Memaknai Jarak Saat Pandemi

by - April 12, 2020


Pandemi Virus covid-19 terus berlanjut. Kebijakan social distancing diperpanjang hingga waktu yang belum ditentukan. Dampaknya, Beberapa pekerja masih mengerjakan tugas di rumah. Meski sebagian lainya terpaksa berada di jalanan atau tetap ngantor selama 8 jam. Pemerintah terus memperbaharui data penderita corona. Harapannya, masyarakat lebih aware dengan bahaya virus covid-19 ini.

Semua orang sedang diuji. Pandemi virus covid-19 ini, membuat kita harus menjaga jarak secara fisik. Untuk membantu memotong kurva penderita yang musti ditangani secara medis. Mengontrol diri untuk tidak egois. Berdiam dirumah. Meski tidak semua mampu.

Ujian datang kepada siapapun tanpa kecuali. Mulai dari pedagang multi vitamin yang laris manis atau karyawan yang kena PHK. Tesnya berbeda. Si penjual diuji untuk ‘menahan’. Tidak melambungkan harga jual. Si karyawan juga tengah berduka. Tak lagi bisa mendapat upah bulanan untuk menyambung hidup.

CEO perusahaan juga kena imbasnya. Dipaksa memutar otak untuk terus menggaji karyawan saat perusahaan nyaris tanpa penghasilan atau bahkan tutup.

Nah, ‘ujian’ juga datang di keluarga saya. Meski tak seberat dengan orang di luar sana. Yang tetap harus bekerja, atau bahkan kena PHK. Saya bersyukur masih diberi nikmat sehat dan bisa berkumpul dengan keluarga.

Tidak hanya orang tua. Anak-anakpun ‘dipaksa’ memahami kondisi ini. Tunda main di luar, tak bisa jalan-jalan ke taman kota atau mall, bahkan tidak bisa sekolah.


Sekolah mas Zafran juga diliburkan. Dengan pemberitahuan via whatsapp. Libur diperpanjang. Harusnya tanggal 6 April kemarin sudah masuk, tapi karena pandemi masih terus berlanjut, belajar di rumah diperpanjang hingga 27 April.

Saya sebenarnya termasuk yang senang. Soalnya beberapa minggu ke belakang, ini anak sudah mulai gak mood berangkat sekolah. Selalu punya alasan untuk mangkir. Jadi, kebijakan belajar di rumah ini memperpendek ‘drama’ berangkat sekolah hihihi.

Begitu juga dengan ayahnya. Sejak akhir bulan lalu, kantor pusat sudah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH). Minggu-minggu pertama, masih oke mood-nya. Memasuki minggu ketiga, doi mati gaya. Jadi lebih sering denger “PAKEEEETTTT”. Hadeh…

Tapi, dari segala macam tingkah orang dirumah yang saya amati, semuanya sebenarnya sedang belajar. Sedang bertarung dengan dirinya sendiri. Menghadapi diri sendiri di depan cermin. Gelut (berantem) dengan batinnya masing-masing?

Maksudnya begini, jarak memang tak selalu soal ruang kosong. Dia justru berisi di tengah kondisi pandemi seperti ini. Apa saja isinya?

Begini

1. Emosi

Suami yang biasanya mara-marah kalau pas di kantor gara-gara ada yang tak beres, emosinya lebih teratur. Ritmenya bisa di stel slow. Ya barangkali memang di rumah punya banyak hiburan atau pengalihan suasana. Tapi, bagi saya ini urusannya beda. Kondisi rumah memang bisa jadi mempengaruhi mood. Bisa baik, atau sebaliknya. Tapi, mengkondisikan diri untuk merubah mood itu lain soal.

Barangkali, jarak yang membuat ini bisa bekerja. Emosi lebih bisa ditata. Bisa diatur, tahan, atau lepas seketika. Ternyata jarak tak melulu soal jauh dekat. Ini juga tentang kontrol, jeda, ruang kosong yang bisa diisi apa saja.

Bisa jadi, jarak ini juga yang membuat tanaman tumbuh subur. Punya lahan untuk mengembangkan akarnya. Begitu kira-kira.

Sedangkan Zafran, dia juga sedang mengasah emosi. Untuk tidak dulu keluar rumah bermain bersama teman-temannya. Bermain dirumah dengan mainan seadanya. Bermain dengan adiknya, atau ayahnya. Ini cukup menantang bagi anak seusianya. Seringkali merengek untuk dierbolehkan keluar. Tapi, lambat laun, dia mengerti, kenapa diam dirumah, sangat penting di tengah kondisi saat ini.


