Tentang Cita-cita #zafranask

by - Desember 23, 2019


Gantungkanlah cita-citamu setinggi langit. Sering sekali kan mendengar kata-kata bijak seperti ini. Kalau orang dewasa mungkin ini kalimat paling utopis. Tapi bagi anak-anak, cita-cita itu seru, menyenangkan. Padahal, mereka mungkin belum paham apa itu cita-cita. Tapi, memperkenalkan cita-cita kepada anak sejak dini itu seru. Selain untuk memupuk imajinasinya, anak juga semakin percaya diri atas apa yang dia pilih. Tentu dengan dukungan dari orang tua.

Nah, seperti mas Zafran. Sebelum bisa bertanya tentang arti cita-cita, mas Zafran (6,5y) sudah punya keinginan untuk menjadi supir excavator. Bisa jadi, karena dirumah banyak mainan truk, excavator (dulu dia menyebutnya traktor). Baginya, traktor itu keren, besar, dan akan sangat keren kalau dia bisa mengendalikannya.

Dia juga menyukai beragam alat berat lainnya. Truck molen, dump truck, truck tanki, crane. Saat diajak jalan-jalan, matanya selalu berbinar-binar saat melihat salah satu alat berat itu melintas di jalan. Sambil nunjuk-nunjuk kegirangan.

Kira-kira usia 4 tahun, keinginannya berubah setelah melihat truk pemadam kebakaran. Dia ingin menjadi petugas pemadam kebakaran. Bisa memadamkan api yang besar dan menolong orang yang terjebak dalam kebakaran. Padahal, saat masuk KB dulu, dia takut memadamkan api. Tapi, cita-citanya untuk menjadi pemadam kebakaran masih bertahan.

Imajinasinya terus berkembang. Ia ingin menjadi supir kereta api. Kegandrungannya terhadap kereta api ini pernah bikin saya senewen. Tiap kali di ajak jalan-jalan, pas melewati lintasan kereta, dia selalu minta berhenti. Menunggu kereta datang.

Saat mudik ke Tulungagung, kunjungan pertama adalah stasiun kereta api dekat rumah. Nungguin disitu sampai kereta datang. Kalau kereta datang, dan kebetulan melihat masinis kereta, dia dadah dadah tu kayak putri Indonesia nerima award. Tapi pas klakson bunyi, doi ketakutan. Duh nak…

Yang bikin geleng-geleng lagi, saat saya ajak mudik naik kereta. Saya pikir dia bakal senang dan happy di dalem kereta. Ternyata tidak pemirsa. Dia gak sabar. Katanya lama, dan pengen cepat turun. Padahal masih separuh jalan.

Waktu terus berjalan. Kali ini, dia ingin menjadi polisi. Pakai seragam, mengatur lalu lintas, punya senjata. Suka nangkep orang jahat. Begitu imajinasinya saat itu.

Lambat laun, usianya bertambah. Dia mulai menanyakan apa itu cita-cita.

“Buk, cita-cita itu apa?” begitu dia bertanya

“Cita-cita itu kayak keinginan kamu waktu sudah besar nanti pengen jadi apa” jawab saya

“Aku pengen jadi tentara” jawabnya

“Oke”

Keinginannya ini dipengaruhi oleh kegemarannya melihat super hero. Kemudian, ayahnya memperkenalkan dengan beberapa macam game mobile. Berbaju tentara, membawa senjata, dan berperang. Baginya, itu sangat keren.

Bahkan, saat mendapat hadiah ulang tahun berupa baju corak tentara, ia memakainya berulang kali. Cuci, kering pakai. Sembari membawa tembak dengan bunyi tretet tretet. Anak-anak tetangga juga diajak main serupa perang-perangan.

Suatu hari, saya pernah bertanya.

“Mas kenapa suka perang-perangan?”

“Soalnya bisa bunuh orang jahat buk” (wow, bunuh orang jahat)

“Emangnya kenapa dibunuh?”

“Soalnya dia jahat”

“Emang gak bisa diajak ngomong baik-baik gitu?” (saya mulai khawatir L)

“Ini kan lagi perang”

“Oh, oke”

Baiklah saya biarkan imajinasinya berkembang. Meskipun saya juga takut kalau-kalau adegan perang-perangan itu dia praktekkan juga di rumah sama adiknya. Hem...

Menurut psikolog anak Ratih Zulhaqqi (Kompas.com, 02/11/’14), beragamnya cita-cita anak merupakan sesuatu yang wajar. Mereka juga belum mengetahui bakat dan minatnya. Bahkan, kadang cita-cita mereka nampak tak masuk akal bagi orang dewasa. Seperti ingin menjadi pohon, princess, atau kuda.

“Ini bisa dipengaruhi karena metode belajar yang diterima dan apa yang dilihatnya di lingkungan sekitar” kata Ratih Zulhaqqi.

Menurut Ratih, kebanyakan anak mampu menetapkan cita-citanya di usia 15 tahun. Di usia tersebut mereka mulai menemukan minat dan bakatnya.

Lalu, bagaimana cara menumbuhkan cita-cita pada anak? 

