4 Cara Mengajari Anak Menyela Pembicaraan

by - Mei 18, 2020


“Buk, bikinin pesawat ini gimana?” kata mas Zafran (6), saat saya lagi ngobrol dengan tetangga sebelah yang datang pagi itu.

Lain hari

“Buk, ayo… atu mu mandi…” teriak Inara (2). Padahal, tadi disuruh mandi sore susah banget. Giliran ibuknya ngobrol sama tamu, dia teriak-teriak minta mandi.

Pernah ngalamin hal serupa bu? tos dulu kita. Rasanya ini kepala pengen jedukin ke tembok. Padahal, sudah berulang kali saya kasih tahu si anak.

“Kalau ibuk lagi ngomong sama ayah, atau orang lain, tunggu sampai selesai. Baru kamu ngomong. Jadi yang ngomong gantian. Biar ibuk ngerti kamu mau apa”

Dijawabnya “Oke” sama mas Zafran.

Jawaban oke selalu berarti dua. Dia ngerti apa yang saya omongin. Atau iya-in aja biar cepet. Duh…..

Kejadian ini hampir selalu berulang. Kalau saya lagi ngobrol sama tamu, tetangga, atau bahkan ayahnya, mereka berdua ini selalu ‘berebut’ perhatian. Kalau tidak segera diladeni, ada yang teriak, ada juga yang terus ngomong, sembari narik-narik baju buat cari perhatian. Wow, saya berasa artis yang dikuntit fans.

Tapi bukan minta foto. Seringkali mereka ingin membicarakan hal-hal ‘sepele’. Seperti, buk, lihat ada kucing mau ee’ depan rumah,  Atau masnya yang sebenarnya sudah bisa diajak kompromi untuk kasus ini, juga masih butuh perhatian. “Buk, lihat bisa to” katanya sambil joget-joget saat bisa menyusun lego.

Mengapa anak cenderung menyela pembicaraan orang lain?

Menurut psikolog Daniel Koh, dikutip dari laman Smart parents, anak-anak menyela karena beberapa alasan. “Mulai dari bersemanat, mencoba menarik perhatian dan berusaha mengatakannya, hingga memiliki ketrampilan sosial yang buruk”. 

Selain itu, masih menurut Koh, anak dari keluarga yang lebih banyak bicara cenderung menyela. Anak dengan kondisi seerti ADHD juga cenderung lebih banyak mengganggu, karena mereka lebih sulit mengendalikan impuls mereka.

Mereka bahkan mungkin tidak menyadari bahwa mereka sedang mengganggu, dan bahwa perilaku mereka mengganggu orang lain.
***

Di rumah, anak saya juga sering menyela pembicaraan. Baik saat saya dan suami ngobrol, atau saat ada tamu. Apalagi, kalau saya ’ketahuan’ ngobrol dengan anak lain seusianya. Pasti mas Zafran atau Inara langsung ikut nimbrung.

Jika saya perhatikan, dua anak saya ini kayak gini

Bosan

Barangkali ini yang dirasakan mas Zafran atau Inara saat di tempat umum. Biasanya intensitasnya lebih sering saat saya ngobrol dengan orang lain pas kita lagi jalan-jalan keluar. Mereka merasa dicuekin dan bosan karena tidak dilibatkan dalam pembicaraan.  

Minta perhatian

Menyela pembicaraan menjadi tanda bahwa mereka butuh perhatian lebih saat itu juga. Nah, ini menurut saya yang harus diberi penjelasan. Bahwa apa yang mereka inginkan saat itu juga, tidak bisa langsung mereka dapat. Mereka musti belajar menunggu, sabar, dan menanti giliran.

Mungkin mereka memang belum mengerti bagaimana cara mengungkakan sesuatu saat mereka ingin. mereka hanya tahu, keiginan itu harus tersampaikan saat itu juga. Anak-anak ini memang belum paham betul, apa itu menyela pembicaraan. Apakah yang dilakukan selama ini benar, atau justru mengganggu banyak orang. So, mereka butuh penjelasan yang serius tentang ini.

Bagaimana cara menjelaskannya?

1. Monkey see monkey do

Ibu adalah role model anak-anaknya. Jadi, mengajarkan anak untuk tidak meyela pembicaraan musti dimulai dari diri sendiri.
Sumber: Etsy.com

Caranya?

Dengan tidak menyela saat anak berbicara. Dengarkan apa yang mereka katakan. Bahkan, ketika saya tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Jangan lupa eye contact. Kalau sudah begitu, biasanya mas Zafran akan bilang “Aduh, ibuk kok gak ngerti-ngerti sih”. hehehe.


Apakah dengan begitu saya tidak pernah menyela? Oh tidak. Anak bisa lebih cerdik dari kita. Misalnya. Mas Zafran, biasanya akan bercerita panjang lebar saat saya menyuruhnya mandi. Ceritanya gado-gado. Bisa tentang pengalaman di sekolah, cita-cita, atau mau makan apa besok.

Artinya, dia sedang mengulur waktu, agar mandinya bisa ditunda. Nego alus. Kalau sudah ceritanya tak tentu arah, itu berarti, doi kehabisan cerita, dan tak tahu musti ngelanjutin apa lagi.

Sebelum saya kena hipnotis dengan ceritanya, saya cut “Yasudah, dilanjut nanti kalau kamu sudah mandi”. Mukanya langsung berubah, tapi terus mandi hahaha… 1:0.

