Tips Hidup Minimalis versi IRT

by - Januari 21, 2020



Ngomong-ngomong soal minimalis, saya jadi teringat mbah saya. dulu, mbah saya itu kalau lagi ada uang, beli perabot seperti piring dan piranti dapur lainnya. Untuk piring, biasanya beli lusinan. Kalau pas bokek, dijuallah itu perabotan.

Lain hari, mbah saya yang lain pernah punya wejangan. “Ojo tuku gombal ae” (jangan beli baju terus). Katanya, baju akan berakhir jadi serbet piring.

Dari obrolan singkat di atas, sebenarnya, orang tua dulu sudah menerapkan yang namanya hidup minimalis. Bedanya, mereka tak bisa menjelaskan, langkah apa saja yang perlu dilakukan untuk ke arah sana. Belio-belio ini hanya berbekal feeling, pengalaman hidup, asam garam laku, dan pahit manis keseharian.

Dulu, saya menganggap mbah saya ini hemat, kalau tak mau dibilang pelit hihihi. Semua muanya dibeli berdasar mana yang butuh, bukan apa yang pengen. Makin kesini, memori-memori tentang pelajaran hidup dari mbah saya ini sangat berguna. Dan justru kekinian.

Fumio Sasaki dalam dalam buku Good Bye Things! Sepertinya terinspirasi dari mbah saya. hahahaha. Ya masak iya. Menurut  Fumio, hidup minimalis bukanlah tentang memiliki barang sesedikit mungkin, tapi memperlakukan barang dengan tepat. Tahu barang mana yang kita butuhkan daripada yang kita inginkan. Menempatkan barang yang bersifat pokok, dan mengurangi kepemilikan benda demi memberikan ruang pada hal-hal utama.

Sama dengan Fumio, minimalis menurut Dave Bruno, penulis buku The 100 Things Challenge, juga begitu. Di kutip melalui Media Indonesia, Dave memaparkan ada 3 cara hidup minimalis. Reduce (mengurangi), refuse (menolak barang tidak berguna) dan rejigger (menata ulang).

Saya kira keduanya punya semangat yang sama. Dalam rangka mengurangi sampah yang menjadi masalah global. Dengan mengurangi penggunaan barang yang tidak perlu, kita juga berperan mengurangi sampah baru. Tentu untuk masa depan generasi mendatang yang lebih baik.

Nah, setelah berumah tangga dan punya anak, sepertinya susah sekali menerapkan hidup minimalis. Tahu kan, bagaimana emak-emak kalau sudah lihat barang lucu-lucu untuk anak. Biasanya langsung kalap. Atau membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Misalnya, topi keramas, tempat duduk buat mandi anak, dan printilan menggemaskan lain. Tentu setelah melihat iklan produk-produk perlengkapan anak yang ‘memudahkan’ itu.

Makin kesini, saya mulai sadar. Bahwa barang-barang yang ada dirumah, tidak semuanya difungsikan dengan baik. Apalagi, mempertimbangkan besar rumah. Semakin lama, barang semakin numpuk, dan itu, membuat saya senewen.

So, awal tahun ini, saya mulai belajar lagi tentang hidup minimalis. Tentu ala saya. karena saya beranggapan, tidak semua metode minimalis, cocok dan pas buat saya. Ibu-ibu beranak dua dengan suami hobi naik gunung. Printilannya banyak.


1. Stop beli mainan baru

Ini yang saya terapkan untuk dua anak saya. Zafran (6) dan Inara (2). Main yang ada di rumah. Bisa juga dengan membuat mainan sendiri dari bahan kardus.


Bisa juga dengan membuat mainan lama menjadi baru. Seperti robot ultramen ini. Zafran kepingin beli Ultramen Raja. Ultramen dengan jubah merah. Saya bilang "Kita bikin sendiri yuk". berbekal kain flanel bekas tas kucing milik adiknya, jadilah jubah ultramen raja. Jadi mainan baru kan?! 

Ultramen raja. Jubahnya bikin sendiri. Jadilah mainan baru
Selain lebih hemat, membuat mainan sendiri juga punya banyak manfaat.


