasanya cepat gak muat. Baju yang gak bisa masuk itu dipotong bagian pundaknya sama mbah. Lalu ditambahi kancing baju yang dipasang seadanya. Walla… jadilah bajunya bisa masuk. Masih oke dipake.

Begitulah cerita masa kecil saya. dikelilingi oleh orang-orang kreatif. Itu sebabnya, saya suka bebikinan. Mulai dari kardus, origami, atau dari kain perca. Foto dan video bebikinan saya ada di ig saya @rizqillahzaen

Bebikinan itu juga jadi salah satu media healing buat saya. kalau lagi suntuk, sumpek sama rutinitas, saya biasa bebikinan. Sekarang, lagi seneng bikin origami.

Entahlah, kegiatan itu seperti membawa saya ke masa lalu. Masa kanak-kanak. Saat itu, persoalan terbesar dalam hidup cuma pelajaran matematika atau salah gunting pola.

Kalau sudah selesai bebikinan dan lihat hasilnya, rasanya puas. Plong. Tapi, hidup tetap berlanjut. Face it, and be gratefull with that.

Kalau kamu, lagi suka apa bu?






Cerita Di Rumah Saja Bersama Orang-Orang Seru

2 komentar

Ini kumpulan cerita di rumah bersama orang-orang seru yang saya jumpai sehari hari. 24 jam sehari, 7 hari seminggu, 365 hari setahun. Siapa saja? Anak-anak dan suami.

Sebenarnya, kalau disuruh bercerita, kegiatan seru di rumah saja, saya bingung. Karena yang seru itu bukan kegiatannya. Tapi orangnya. Ya gak sih…..

Agak beda memang di rumah saja sebelum dan sesudah pandemi covid-19. Sebelumnya, rutinitas harian itu tampak biasa. Pagi sekolah, kerja, pulang kerumah si anak main, si ‘sulung’ juga main. Main game. Duh!

Setelah pandemi, kira-kira sudah di rumah selama 40 hari lebih, kita mulai mati gaya. Jadi, kalau sudah begini, bukan orangnya yang diganti loh heh! Becanda…

Tapi, bagaimana berpikir seru di tengah orang-orang yang ‘biasa-biasa’ saja.

Ini adalah kumpulan cerita, bagaimana kegiatan yang sebenarnya biasa, jadi seru pas di rumah saja selama lebih dari 40 hari.

Bantuin masak

Versi anak

Anak pertama saya mulai melabeli saya dengan sebutan ibu koki. Maklum saat pandemi covid-19 mulai merebak, saya lebih banyak masak di rumah. Rasanya, cukup lumayan, menuju ke enak. Mungkin karena sering masak, jadi skill terasah. Practice makes perfect. Gitu kata motivasi di bawah buku Sidu.


Mas Zafran juga jadi suka bantu di dapur. Ya tambah ribet sih soalnya doi selalu nanya ini gimana itu gimana. Ini sudah bener belum. Jadi sebenarnya klo dibantuin masak tu jadi double job. Antara masak, dan ngajarin anak ini itu.

Bantu kupas bawang
Tapi gak apa-apa. Daripada dia mantengin laptop mulu liat youtube. Yang dilihat review game perang-perangan. Makanya doi jadi sering minta dibikinin stetoskop tembaklah, senapan AWM, sasaran tembak, tameng dll. Semua berbahan kardus bekas.

Teleskop senapan dari kardus. 

Versi suami

Nah, yang tak kalah seru sebenarnya saat di bantuin suami. Suami juga ikut menyiapkan menu buka puasa. Biasanya yang simple-simple aja sih. Ngupas bawang, atau bantu balik gorengan.

Masak weci demi konten 
Kalau disuruh bikin bumbu masakan atau perintah agak ribet dikit, saya malah riweh sendiri.

Contohnya begini

“Yah, bikinin jus jambu. Jambunya Sudah dicuci di kulkas”

“Oke”

Oke adalah jawaban bercabang. Antara iya ngerti dan iya-in aja biar cepet. Masak bikin jus aja gak bisa bun? Bisa kok, tapi gini

Saya biasanya akan menilai hasil kerja suami. Kalau kurang pas, saya kritik. Kalau kurang cocok, ya saya kritik. Kalau enak juga saya kritik. Jadi, suami semacam tak punya pilihan lain untuk tidak kena kritik.

