Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Kunjungan Ke Dokter Anak? Ini Yang Perlu Disiapkan

Gambar
Kemarin, saya pergi ke dokter anak. Dua anak saya sedang sakit berjamaah. Penyakitnya hampir sama. Batuk pilek, disertai demam tinggi. Untuk Inara, flunya sudah seminggu lebih. Saya pikir common cold biasa. karena memang cuaca sedang tidak menentu. Lama-lama, suaranya ilang dong. Jadi suaranya kayak mbak Reza Artamevia. Serak-serak berat. Lalu, badannya mulai sumeng. Sedangkan masnya, nyusul batuk berdahak. Grok-grok. Kayak ada biji kedondong dalam tenggorokan. Tangan saya gatel pengen ngluarin tu dahak membandel. Batuknya bebarengan dengan flu juga. Beberapa hari kemudian, badannya panas Oke fix, kita ke dokter sekeluarga. Sebelum ke dokter saya biasanya melakukan persiapan terlebih dahulu. Hal ini saya lakukan agar hasilnya bisa maksimal dan memuaskan. Nah, agar kunjungan ke dokter ini bisa efektif, efisien, hati tenang, anak tentram, saya melakukan hal ini 1. Obserasi keluhan anak Sebisa mungkin pastikan mengingat berapa lama anak sakit. Keluhan apa

Imunoterapi, Harapan Baru Bagi Penyintas Kanker

Gambar
Almarhum bapak mengidap kanker otak stadium lanjut. Beliau meninggal 11 tahun lalu. Bulik saya, tahun lalu mangkat dengan diagnosis serupa. Kanker payudara stadium 4. Tahun sebelumnya, paklik saya, juga menghembuskan nafas terakhir dengan penyakit yang sama. Kanker pankreas. Diketahui sudah stadium lanjut. Ketiganya punya pola yang sama. Diagnosa awal bukan kanker. Tapi setelah dilakukan pemeriksaan lanjutan, kanker sudah menjalar kemana mana. Semuanya positif kanker setelah masuk stadium lanjut. Bapak dan paklik saya melakukan proses pengobatan yang sama. Kemoterapi. Sementara itu, bulik saya, hanya melakukan pengobatan alternatif untuk kanker payudara yang di deritanya. Di keluarga saya, pengobatan medis masih menjadi momok tersendiri. Takut dengan diagnosa dokter yang aneh-aneh. Dan sederet alasan lain untuk mangkir dari pengobatan medis. Bapak dulu juga pergi ke pengobatan alternatif selain juga melakukan tindakan medis untuk mengobati kankernya. Tapi, apa boleh d

Kapok Belajar Ilmu Parenting?

Gambar
“Itu lo dek ibuk, yang sukanya marah-marah” begitu kata mas Zafran saat adiknya nyari Ibunya. Sayapun tersenyum kecut. Ternyata satu kata itu yang selama ini ngendon di pikiran mas Zafran. Ibuk, yang sukanya marah-marah. Saya sadar, tiap kali mau marah, kadang sudah di tahan sampai kepala berasa pening. Tapi memang seringkali jebol juga. Lalu menyesal. Dan berulang dengan pola yang sama. Duh, nak, ibukmu ini bisa apa sih masalah mengendalikan emosi. Selama menjadi ibu rumah tangga, entah berapa kali saya merasa gagal menjadi ibu yang baik. Membaca buku-buku parenting, follow akun-akun pengasuhan, ikut kuwap tentang parenting. Apakah ini membantu saya menjadi lebih baik? Tidak juga. Apakah saya berhasil merespon tindakan si masnya dengan benar? Belum. Masih banyak failed-nya. Ternyata apa yang saya pelajari tadi tak lantas membuat saya menjadi ibu yang unyu-unyu nan menggemaskan seperti di akun-akun para influencer. Pengalaman 'gagal' menjadi ibu Pe

Menghadapi Fase Terrible Two Si Kecil

Gambar
Bulan depan, anak kedua saya, Inara, genap dua tahun. Sudah mulai pinter kalau punya keinginan. Maunya ini itu. kalau tak cocok, atau saya salah mengartikan keinginannya, nangis dah tu. Tantrum is my middle name . Begitu sepertinya tagline hidup Inara sekarang. Ditambah lagi, saya sudah mulai menyapih. Ini juga lagi dilatih toilet training . Wow sekali momentnya. Ditunggu ya tulisan tentang ini. J Nah, ternyata, ini adalah fase yang lumrah terjadi pada anak-anak. Namanya, terrible two . Fase yang biasa terjadi pada anak usia 2 tahun. Bisa kurang atau lebih. Menurut psikolog anak Wikan Putri Larasati MPsi, yang saya kutip dari Hai Bunda, “Biasanya diberi istilah demikian karena pada usia ini anak memiliki karakteristik umum. Seperti sering berkata ‘tidak’ karena dia nggak mau menurut kata orang tua. Lebih sering marah terkadang sampai temper tantrum, memaksakan keinginnanya, dan sebagainya”. Pinteret.com Oke baiq nak.. let’s make it easy for us Masih me

7 cara mudah mengajarkan toleransi pada anak

Gambar
Ilmu parenting memang tidak pernah ada habisnya. Selalu berkembang setiap generasi. Tentu, untuk menyesuaikan perubahan zaman. Pendidikan untuk anak generasi milenial akan berbeda dengan gen Z atau bahkan generasi alpha. Sama juga ketika saya ingin mengajarkan toleransi. Dulu, waktu masih SD, toleransi ‘sebatas’ menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Tapi, makin kesini, sikap toleran tidak hanya berkutat pada lingkup sekitar saja. Perkembangan teknologi informasi mengubah makna toleransi menjadi lebih luas. Apalagi, media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari. Seperti kasus perundungan di media sosial. Atau sikap intoleran kepada orang yang berbeda keyakinan. Makin kesini, kasusnya semakin ngeri.   Bagi saya, toleransi ini bukan cuma soal sifat yang musti ada dalam diri anak. Lebih dari itu. kemampuan menerima perbedaan adalah kebutuhan hidup dalam masyarakat yang beragam. Ah, saya memang sangat was-was untuk soal ini. Melihat berita-berita i