2. Membuang barang yang tak terpakai

Ini cukup sulit. Karena saya termasuk orang yang suka menyimpan banyak kenangan. Seperti “Wah, ini bantal Zafran pas masih bayi”, atau “Ini sepatu waktu Inara pertama kali bisa jalan” dan kenangan-kenangan yang bikin saya enggan membuangnya.

Kemarin, saya mulai keras dengan diri sendiri. Mainan, barang-barang lama yang sekiranya tidak terpakai, buang.  Beberapa baju punya Zafran yang masih bagus, dan bermerek, saya jual ulang. Nitip jual di akun pre love.

Printilan bayi Inara seperti kursi mandi, stroller, pompa asi, masih saya simpan. Barangkali saya nanti punya ponakan baru, bisa disumbangkan. Baju-baju ayahnya yang kekecilan saya kasih ke orang yang membutuhkan.

Mungkin nanti, itu perlengkapan naik gunung, bisa juga saya jual. Menuhin kamar. Toh dipakainya setahun paling sekali. Kalau mau pergi-pergi bisa sewa alat kan ya pak! Tag suamiku. J

3. Memanfaatkan barang bekas

Mulai beberes dapur. ternyata banyak barang tak terpakai yang bisa dimanfaatkan. Seperti botol oralit punya Zafran waktu sering diare ini. Ternyata sudah kadaluarsa. Saya sulap jadi pot bunga dalam ruangan. Tinggal nambahin ikan hias. Sepertinya keren.
Botol bekas oralit
Sementara itu, botol bekas air mineral, saya kumpulkan. Kalau sempat mau bikin pot bunga. Kalau tak sempat ya, saya jual ke tukang loak.


4. Remake baju lama

Sebenarnya saya butuh mesin jahit untuk melakukan ini dengan baik. Tapi karena gak ada, ya pakai yang ada. Seperti baju jumpsuit punya saya ini sudah kekecilan. Saya gak pede makainya. Saya potonglah itu jadi dua. Bawahannya bisa jadi celana harian. Atasanya, saya pakai daleman baju. Harusnya sih bekas potongan dijahit dulu. Tapi karea gak ada, yasudah dipakai saja langsung.
Jumpsuit lama jadi celana harian
Baju-baju lama yang sekiranya sudah gak oke dipakai, ternyata bisa di mix and match. Seperti baju lawas ini bisa tampak oke dipadukan dengan kerudung kekinian. Kata suami, kerudung dengan motif cat tumpah. Itu abstrak yah, abstrak! Duh!

Ini sudah menerapkan hidup minimalis belum ya? hahaha…

Oh iya, yang mau belajar hidup minimalist ala ibu rumah tangga, bisa follow akun-nya mbak @rindasukma_. Mbak rinda ini juga menulis tentang tips keuangan ala IRT sarjana. Tentang mental miskin. Dan hal-hal related banget dengan kehidupan emak-emak yang penuh drama.

Udah beberes apa saja hari ini bu? 









You May Also Like

20 comments

  1. "Mungkin nanti, itu perlengkapan naik gunung, bisa juga saya jual. Menuhin kamar. Toh dipakainya setahun paling sekali. Kalau mau pergi-pergi bisa sewa alat kan ya pak!"

    Kayanya ini bakalan dramatis hehehehe.

    Ternyata nggak semua kebutuhan itu bisa diselesaikan dengan beli baru ya. Recycle dan remix barang-barang lama bisa jadi salah satu solusinya.

    Kalau untuk anak saya, saya terapkan 1 in 1 out rule, 1 mainan baru masuk, 1 mainan lama keluar.

    Memang hidup minimalis itu bukan kompetisi sedikit-sedikitan barang, karena tiap orang punya kebutuhan yang berbeda, personal value yang beragam dan berbagai printhilan yang nggak sama. Lagipula hidup minimalis itu bukan tujuan, melainkan cara untuk menjalani hidup lebih baik.

    Lah hidup lebih baiknya tiap orang kan lain-lain.