Makanya tiap kali mau melakukan sesuatu se-simle membuat jus, doi selalu ‘berhati-hati’.

“Ini dikupas dulu apa gak?” pertanyaan ini muncul saat saya lagi ribet goreng ayam sama motong sayur. Jadi yang keluar adalah

“Terserah”

Jawaban ini sangat membingungkan untuk suami. Jadi doi mulai memastikan

“Dikupas aja wes”

“Oke”

Tidak berhenti sampai di situ. Tindakan selanjutnya juga perlu dikonfirmasi

“Ini motongnya kecil opo segini cukup?” saya mulai senewen. Saya jawab singkat “iya” toh,  nanti juga di blender kan, jadi gak mungkin potongan jambu itu akan berubah jadi rubik saat di blender.

Setelah di potong, pertanyaan selanjutnya bisa di tebak. Sebelum doi nanya saya mulai dulu

“Airnya 1000ml. Gula 5 sendok”

Dia ngikik

Dan jus jambu jadi dengan asbabul wurud seperti di atas. Done!

Ngobrol seru

Ngobrol adalah kegiatan lumrah yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Tapi, kalau kelaman gak bersentuhan dengan dunia luar, obrolan absurd mulai muncul.

Begini

Versi suami

Di hari biasa, tanpa pandemi, pillow talk akan membahas soal yang rumit-rumit di kantor. Mulai A-Z. Itupun kalau masih ada tenaga. Kalau gak, ya bablas merem.


Nah, selama pandemi ini, suami work from home. Jadi di rumah saja. Obrolnya jadi lebih random. Yang paling bikin ngakak ya semalem.

“Buk, gak pengen bikin kue apa gitu?”

“Tumben, kue opo?” suami gak suka kue, soalnya rasanya manis dan bikin eneg. Satu-satunya kue favorit adalah kue abon sapi. Soalnya rasanya gurih

“Ya apalah trus kasih lilin?”

“Emange sopo sing ulang tahun?” maklum, ingatan saya payah soal angka. Bahkan untuk hari spesial bersama pasangan. Sayapun berinisiatif melihat tanggal.

“30 April ultahe sopo yah?”

“Embuh, zafran sunat paling”

“Wkwkwkwkwk ya Allah, kita nikah tanggal ini yo yah” sambil ngakak saya peluk si bapaknya anak-anak

“Lak lali, ke piro iki?” (pasti lupa, ini ke berapa)

Saya ngakak lagi, ngakak terus, agak lama, biar gak ditanya lagi, soalnya lupa wkwkwkwkwkwk

Itu kejadian paling memorable saat pandemi yang sudah mulai menggoncang jiwa-jiwa ekstrovet dan introvert dalam satu waktu.

Ada lagi obrolan absurd lainnya.

Versi anak

“Buk nanti kalau koronanya sudah hilang, aku mau beli jam imo”

“Apa hubunganya?”

“Kalau pulang sekolah, trus ibuk belum jemput, aku bisa telpon”

Ini klo ngomong sama dosen Dasar-dasar logika, bisa langsung dikasih E. Silogismenya ancur. Gak bisa ditarik kesimpulan. Premis mayor sudah bener. Tapi remis minornya kagak ada.

Coba kita masukkan premis di atas.

Jika korona hilang, aku mau beli jam imoo (premis mayor)

Kalau pulang sekolah ibuk lama gak jemput, aku bisa telepon. (harusnya premis minor)

Ini jelas tidak bisa di tarik kesimpulan berdasarkan makna silogisme.

Harusnya begini

Jika korona hilang, aku mau beli jam imoo

Sekarang, korona belum hilang

Kesimpulannya, kamu gak beli jam imoo

Ini coba saya jelaskan sama Zafran (6). Tahu apa jawabannya? Dia gak jawab. Tapi pergi entah kemana. 🤣

Itu tadi obrolan absurd saya dengan si anak sulung. Seru kan ya. Saya jadi tambah bego. Wkwkwk.. Gak sih, obrolan itu gak saya bahas sampai 2 semester gitu. Ini bayangan saya aja. Gimana kalau tadi tak jawab begitu. Dia paling cuma bengong, padahal saya sudah berapi api. Kan kezel.