2. Kontrol Diri

Hamipr sama dengan emosi. Kontrol diri juga bertambah. Ini untuk saya. Saya lebih bisa mengontrol mood tiap hari. Kalau lagi mau marah sama anak-anak, ayahnya yang take over. Jadi, saya bisa ‘istirahat’ sejenak untuk sekedar ‘melampiaskan’ amarah dengan cara lain.

Kasih makan ikan cupang, nyari cacing depan rumah buat pakan ikan. Bikin DIY mainan anak-anak atau mainan kesukaan saya sendiri. Kalau mau lihat tutorialnya ada di ig saya ya bu. Bisa klik disini. Lengkap.


DIY Jeep dari kardus. 



3. Lebih Aware Dengan Kesehatan

Ini yang paling penting menjadi catatan. Selama ini, suami sering kerja lembur. Bahkan kerja di akhir pekan. Jadwal istirahat kacau balau. Pagi jadi malam, begitu pula sebaliknya.


Nah, selama WFH ini, tidur jadi teratur. Ya tapi musti diingetin dulu buat gak begadang maen game atau nonton film. Duh! Anakku nambah satu.

Olahraga juga mulai teratur meskipun sering bolongnya.

Membuat kebiasaan baru memang sulit. Tapi bukan tak mungkin kan?! kapan lagi punya banyak waktu istirahat dan memperbaiki metabolisme tubuh sesuai fitrah manusia. Bukan robot.

4. Jadi pintar Masak

Rasanya gimana gitu kasih pujian sama diri sendiri hehehe. Tapi ini bener sih. Sebenarnya lebih ke terpaksa masak untuk makan sekeluarga. Makan sehari tiga kali untuk 4 orang. Bisa lebih. Dulu, sebelum ada social distancing, makan malam masih suka beli. Karena tenaga sudah habis buat beresin rumah dan riweh sama dua bocah. Tapi sekarang, masih was-was beli makanan jadi. So, masak adalah koentji!. Honestly, hemat harga mati!


Kerennya lagi (duh akutu keren memang. LOL), saya bisa re-cook makanan tak jadi. Atau makanan sisa yang masih bisa dimakan esoknya. Seperti tahu goreng buat lauk sop kapan hari. Masih sisa. Besoknya saya bikin oseng tahu pake kecambah dan udang ebi. Uenak bu!! J

Oseng tahu kecambah
Mungkin kayak gitu itu naluri emak-emak ya. Ditengah pandemi dan masa sulit seperti sekarang ini, membuang makanan itu aib, haram, bisa kena pasal berlapis (lebay). Jadi, musti pintar-pintar cari ‘celah’ menu. Biar makanan gak mubazir.

Nah, itu tadi ‘isi’ dari jarak yang terbentuk berkat pandemi. Halah!. Termasuk ‘ujian’ yang musti diwaspadai. Tidak lengah  dengan kondisi nyaman yang terberi. Eh, jadi kayak puisi. Hihihi.

**
Jarak memang tak melulu soal seberapa jauh atau dekat dua objek. Ia bisa jadi punya makna lain. Seperti juga lirik lagu almarhum Glen Fredly, Kembali Ke Awal. Ah, selamat beristirahat bung L. Salah satu liriknya begini

Setelah lelah berharap
Berjarak dengan waktu
Semoga mendewasakan

Arti rasa satu itu
Berkaca kau dan aku
Jalan kita memang penuh liku
Berharap kepastian 'kan ada
'Tuk kembali ke awal

Semoga, musibah pandemi ini lekas berakhir ya bu. Kita sedang sama-sama berjuang. Berjarak secara fisik, berharap juga bisa mendewasakan. Untuk kembali memulai kebiasaan baik yang sempat tertunda. Selamat belajar semua J

Kalau buibu punya cerita apa nih saat berjarak?








Tulisan ini ditulis dalam rangka minggu tema “Jarak”, untuk 1minggu1cerita





You May Also Like

47 comments

  1. Apakah jarak ini emg bisa bikin orang pintar masak ya mbak? Wkwwk
    Soalnya q juga jd suka bebikinan. Pdhl dlu sering bgt jajan dan beli2 makanan, skrg mau beli2 mikir lg karena musim pandemi kororo macam gini ya. Duh alm. Glen emg lagu2nya enak bgt ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk bisa jadi bisa jadi. the ower of kepepet hihihi...