    Menurut saya sih gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kita tunggu episode selanjutnya ya hehehe...
      saya terapkan 1 in 1 out untuk baju sih sebenarnya. tapi masih belum konsisten. yang penting sudah dimulai dulu ya kak :-)

      Hapus
  2. Baru aja tadi pagi aku beberes lemari pakaian. Aku juga sempet baca bukunya Fumio Sasaki dan nonton yutub minimalist Indonesia. Aku belajar melipat baju ala marie kondo. Ternyata baju2 yg tadinya 2 rak setelah dilipat dg rapi bisa muat cukup 1 rak aja. Terkejut aku! Haha

    Dan baju2 lama yg dulu entah kenapa aku gak mau pake lagi, aku cuci ulang dan bakal aku pake lagi dengan mix and match baju yg lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah... semangat mbak... aku juga lagi beberes baju lama. masih oke kok dipakenya :-)

      Hapus
  3. Saya juga tipe yang menyimpan kenangan hahaha jadi malah banyak banget barang kenangannya. Memang harus tega buat ngebuangin ya mbak, Minggu kemarin juga habis beberes ada 2 gunung, agak legaan dikitlah rumahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. aplaagi kalau kenangan anak-anak. suka baper sendiri hehehe... padahal kalau sudah ilang juga gak bakal kepikiran lagi sih hihihi...

      Hapus
  4. Wah, cocok banget nih, Mbak, tipsnya buat aku pakai kelak kalau sudah punya anak. Belum ada anak aja aku udah kebayang pengen beli perintilan-perintilan barang yang lucu-lucu itu. Entah gimana jadinya aku ini kalau sudah ada anak, bisa gak ya, tetap hidup minimalis.😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahaha... musti keras sama diri sendiri memang. beli sesuai kebutuhan. semangat buat kita.. :-)

      Hapus
  5. Point nomor 2 itu yang paling susah. Mau dibuang sayang, kalau nggak dibuang kesel sendiri ngelihat lemari penuh dan berantakan :-(

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang musti keras sama diri sendiri ya mbak, soalnya kalo gitu terus bisa-bisa beli lemari lagi hehehe...

      Hapus
  6. Aku paling seneng deh declutter hehehe..berasa legaa..kebetulan bersodara byk, printilan yg ga dipake lagi suka aq share ke grup ade2, tinggal pada nge-tek-in deh hehe. Kadang paling susah sama kardus2an mba xp nyimpen2 lama sampe banyak, tapi eksekusi diy nya molor :D. Tipsnya keren2...tfs

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah... sama dong, adik2q klo dirumah juga ada acara bongkar lemari hehehe.... DIY tu menyenangkan n memuaskan, tapi mulainya agak 'susah' hihihi

      Hapus
  7. sebenarnya kalau mau hidup minimalis harus kompak dengan suami. saya sih mencoba mengurangi beli barang2, karena memang tidak suka rumah terlalu penuh. eh, tapi bolak balik datang suara "PAKEEEET" ternyata suami yang sering belanja. susah mah kalau begini, ga kompak. hehhee...

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwkwkwk.... padahal biasanya buibu ya yg "pakeeett". ini lagi kompromi lagi sama suami. bapak2 klo sudah punya hobi tu susah..... dibilanginyya (jadi curhat) hahahaha..

      Hapus
  8. Jujur aja di rumah setiap beberes selalu membuang banyak barang tapi setelah itu penuh lagi. Ya pasti alasannya karena suka membeli barang karena ingin bukan karena butuh :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku sudah mulai one in one out ini. kalo ada satu barang masuk, harus ada barang yang keluar. tapi ini masih soal baju sih, semoga bisa nular ke lainnya. barang banyak tu emang bikin pusing ya mbak

      Hapus
  9. Jenis barang yang paling banyak di rumah sekarang ini adalah baju, perintilan anak dari bayi dan buku. Tiap kali milihin baju yang udah nggak bakal dipake lagi, lemari plong hati pun ikut plong hahaha yang masih belum nemu caranya adalah buangin barang elektronik nih, charger rusak numpuk bingung diapain ):

    BalasHapus
    Balasan
    1. diloakin aja mbak. biasanya ada yang mau itu. dirumahku ada tukang loak keliling. jadi tinggal nunggu lewat

      Hapus