Yah, itu tadi dua kegiatan biasa biasa saja dengan orang-orang seru di rumah. Ingat, yang seru itu orangnya, kegiatan cuma sarana. Biar kalau dalam kondisi apapun, kamu tetap bisa stay happy meskipun harus stay at home.

Kamu, ngobrolin siapa bu? eh, ngobrolin apa?






 

Memaknai Jarak Saat Pandemi

47 komentar

Pandemi Virus covid-19 terus berlanjut. Kebijakan social distancing diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan. Dampaknya, Beberapa pekerja masih mengerjakan tugas di rumah. Meski sebagian lainya terpaksa berada di jalanan atau tetap ngantor selama 8 jam. Pemerintah terus memperbaharui data penderita corona. Harapannya, masyarakat lebih aware dengan bahaya virus covid-19 ini.

Semua orang sedang diuji. Pandemi virus covid-19 ini, membuat kita harus menjaga jarak secara fisik. Untuk membantu memotong kurva penderita yang musti ditangani secara medis. Mengontrol diri untuk tidak egois. Berdiam dirumah. Meski tidak semua mampu.

Ujian datang kepada siapapun tanpa kecuali. Mulai dari pedagang multi vitamin yang laris manis atau karyawan yang kena PHK. Tesnya berbeda. Si penjual diuji untuk ‘menahan’. Tidak melambungkan harga jual. Si karyawan juga tengah berduka. Tak lagi bisa mendapat upah bulanan untuk menyambung hidup.

CEO perusahaan juga kena imbasnya. Dipaksa memutar otak untuk terus menggaji karyawan saat perusahaan nyaris tanpa penghasilan atau bahkan tutup.

Nah, ‘ujian’ juga datang di keluarga saya. Meski tak seberat dengan orang di luar sana. Yang tetap harus bekerja, atau bahkan kena PHK. Saya bersyukur masih diberi nikmat sehat dan bisa berkumpul dengan keluarga.

Tidak hanya orang tua. Anak-anakpun ‘dipaksa’ memahami kondisi ini. Tunda main di luar, tak bisa jalan-jalan ke taman kota atau mall, bahkan tidak bisa sekolah.


Sekolah mas Zafran juga diliburkan. Dengan pemberitahuan via whatsapp. Libur diperpanjang. Harusnya tanggal 6 April kemarin sudah masuk, tapi karena pandemi masih terus berlanjut, belajar di rumah diperpanjang hingga 27 April.

Saya sebenarnya termasuk yang senang. Soalnya beberapa minggu ke belakang, ini anak sudah mulai gak mood berangkat sekolah. Selalu punya alasan untuk mangkir. Jadi, kebijakan belajar di rumah ini memperpendek ‘drama’ berangkat sekolah hihihi.

Begitu juga dengan ayahnya. Sejak akhir bulan lalu, kantor pusat sudah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH). Minggu-minggu pertama, masih oke mood-nya. Memasuki minggu ketiga, doi mati gaya. Jadi lebih sering denger “PAKEEEETTTT”. Hadeh…

Tapi, dari segala macam tingkah orang dirumah yang saya amati, semuanya sebenarnya sedang belajar. Sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Menghadapi diri sendiri di depan cermin. Gelut (berantem) dengan batinnya masing-masing?

Maksudnya begini, jarak memang tak selalu soal ruang kosong. Dia justru ‘berisi’ di tengah kondisi pandemi seperti ini. Apa saja isinya?

Begini

1. Emosi

Suami yang biasanya mara-marah kalau pas di kantor gara-gara ada yang tak beres, emosinya lebih teratur. Ritmenya bisa di stel slow. Ya barangkali memang di rumah punya banyak hiburan atau pengalihan suasana. Tapi, bagi saya ini urusannya beda. Kondisi rumah memang bisa jadi mempengaruhi mood. Bisa baik, atau sebaliknya. Tapi, mengkondisikan diri untuk merubah mood itu lain soal.