      Hapus
  2. Semoga wabah pendemi ini segera berlalu agar kehidupan bisa kembali berjalan normal. Meski demikian, tetap ada saja hikmah yang bisa dipetik di tengah wabah ini.

    BalasHapus
  3. Ketika kita fokus pada nilai positif, Insya Allah banyak sekali hal-hal baik yang terjadi dibalik pandemi ini. Suami yang biasa kerjanya sampai menjelang maghrib, sekarang sebelum ashar udah pulang :D Jadi lebih punya banyak waktu untuk keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah.... iya ya mbak, bisa lebih deket sama keluarga juga :-)

      Hapus
  4. MasyaAllah, saya juga merasa semenjak di rumah jadi sering banget ke dapur. Entah mengapa perut anak-anak tak pernah merasa kenyang 😂. Jadilah, harus sering buat cemilan, tapi cemilanku masih sederhana sih. Semoga lain kali bisa eksperimen lebih banyak lagi 😆💗

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama mbak, sampai bingung musti bikin cemilan apa lagi. semangat buibu :-)

      Hapus
  5. Meskipun berat, tapi sebetulnya banyak sekali hikmah dari pandemi ini ya. Karena suami WFH meski (kadang harus masuk) tapi nggak sadar kok kita jadi makin kompak ya, terutama dalam hal mengasuh anak dan mengurus rumah. Suami jadi lebih banyak inisatif dalam membantu, aku juga jadi lebih tenang. Anak-anak juga Alhamdulillah lebih kooperatif karena ada ayahnya di rumah, dan banyak hal-hal baik lainnya yang aku rasakan selama pandemi ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, sebenarnya pekerjaan saya jadi lebih ringan pas WFH ini, tapi ya gitu bolak balik dapur hehehe... semoga cepat berlalu ya pandeminya amin...

      Hapus
  6. Selalu ada hikmah di setiap kejadian atau peristiwa.
    Seperti wabah Corona ini, selain yg sudaj disebutkan di atas, org2 juga jd lbh meningkat solidaritasnya.
    Waktu utk keluarga juga lbh maksimal

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin... bener banget, ini se kompleks juga saling bantu buat desinfektan sama wastafel di pintu masuk kompleks. selamat menghabiskan waktu dengan keluarga mbak. sehat selalu :-)

      Hapus
  7. Saya Juga sudah merasakannya?
    Pertamanya sih seneg setiap hari libur, biasanya harus bangun pagi untuk pergi kerja sekarang tinggal molor bangun siangan nggak apa-apa :)

    Tapi lama-lama juga bosan, ingin pergi ke tempat kerja, di rumah cuma tidur, bangun, tidur lagi, lama-lama bisa jadi gajah hahaha

    Semoga Pandemi ini cepat berakhir sehingga kita bisa menjalankan rutinitas seperti biasa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. suamiku malah kurus pas dirumah. mikir doi, malah gabut hahahaha... amin semoga bisa beraktivitas seperti biasa lagi amin.. :-)

      Hapus
  8. bener banget, rasanya sayang banget mau buang makanan.
    Saat pandemi begini klo nggak kuat, bisa lost hope. Tapi kalau kita selami selalu banyak hikmah dari setiap kejadian. Allah nggak tidur, dn Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul banget mbak. selalu bersyukur saat berada di titik manapun Allah menempatkan. makasih sudah membaca. sehat selalu mbak :-)

      Hapus
  9. Selalu ada hikmah di setiap kondisi, iya kan Mbak? Saya juga jadi lebih sering masak sekarang. Paling seneng kalau masak dan cepet abis. Hehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. puassssss ya rasanya klo masakan ludes... meskipun jadi bolak balik dapur hehehe... semangat buibu :-)

      Hapus
  10. Betul mba selalu ada hikmah di balik masalah aku juga gitu karna #dirumahaja jadi suka coba2 bikin masakan dirumah atau nyoba bikin2 yang lagi hits hehe, pastinya lebih dekat dengan keluarga juga quality time banget sama keluarga, semoga aja pandemi ini segera berakhir aminn

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin... iya jadi punya ide buat masak besok atau lusa. jadi lebih kreatif hehhe... semangat buibu :-)

      Hapus
  11. Pengadilan juga pada tutup mbak Zein karena corona. Alhasil pengacara makin menganggur banyak acara. Nggak tahu kondisi ini bakal pulih seperti sedia kala atau ada perubahan lagi pasca corona. Yang pasti, semua orang tentu butuh kepastian atas ujung dari masalahnya masing2... hhmm..

