Tentang Passion versi IRT

by - Oktober 02, 2019



Akhir-akhir ini, ngobrolin masalah passion lagi ngetren di media sosial. Beberapa influencer mulai mengemukakan pandangan mereka terkait ini. Pemilik akun financial planner juga gitu. Ikutan nimbrung di urusan passion.

Lalu saya? ikutan lah berpendapat. Biar kek rang orang. Hahay.

Passion? Apa itu? barangkali itu yang saya rasakan waktu baca ig storinya Samuel ray @srl789 seorang HR professional tentang ini. Atau @Jonathanend yang femes itu. Kerja sesuai passion atau nerusin aja kerjaan yang sekarang meskipun gak sesuai passion?. Keduanya hampir sama pendapatnya. Kerja dulu yang bener, passion baru ngikutin. Klo sudah kenal cicilan dan tagihan, bodo amatlah sama passion. Begitu kira-kira kesimpulan dari dua orang ini.

Sebagai ibu rumah tangga bertara(i)f internasional (wow), saya punya pendapat sendiri tentang ini. Bukan dalam posisi salah atau benar ya wahai netizen. Ini lebih pada konteks masing-masing. Karena tiap orang punya ‘takaran’ sendiri mengenai ini.

Ini cerita tentang perjalanan saya ‘mengejar passion’.

Waktu SMP, saya punya cita-cita jadi pramugari. Kayaknya keren gitu pramugari bisa ngomong English cas cus. Terbang kemana mana gratis. Muka cantik tanpa cela. Begitulah pandangan seorang anak SMP tentang pramugari.
catching my passion. LOL
sumber: jagad.id
Menginjak SMA, saya mulai gak tertarik dengan pramugari. Lebih pada, postur saya yang gak tinggi tinggi amat alias pendek hahaha. Sayapun mengurungkan diri untuk menjadi pramugari.

Waktu SMA saya sempat berjualan pin by order. Jadi pinnya tu gambarnya bisa request gitu. Saya edit pakai word waktu itu. Laku dong. Kemudian buka jasa pengetikan tugas waktu kelas 2 SMA. Soalnya punya komputer baru. Sayang kalau gak menghasilkan cuan hahaha. Laku juga. Tapi waktu itu gak sempet kepikiran “Kayaknya bakat ku jualan deh”. Bapak ibuku memang penjual. Bisnis konveksi waktu itu.

Masuk kuliah, saya ikut SPMB ambil jurusan Hubungan Internasional. Gak keterima. Masukklah di Sastra Inggris, Brawijaya. Ambil Diploma 3. Setahun kemudian nyoba SPMB lagi dengan jurusan HI. Masih ngincer ini. dan keterima di Universitas Jember. Disinilah saya ‘terjerumus’ di dunia tulis menulis.

Selepas kuliah, saya diterima sebagai Jurnalis tv di salah satu stasiun tv swasta di Surabaya. JTV. Sembari kerja, saya jualan. Jualan baju online via Toko Bagus waktu itu. Laku. Lumayan banyak. Setahun kemudian, saya coba peruntungan dengan bisnis francise. Sego Njamoer. Yang anak ITS pasti tahu ini. Sukses?! Gak. Bangkrut. Duit dibawa yang jaga. Dari sini, saya juga belum bisa bilang “Kayaknya, passionku jualan deh”. Melihat beberapa kali saya selalu tertarik berjualan meskipun sedang melakukan pekerjaan lain.

Selama bekerja, lambat laun saya mencintai dunia jurnalistik. Meskipun buta sama sekali dengan wilayah Surabaya, saya sangat menyukai pekerjaan ini. Macet, deadline, suara computer PC tua yang tutsnya gampang ngambek, bantuin talkshow, VO, dan pengalaman seru lainnya.

Dari sini, saya juga gak kepikiran buat bilang “Ini passionku”.

Dua tahun bekerja, saya resign. Memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga. Karena kehamilan pertama agak bermasalah.

Saya menjadi IRT, nyambi jualan baju via online. Sekarang, lagi asik menekuni dunia blog. Sampai disini, saya juga gak merasa“Passion saya disini deh kayaknya”.

Pati sudah banyak yang tahu dong tentang kalimat love what you do sebelum nemu do what you love? Mungkin itu yang saya rasakan sekarang. Saya bahkan agak ragu apakah memaknai passion itu hanya bentuk tunggal. Missal, passionku berdagang. Ya itu saja yang dilakukan. Atau, passionku menulis. Ya itu saja yang dilakukan. Menulis.

Atau, pekerjaan  yang sesuai passion itu kayak gini. Kita kerja pergi pagi pulang malem tapi gak berasa capek karena seneng. Apa ini namanya passion?! I don’t think so.  Ada lagi misalnya, pekerjaanku sebagai marketing. Ini sesuai passion, karena aku suka berkomunikasi dengan orang baru. It sounds weird. Asli. Saya juga belum ngeh betul sebenernya passion ini arahnya kemana sih?!

Saya lebih sreg dengan quote ini. Saya lupa ini punya siapa.
Doing what you like is freedom
Liking what you do is happinest

Maksud saya begini

Jika kamu eh saya bisa mengerjakan apa yang saya cintai, itu sungguh sebuah privilege yang patut disukuri. Tapi, jika saya dihadapkan pada liking what you do. Itu, sungguh membahagiakan.

Menulis di blog is doing what I like. Sedangkan menjadi ibu rumah tangga bagi saya adalah liking what I do. Dan keduanya, gak ada yang merugikan tuh.

Jadi, menurutku gak seteknis kerja aja dulu yang bener, passion dipikir nanti. Menurutku kok seperti ada yang memisahkan antara keduanya. Padahal, bisa lo disatukan. Bagi saya ini tentang cara berfikir. Dan menentukan bahagia versi kita sendiri. Bukan orang lain.

Eh, paham gak sih saya dari tadi ngomong apaan?! Hahaha… sekedar curhat.

Passionmu apa bu? sharing yuk









You May Also Like

4 comments

  1. menarik~
    tapi somehow, deep inside our heart,
    kita tau kok "kerjaan" apa yang bikin kita "sparkling"
    time will tell menurut aku
    hehehe

    BalasHapus
  2. Kalau bisa love what you do, mungkin hasilnya akan lebih baik dan membahagiakan ya bu..

    BalasHapus