Barangkali, jarak yang membuat ini bisa bekerja. Emosi lebih bisa ditata. Bisa diatur, tahan, atau lepas seketika. Ternyata jarak tak melulu soal jauh dekat. Ini juga tentang kontrol, jeda, ruang kosong yang bisa diisi apa saja.

Bisa jadi, jarak ini juga yang membuat tanaman tumbuh subur. Punya lahan untuk mengembangkan akarnya. Begitu kira-kira.

Sedangkan Zafran, dia juga sedang mengasah emosi. Untuk tidak dulu keluar rumah bermain bersama teman-temannya. Bermain dirumah dengan mainan seadanya. Bermain dengan adiknya, atau ayahnya. Ini cukup menantang bagi anak seusianya. Seringkali merengek untuk dierbolehkan keluar. Tapi, lambat laun, dia mengerti, kenapa diam dirumah, sangat penting di tengah kondisi saat ini.


2. Kontrol Diri

Hamipr sama dengan emosi. Kontrol diri juga bertambah. Ini untuk saya. Saya lebih bisa mengontrol mood tiap hari. Kalau lagi mau marah sama anak-anak, ayahnya yang take over. Jadi, saya bisa ‘istirahat’ sejenak untuk sekedar ‘melampiaskan’ amarah dengan cara lain.

Kasih makan ikan cupang, nyari cacing depan rumah buat pakan ikan. Bikin DIY mainan anak-anak atau mainan kesukaan saya sendiri. Kalau mau lihat tutorialnya ada di ig saya ya bu. Bisa klik disini. Lengkap.


DIY Jeep dari kardus. 



3. Lebih Aware Dengan Kesehatan

Ini yang paling penting menjadi catatan. Selama ini, suami sering kerja lembur. Bahkan kerja di akhir pekan. Jadwal istirahat kacau balau. Pagi jadi malam, begitu pula sebaliknya.


Nah, selama WFH ini, tidur jadi teratur. Ya tapi musti diingetin dulu buat gak begadang maen game atau nonton film. Duh! Anakku nambah satu.

Olahraga juga mulai teratur meskipun sering bolongnya.

Membuat kebiasaan baru memang sulit. Tapi bukan tak mungkin kan?! kapan lagi punya banyak waktu istirahat dan memperbaiki metabolisme tubuh sesuai fitrah manusia. Bukan robot.

4. Jadi pintar Masak

Rasanya gimana gitu kasih pujian sama diri sendiri hehehe. Tapi ini bener sih. Sebenarnya lebih ke terpaksa masak untuk makan sekeluarga. Makan sehari tiga kali untuk 4 orang. Bisa lebih. Dulu, sebelum ada social distancing, makan malam masih suka beli. Karena tenaga sudah habis buat beresin rumah dan riweh sama dua bocah. Tapi sekarang, masih was-was beli makanan jadi. So, masak adalah koentji!. Honestly, hemat harga mati!


Kerennya lagi (duh akutu keren memang. LOL), saya bisa re-cook makanan tak jadi. Atau makanan sisa yang masih bisa dimakan esoknya. Seperti tahu goreng buat lauk sop kapan hari. Masih sisa. Besoknya saya bikin oseng tahu pake kecambah dan udang ebi. Uenak bu!! J

Oseng tahu kecambah
Mungkin kayak gitu itu naluri emak-emak ya. Ditengah pandemi dan masa sulit seperti sekarang ini, membuang makanan itu aib, haram, bisa kena pasal berlapis (lebay). Jadi, musti pintar-pintar cari ‘celah’ menu. Biar makanan gak mubazir.

Nah, itu tadi ‘isi’ dari jarak yang terbentuk berkat pandemi. Halah!. Termasuk ‘ujian’ yang musti diwaspadai. Tidak lengah  dengan kondisi nyaman yang terberi. Eh, jadi kayak puisi. Hihihi.