    BalasHapus
    Balasan
    1. semoga kondisinya lekas pulih ya mbak. amin... :-) semangat mbak :-)

      Hapus
  12. Termasuk saya yang durasi waktu lebih lama untuk masuk ke dapur. Dinikmati saja. Semangat mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak, tapi kalau masakan habis jadi lega gitu ya... semangat... :-)

      Hapus
  13. Semangat mbak, tetap di rumah agar badai covid segera berlalu. Nggak mudah memang tapi ambil positifnya ya, yaitu jadi lebih kreatif bikin kegiatan di rumah aja.

    Kalau buat saya jadi rajin masak, karena kalo mau beli di luar cukup was-was dan butuh berhemat juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, saya biasanya kalau lagi males masak sore beli lalapan diluar. sekarang belumberani hehe.. hikmahnya jadi lebih hemat masak sendiri :-)

      Hapus
  14. Bagian yang jadi tambah pinter masak ini pass banged sama aku mba. Meskipun harus nyontek resep di cookpad atau instagram, tapi semangat buat masak sendiri. Insting ibu ibu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku jadi bisa eksekusi buku masak yang sudah dibeli kapan hari hehe... semangat buibu :-)

      Hapus
  15. Waah jadi Pinter masak. Sy emang jarang banget masak kalau kerja Di Kantor. Dan skarang kerja Di rumah meski masak. Tapi enggak pinter masak juga. Biasa Aja, emg enggak bakat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya IRT tapi bisa masak juga baru2 ini mbak hehehe... kayaknya klo pas kepepet gini jadi pinter dalam segala hal hihihi..

      Hapus
  16. Bener banget, ya. Semoga dengan adanya jarak ini bisa mendewasakan. Soal masak, saya jadi sering bolak-balik dapur buat nyiapin makanan, seneng, sih, kalau lihat anak sama suami lahap makannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, puas banget ya kalau makanan ludes gak bersisa. berasa dapet crown hahaha..

      Hapus
  17. Betul. Lebih aware dengan kesehatan melanda semua orang. Dan ini bagus efeknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, ini sih yang punya efek jangka panjang. jadi aware dengan hidup sehat. selama ini pokok gak sakit gitu males2an olah raga. sekarang kayak harus gitu. semoga sehat semua amin...

      Hapus
  18. aku bisa relate banget mba yang 'anakku nambah satu' wkwk. sejak suami wfh, jarak kami sekeluarga juga makin dekat. seneeeeng bisa kumpul teerus walaupun masih di masa pandemi ini. oiya akupun jadi merasa masak nonstop di rumah. perasaan baru masak, eh udah abis dan waktunya masak lagi hhe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwk... bener kan ya, itu si 'sulung' bikin senewen juga hihihi.. tapi seneng juga kan ya mbak kalo masakan habis gak bersisa. semangat buibu.. :-)

      Hapus
  19. Tempat saya bekerja juga kena imbasnya. Walaupun begitu, para karyawannya masih wajib bekerja di kantor. Beruntung sekali bagi yang bisa kerja di rumah... Semoga saja pandemi ini cepat berakhir...

    BalasHapus
  20. Amin mba, semoga covid segera berlamu. Memang menahan emosi banget, yang biasanya aku suka kulineran sekarang di tahan dulu. Terutama mudik, duh galau banget anatara ingin tapi haram.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga nahan gak mudik ini mbak, udah lama gak mudik. semoga sehat semua ya kita :-)

      Hapus
  21. berbakat sekali mb ^^ mobilny bagus. bisa jd referensi untuk mnghabiskan wktu brsama si kecil di rumah ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... aku suka bebikinan begini sejak sd mbak. sekarang 'kumat' lagi hihihi..

      Hapus
  22. karena jarak ini orang bisa belajar banyak hal ya Mbak, semoga pandemi ini segera berlalu biar bisa normal kembali.

    salam jarak dari #1m1c :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihihi.... baik kakak... #1m1c hehehe.. semoga dapet banyak pelajaran ya amin...

      Hapus
  23. Yang pasti aku jadi lebih pintar masak mbak hehehe dan bonding sama anak2 makin kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagi resep dong... hehe.. selamat menghabiskan waktu dengan keluarga :-)

      Hapus
  24. Anak saya belum sekolah jadi nggak terlalu update. Ternyata masa belajar dari rumah diperpanjang lagi ya dan emang dalam kondisi seperti sekarang ini berjarak itu demi kebaikan bersama ya Mbak. Apalagi setelah dirasa pshycal distancing ini juga ternyata memiliki banyak manfaat

    BalasHapus