2. Beri pengertian

Memberi pengertian kepada anak memang susah susah sulit. Apalagi soal menyela pembicaraan orang lain. Prosesnya gak berhenti pada satu peristiwa itu saja. Anak gak otomatis paham. Tapi, saya yakin, mereka akan terus belajar untuk tahu, bahwa menyela pembicaraan orang lain itu tidak baik.

Bahkan, bisa melukai hati. Menyela pembicaraan juga tidak sopan. Bisa menyinggung perasaan. Jadi, sebaiknya, menunggu giliran berbicara. Itu termasuk pelajaran etika dan rasa hormat.

3. Ajari apa yang harus dilakukan

Nah, ini langkah selanjutnya untuk mengajari anak menyela pembicaraan. Maksudnya, bukan saya membenarkan cara mereka seperti di atas. Tapi, ada cara lain yang barangkali bisa diterapkan untuk menyela obrolan, jika memang diperlukan. Tanpa merugikan salah satu pihak. Saya masih bisa melanjutkan obrolan, sedangkan anak-anak juga dapat perhatian.

Atau, jika ada hal-hal yang mendesak, seperti harus buang air kecil, terjadi kebakaran, atau pencurian. Seperti ini

➥Ajari Bahasa isyarat

Ini dulu yang saya ajarkan ada Zafran saat seumuran Inara, atau lebih besar dikitlah ya. Tentang Bahasa isyarat. Bukan Bahasa yang digunakan teman-teman tuna rungu atau tuna wicara, tapi lebih pada bahasa isyarat sederhana yang mudah dipahami.  

Fungsinya, agar saya masih bisa melanjutkan obrolan. Sedangkan anak, tetap mendapatkan perhatian. Meskipun tidak langsung. Biasanya cara ini juga saya gunakan saat makan atau minum. Pernah kan buibu saat makan atau minum lalu si anak merengek minta ini minta itu. Padahal, itu makanan udah di ujung tenggorokan. Daripada keselek, saya pakai cara ini.

Bahasa Isyarat | freepik
  • Tangan terbuka, mengarah ke si anak. Artinya, tunggu sebentar, ibuk sedang ngobrol atau lagi minum di tegukan terakhir.
  • Telunjuk satu diarahkan ke mulut. Artinya, diam sebentar, jangan teriak. Ibuk lagi ada tamu.
  • Jempol. Artinya, bagus, sudah oke. Biasanya saya gunakan saat anak tiba-tiba menunjukkan sesuatu yang butuh apresiasi. Menunjukkan gambar, warna, atau kresasi buatanya. Bagi mereka,  dunia harus tahu saat itu juga.
  • Memegang tangan atau menepuk pundak. Artinya, mereka sedang minta perhatian. Ada yang ingin disampaikan. Bisa beralih ke anak dulu sebenatar, lalu melanjutkan obrolan.
  • Jangan lupa eye contact. Ini menandakan, kita memberikan perhatian pada mereka. Tapi gak sekarang. Nanti, ditunggu, sabar. Begitu kira-kira.
➥Membaca gerak bibir

Cara ini menghindarkan saya untuk berteriak. “Sebentar……..!!!!!”. Gak boleh kan ya…. jadi, saya pilih se--ben--tar. Tanpa suara. Dengan mimik yang tegas, sejajarkan mata. Biasanya mereka akan diam. Sebentar.


Ini juga membuat anak cepat bicara. Mempelajari kosakata baru, dan melafalkannya dengan jelas. Seperti Inara. Dia bisa melafalkan nama binatang dalam buku bergambar. Dengan mulut munyu-munyu. Persis seperti yang saya ajarkan. Lucu sekali buat hiburan hehe…

➥Ajari berbisik

Saya suka cara ini. Anak tidak berteriak. Mendekat, lalu membisikkan apa yang mereka inginkan. Saya gak merasa terganggu dengan teriakan, atau tarikan baju. Keinginan anak tersampaikan, saya juga lebih jelas mereka maunya apa. Win win solution.

4. Beri apresiasi

Apresiasi itu penting. Anak jadi tahu, bahwa apa yang mereka lakukan itu benar, dan patut mendapatkan perhatian khusus. Ini juga akan membuat anak senang melakukan kebaikan. Termasuk menunggu orang lain selesai berbicara.


Ucapkan terimakasih karena sudah sabar menunggu, atau peluk sambil bilang “Terimakasih karena sudah gak teriak lagi” atau, berterima kasih karena sudah belajar tidak menyela pembicaraan.

Apakah cara ini berhasil? Belum. Mereka belum ‘disiplin’ menerapkannya. Tapi, saya yakin, mereka dan saya juga lagi belajar untuk saling mengerti. Paham kondisi. Peka pada situasi.

Bagi saya ini juga termasuk life skill. Penting untuk dipelajari. Belajar sama-sama ya nak. Karena, semua murid semua guru. 

Kalau kamu, gimana bu? punya cara lain?





You May Also Like

2 comments

  1. Yg pakai bahasa isyarat kayaknya bagus diterapkan utk anakku :D. Karena mereka paling suka niih kalo ada hal baru yg bisa di pakai, apalagi kalo iming2 bahasa isyarat = bahasa rahasia :p.

    Pasti semangat untuk mereka inget2. Anak2 memang sering begini yaaaa. Tp biasanya mereka suka nyela pembicaraan pas aku dan papinya anak2 sdg ngobrol mba. Pasti deeeh itu lgs nimbrung semua hahahaha. Udh berkali2 diksh tau jgn nyela pembicaraan, ttp aja suka lupa :D.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ya anak2 tu paling suka klo menjadi spesial. termasuk kode rahasia yang cuma di adan ibunya yang tahu. musti belajar lagi nih mbak :-)

      Hapus