**
Jarak memang tak melulu soal seberapa jauh atau dekat dua objek. Ia bisa jadi punya makna lain. Seperti juga lirik lagu almarhum Glen Fredly, Kembali Ke Awal. Ah, selamat beristirahat bung L. Salah satu liriknya begini

Setelah lelah berharap
Berjarak dengan waktu
Semoga mendewasakan

Arti rasa satu itu
Berkaca kau dan aku
Jalan kita memang penuh liku
Berharap kepastian 'kan ada
'Tuk kembali ke awal

Semoga, musibah pandemi ini lekas berakhir ya bu. Kita sedang sama-sama berjuang. Berjarak secara fisik, berharap juga bisa mendewasakan. Untuk kembali memulai kebiasaan baik yang sempat tertunda. Selamat belajar semua J

Kalau buibu punya cerita apa nih saat berjarak?








Tulisan ini ditulis dalam rangka minggu tema “Jarak”, untuk 1minggu1cerita





Kaleidoskop 2019, what next?

2 komentar


Selamat tinggal 2019. Beserta drama dan proses belajarnya. Selamat datang 2020. Semoga terus bisa belajar apapun. Nambah skill, lebih sabar, hemat dan konsisten dengan perencanaan keuangan.
Ini adalah rangkuman peristiwa di hidup saya dan keluarga selama satu tahun. Sedikit banyak, berpengaruh pada isi dan performa blog.

Saya bikin blog sejak tahun 2017. Sebelumnya, saya juga pernah buat blog. Pernah pakai multiply? Kita seumuran. Waktu SMA, sudah punya sih, tapi lupa password. Kuliah pernah bikin pakai wordpress. Lalu lupa lagi. Kemudian bikin lagi karena ada lomba blog salah satu provider. Terus lupa password.

Blog ini saya buat setelah punya anak. Dibuat tahun 2017. Tapi baru aktif setahun belakangan. Join ke grup blogging, follow para blogger keren, ikut blogwalking dll. Maklum, sudah vakum 7 tahun dari dunia tulis menulis. Masih ‘jet lag’.

Kegiatan tulis menulis saya sebenarnya lebih banyak di facebook. Ikut grup komunitas bisa menulis. Awalnya, saya juga join emak pintar asia milik mbak Indari Mastuti. Belakangan saya cek webnya, tidak ada. Pernah kirim tulisan di mojok.co juga, tapi gak pernah tayang wkwkwk.

And here we go…..

Januari
Bulan ini ternyata banyak tulisan yang saya buat, sekaligus upload di blog. Beberapa saya copas dari tulisan-tulisan di facebook. Sebelumnya, saya sering menulis di facebook. Tentang apapun. Belakangan lebih sering nulis tentang parenting. Saat menulis parenting, sepertinya mengalir begitu saja. Barangkali, karena saya mengalaminya sendiri. Setiap hari.

Februari
Tepat setahun anak kedua saya. Anak pertama saya, mas Zafran juga lahir di bulan ini. Bikin acara ulang tahun untuk keduanya. Semua printilan saya sendiri yang handle.


Di bulan ini juga, saya mulai menulis keluh kesah tentang dunia parenting. Salah satunya mom shaming. Ya maklumlah, ibu dua anak ini masih baper sama omongan orang. Tapi dengan menuliskannya di blog, saya jadi lebih lega. Sekaligus berbagi biar gak kebablasan bapernya.


Maret
Bulan ini saya mulai gak pede menulis. Baca-baca lagi tulisan di blog. Kebanyakan kok humble brag. Sombong yang sederhana. Rendah hati tapi pamer. Begitulah perasaan saya saat itu. Kemudian mulai ‘berkonsultasi’ dengan beberapa penulis.

Salah satu penulis favorit saya adalah mbak @mcitraningrum. Membaca tulisannya di blog dan kompasiana. Saya kepincut ingin menulis dengan gaya tulisan seperti mbak Citra ini. Kemudian, DM lah saya via Instagram.

“Gimana sih mbak caranya nulis renyah dan gak sombong?”