1. Membacakan Cerita

Membacakan cerita pada anak menjadi salah satu cara memupuk imajinasinya. Setelah mengenal potensi anak, kita bisa membacakan buku sesuai yang diminati. Biasanya mas Zafran minta dibacakan buku saat mau tidur. 

Ini beberapa buku yang saya belikan saat mas Zafran sedang sibuk gonta ganti cita-cita.

Misalnya, saat anak saya suka dengan berbagai alat berat, saya membelikan buku tentang truck seperti ini
Atau saat dia ingin menjadi petugas pemadam kebakaran, buku ini bisa menjadi bacaan yang menyenangkan.
Di dalamnya ada puzzle peralatan damkar. Sekaligus cerita tentang aksi pemadam kebakaran

2. Bermain Peran

Luangkan waktu untuk bermain dengan anak. Membuat mainan dari bahan-bahan yang ada di sekitar rumah. Diskusikan dengan anak peran apa yang akan dilakukan dan siapa yang memainkannya. Selain menambah bounding antar orang tua, anak juga belajar untuk bekerja sama.

Seperti saat mas Zafran ingin menjadi super hero. Dia ingin baju perang. lengkap dengan tameng dan senjatanya. Bikinlah kita knight costume. Seperti ini.
Knight costume dari kardus
Saya pernah membuat palang pintu kereta api dari kardus. Ini saat mas Zafran punya cita-cita jadi sopir kereta api (masinis)

Palang pintu kereta api dari kardus

3. Mengenalkan beragam profesi di dunia nyata
Ini bisa dilakukan dengan mengajak anak untuk berkunjung ke rumah saudara yang memiliki profesi berbeda. Tujuannya untuk memberikan gambaran peran-peran orang dewasa. Kunjungan juga bisa dilakukan saat orang dewasa tersebut bekerja. Anak bisa melihat langsung pakaian, peralatan dan situasi yang dihadapi di lingkungan pekerjaan.

Kalau yang ini sih biasanya mas Zafran sering melihat bapak-bapak tentara lewat atau pas jalan sehat. Maklum, rumah berdekatan dengan kompleks TNI. 

Atau saat jalan-jalan ketemu sama polisi. Saat itu sedang mengatur lalu lintas. Dia langsung bertanya tentang tugas dan printilan yang dipakai pak polisi. Seperti peluit, tongkat, sepatu, topi, rompi dll.

4. Mengenalkan tokoh terkenal

Anak-anak biasanya mengagumi tokoh tertentu. Di usianya yang baru 6 tahun, dia menyukai super hero yang biasa ditonton di tv atau youtube. Kondisi ini lantas saya gunakan untuk mengenalkan tokoh superhero sebagai seseorang yang kuat. Namun, kekuatan yang dimiliki tidak serta merta di dapat. Ada usaha dan kesungguhan untuk terus mempertahankan kekuatan tersebut. Pengenalan ini juga bisa dilakukan saat anak membaca buku.

Suatu hari, mas Zafran ingin beli wayang. Werkudoro atau biasa disebut Bima. Saya sendiri tidak begitu hafal dengan tokoh pewayangan. Tapi karena dia mulai melirik mainan ini, saya manfaatkan untuk bercerita lebih jauh tentang si Bima ini. Mulai siapa dia, apa senjatanya, bagaimana kisah kepahlawanannya. Tentu dengan bantuan mesin pencari. hehehe..

5. Beri dukungan

Meskipun cita-cita anak ini masih sering berubah, memberikan dukungan tetaplah penting. Caranya, dengan melakukan keempat langkah yang sudah saya sebutan di atas. Menurut saya, imajinasi yang terus diapresiasi dan didukung bisa meningkatkan kepercayaan diri. Kepercayaan diri ini bekal untuk meraih cita-citanya kelak. Cita-cita yang suatu saat akan membentuknya menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan bermanfaat untuk banyak orang. Amin... 

Jadi, menurut saya, yang tak kalah pentingnya adalah jangan sampai orang tua memaksakan cita-cita kepada anak. Barangkali masih ada orang tua yang belum bisa meraih cita-cita di masa lampau, kemudian memaksakan anak untuk mengikuti keinginannaya. Duh, jangan ya buibu.

Kerena, setiap generasi punya masanya sendiri. Tantangan generasi milenial, sudah berbeda dengan generasi Z atau generasi alpha.

Sebagai orang tua, tugas kita hanyalah memberikan stimulasi, dorongan, dan pendampingan untuk dapat menggapai cita-cita mereka. Jangan lupa berdoa. Usaha dan doa, bisa jadi pasangan ciamik untuk mewujudkan cita-cita.

Anaknya punya cita-cita apa buk? jadi pohon? Princess? Ah menggemaskan sekali… sharing yuk..







You May Also Like

2 comments

  1. Anak-anak memang masih terus berkembang & gonta ganti cita-nya ya mba. btw aku dulu juga pernah tinggal di Tulungagung selama 7 tahun mba. Tapi sekarang sudah balik Kediri lg :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mbak. yang penting tetep didukung aja biar anaknya pd. wah deket berarti ya... :-)

      Hapus