Kata mbak Citra, setiap orang punya kecenderungan untuk brag, sesumbar. Itu manusiawi. Tinggal bagaimana mengemasnya. Untuk tulisan renyah, kata mbak Citra, memang perlu jam terbang.

April
Mendapat job pertama kali sebagai seorang blogger. Waktu itu, ditawari via DM oleh @the_urbanmama. Acara bekerjasama dengan salah satu produk perawatan bayi. Seneng banget. Pengalam pertama liputan setelah vakum lebih dari 7 tahun sebagai jurnalis tv. Meskipun, sampai saat ini invoicenya belum cair L

Sempat awkward saat hadir di acara. Ketemu dengan teman wartawan. Berjumpa dengan anak muda yang sudah lama berkecimpung di dunia blogger. Hati saya ciut. Tapi kemudian ketemu @zahrafirdausiah. Usut punya usut, ternyata juga mantan wartawan. Satu grup sama kantor lama saya dulu. Nyambunglah kita sampai sekarang. Tengkyu buk :-*

Hari itu, kesampaian liputan bawa dua anak. Untung acaranya pas hari sabtu, jadi anak-anak di take over ayahnya. Terimakasih supportnya suami :-*

Berawal dari situ, saya jadi lebih semangat ngeblog. Sukur-sukur kalau dapat job lagi. Tapi kalaupun tidak, bagi saya menulis itu menyembuhkan.

Mei
Ikut lomba blog pertama kali. Salah satu bank syariah. Dan belum dapet. Oke, lain kali nyoba lagi. Mulai baca-baca blog pemenang lomba. Nyari blog yang langganan jadi pemenang. Belajar model tulisan, kemasan. Sampai belajar bikin infografis dan corat-coret desain lagi.

Karena sudah lama gak utak atik desain, jadinya bikin satu aja lama banget hahaha. Belum lagi anak saya masih setahun. Lagi spaneng depan laptop, alarm minta asi berbunyi. Duh! Banyak banget alesan.

Juni
Sering blog walking, malah lupa nulis wkwkwk. Tulisan saya bulan ini cuma 1. Itupun bikinnya berhari-hari. Tentang pengalaman anak saya yang baru saja ke dokter gigi.


Saya suka sekali tulisanya @ndorokakung. Mungkin sudah sangat familiar sekali. Tulisannya keren. Maklum, sudah 20 tahun lebih di dunia jurnalistik dan per-blogger-an. Nah, saya pengin nih bikin tulisan model gini. Satir, ceritanya mengalir, ya meskipun, banyak juga tulisan event. Tapi baru tulisan event @ndorokakung yang saya baca sampai tuntas.

Musti belajar lebih banyak lagi ini. Oiya, satu lagi, tulisannya pak Prie.GS. seorang budayawan dan seniman. Saya sering baca tulisannya via facebook. Atau kadang kalau blio lagi nulis panjang di ig. Tidak menggurui, santai, gak ngegas, tapi menarik. Penggunaan diksinya juga unik. Tapi tetap bisa dipahami dengan baik.

Oiya , saya juga suka tulisannya Samuel Mulia di kolom parodi Kompas. Biasanya pas hari minggu. Samuel Mulia adalah seorang perancang busana dan pemerhati gaya hidup. Tulisannya selalu menggelitik. Membuat saya berpikir ulang. Ah keren!

Juli
Bulan ini saya dan dua bocah pulang kampung. Ke Tulungagung. Kami berkunjung ke pantai Karanggongso. Naik motor. Seru sekali. Pantainya bersih. Dan banyak wahana seru.


Tulungagung punya banyak destinasi wisata. Salah satunya pantai. Tinggal pilh, mau yang dekat dengan jalan raya, atau musti masuk hutan lewati lembah juga ada. Yuk ke Tulungagung J

Agustus
Bulan ini saya mencoba ikut lomba blog lagi. Salah satu produk asuransi. Belum menang lagi. Gak papa. Yang penting sudah punya semangatnya.

Selain itu, juga mencoba menulis tentang problem rumah tangga. Menulis tema ini ternyata juga mudah. Sama seperti parenting. Saya bisa menulis panjang. Ya memang, menulislah apa yang ada di sekitarmu, merupakan obat ampuh untuk terus berkarya.

September
Mendapat email kerjasama blogpost dari salah satu hotel di Bali. Tapi, setelah saya balas, tidak ada kabar lagi. hihihi. Dari sini saya mulai bertanya tentang range harga blogpost kepada para blogger senior. Selain itu, bagaimana memberikan balasan terkait email kerjasama. Alhamdulillah mereka memberikan respon yang baik. Terimakasih mastah J

Selain itu, saya juga membuat tulisan berseri #zafranask. Isinya tentang pertanyaan-pertanyaan ‘sulit’ anak usia 6 tahun. Keingintahuan anak usia ini memang sangat tinggi. Dulu, kalau mau bertanya ini itu, langsung di skak, jangan bawel. Tapi, saya buang jauh-jauh warisan pengasuhan model ini. Saya belajar selalu terbuka dengan anak. Bahkan dalam hal yang masih dianggap tabu oleh beberapa orang. Misalnya, sex.


Oktober
Adik saya menikah. Alhamdulillah. Ikut keruwetan persiapan sejak H-5. Maklum, ibu saya masih menganut adat jawa. Printilannya banyak banget. Mulai seserahan, selametan sebelum dan sesudah acara, tonjokan, dll.

Senang rasanya bisa melewati itu semua dengan lancar tanpa halangan berarti. Semua acara bisa dilewati dengan suka cita. Keluarga besar berkumpul. Meskipun tidak semua, karena ada yang sakit. Tapi semua senang di hari itu. Sungguh moment tak terlupakan.

Di bulan ini, saya mulai berani menulis tentang isu-isu terkini seperti zero waste. Kalau isu politik, saya masih belum berani. Meskipun, latar belakang pendidikan saya mendukung untuk itu.


Saya juga punya akun di kompasiana. Baru ngeh kalau musti di verifikasi terlebih dahulu. Tapi belum pernah nulis disitu hehehe..

November
Bulik saya meninggal. Adik dari bapak. Dulu, bulik latif yang mengasuh saya dirumah. Maklum, ibu dan almarhum bapak bekerja.

Belio terkena kanker payudara. Terdeteksi sudah stadium 4. Saya sebenarnya mau menulis tentang ini kapan hari. Tapi selalu saja ada alasan. Tahun lalu, paklik saya juga berpulang dengan diagnosis kanker. Kanker pankreas. Next saya mau nulis tentang perjalanan keluarga saya struggling kanker. Sekaligus mitos-mitos yang masih dipegang keluarga saat ini.

Desember
Moment liburan bersama keluarga. Bulan ini saya juga lebih sering menulis. Mulai menata hati dan menata duit dengan baik.


Statistik blog meningkat, saya mendapat 1k view bulan ini. Mungkin ini pencapaian yang biasa saja untuk para blogger mastah. Tapi bagi saya, ini pencapaian luar biasa. Sudah ada yang mau membaca blog saya. Bahkan memberikan komentar. Terimakasih kepada para pembaca blog saya. Juga untuk 4 follower. hehehe… masih 4 tapi saya sebahagia itu.

Bulan ini saya juga baru menuliskan cerita tentang anak kedua saya yang terkena kejang demam. Padahal, peristiwa itu terjadi tahun lalu. Sungguh peristiwa yang bikin jantung mo pindah dengkul. Tapi alhamdulillah saya bisa meng-handle dengan baik.


Oiya, moment paling kentang di akhir tahun adalah saat daftar CPNS. Gak lolos. Padahal masih tahap awal administrasi. Alasannya? Saya lupa dimana transkrip nilai yang asli. Hilang. Kacau balau dah mood rumah. Tapi yasudah, memang belum rejeki L

Nah itu tadi peristiwa-peristiwa yang saya alami selama setahun. Semoga, saya bisa banyak belajar di setiap momennya. Belajar sabar menghadapi anak-anak. Ingin terus menulis di blog dan media.
Saya berharap, tahun depan akan terbuka pintu-pintu lain bagi saya dan keluarga. Pintu rejeki dan keberkahan, amin…

Punya moment berharga apa tahun ini bu?