Menu Khas Lebaran di Kota Marmer

by - Mei 13, 2020


Menu khas lebaran selalu mengingatkan saya pada kampung halaman. Saya lahir dan besar di Tulungagung. Sebuah kota kecil di Jawa Timur.

Jika Jombang terkenal dengan kota santri, Tulunggung lebih dikenal sebagai kota marmer. Konon, marmer Tulungagung punya kualitas kelas wahid. Di daerah Besuki, marmer telah dieksor ke berbagai belahan dunia.

Selain marmer, dulu, Tulungagung dikenal sebagai kota banjir. Saya ingat waktu kecil, sungai depan rumah meluap sampai ke jalan. Untung gak sampai masuk rumah. Saat ini, Tulungung sudah jauh lebih modern. Kedai kopi kekinian menjamur di tiap sudut kotanya. Banjir? bye bye.

Tulungagung juga dikenal sebagai salah satu kota santet. Konon, santet Tulungagung lebih mujarab daripada Banyuwangi. Ah, itu cerita dari mbah saya. Antara percaya dan tidak. Urusan klenik begini susah klo pakai logika.

Untuk kuliner, Tulungagung juga punya menu khas. Ayam Lodho. Makanan berbahan ayam, dengan kuah santan kuning yang kental. Saya pernah menulis resep lodho di blog ini. Sila baca.


Kali ini, saya tidak akan membahas tentang lodho lagi. Tapi menu lain yang tak kalah nikmatnya. Kudapan yang selalu ada di rumah mbah-mbah sepuh saat lebaran idul fitri.

Apa itu?

1. Tapai Ketan

Mungkin di daerah lain, ada juga makanan seperti ini. Tapi soal rasa, mbah saya tetap juaranya. Sayang, mbah sudah meninggal. Sajian tapai ketan, terakhir saya jumpai pas lebaran 3 tahun lalu.

Itu di rumah.


Kalau sedang berkunjung ke rumah mbah yang lain, saya selalu ngincer tapai ketan di meja. Mon maap nih ya, silaturahmi penting. Tapi tapai ketan adalah simbol peradaban yang tak boleh terlewatkan. Halah!

Nah, tahun lalu, ibu saya mencoba membuat tapai ketan dengan resep turun temurun. Tapi gagal. Tapai gak matang sempurna. Ternyata ada triknya. Kira-kira begini

➦Bahan:

  1. Beras ketan
  2. Daun pandan
  3. Ragi
  4. Gula putih
  5. Daun pisang sebagai bungkus
➦Cara memasak:

  • Masak beras ketan seperti memasak nasi
  • Setelah matang, tuang di tampah (nampan besar dari anyaman bambu). Tunggu hingga benar-benar dingin.
  • Siapkan gula putih dan ragi
  • Bungkus ketan yang sudah dingin dengan daun pisang.
  • Taburi sedikit gula dan ragi. Sematkan lidi agar bungkus tidak terbuka saat didiamkan.
  • Simpan di kardus yang sudah dilapisi daun pisang. Tutup rapat
  • Tunggu kurang lebih 2-3 hari.
  • Tapai ketan siap santap.
Rasanya manis asem seger.

Selain menjadi hidangan khas lebaran, tapai ketan juga sering disajikan saat ada hajatan besar. Seperti gambar di bawah ini. Ini adalah saudara dekat ibuk pas lagi rewang. Tradisi gotong royong di desa saat ada saudara atau tetangga punya hajatan besar.


Tahun lalu, adik saya menikah. Tapai ketan jadi menu wajib untuk sajian. Bisa juga untuk hantaran.
Itu tadi kudapan yang selalu ada saat lebaran. Selanjutnya, menu berat.

2. Lontong Sayur

Menu ini biasanya ada pas 7 hari lebaran. Namanya kupatan. Biasannya diperingati dengan mengadakan selamatan di masjid. Tiap kepala keluarga membawa ketupat atau lontong lengkap dengan sayur lodeh atau lodho plus bubuk kedelai.

Di tata di dalam ember besar. Lalu disantap beramai-ramai di masjid. Atau dibawa pulang dengan bertukar ketupat lengkap terlebih dahulu.

Tahun lalu, tradisi ini agak berbeda. Kampung saya mengadakan makan bersama sepanjang jalan. Tradisi ini sudah ada terlebih dahulu di daerah Trenggalek. Kalau pas kupatan tiba, orang-orang dari berbagai daerah tumplek blek memadati jalanan Trenggalek.

Untuk mendapatkan sepiring ketupat atau lontong sayur, mereka tidak perlu membeli. Warga sekitar membaginya gratis.

Di desaku juga begitu. Saat malam tiba, rumah penduduk sudah siap menyajikan berbagai macam hidangan. Mulai bakso, sate, dan aneka es. Siapapun bisa mampir untuk mencicipi masakan.


Suasana Kupatan di depan rumah
Lampu kerlap kerlip menambah seru suasana kupatan. Tiap rumah juga menyediakan hiburan gratis. Lagu-lagu religi, gambus, bahkan dangdut. Menambah meriah suasana.

Loh, kok jadi kemana-mana. Resepnya mana?

Untuk membuat ketupat atau lontong sayur khas Tulungagung sebenarnya gampang. Tapi, jujur, saya selalu gagal bikin lodeh ala Tulungagung. Selalu berakhir seperti kolak kacang panjang. Duh! Jadi, saya kasih tahu saja cara penyajiannya aja ya.


Lontong Sayur Khas Tulungagung

  • Siapkan lontong atau ketupat. Iris sesuai selera.
  • Tuang sayur lodeh di atasnya. Taburi bubuk kedelai.
  • Bisa ditambah krupuk rambak (kerupuk dari kulit kerbau atau sapi) sebagai pelengkap.
Ciamik soro!

Itu tadi makanan khas yang mengingatkan saya pada kampung halaman. Di Sidoarjo, cukup sulit menemukan tapai ketan atau sayur lodeh dengap cita rasa khas Tulungagung. Jadi, dua makanan ini selalu saya buru saat sampai di rumah.

Sayang, tahun ini kami sekeluarga berencana tak mudik ke kampung halaman. Pandemi virus covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda selesai. Mau bagaimana lagi. Toh ini untuk kebaikan bersama. Semoga sehat-sehat semua.

Kalau kamu? makanan khasnya apa? Sharing yuk…










You May Also Like

4 comments

  1. Wah lontong sayur memang udh jd menu andalan di tempatku juga mbak. Tp k tapai ketan jarang bgt ada pas lebaran. Boleh nih nyoba buat mumpung masih wfh makin byk wkt luang.. Hhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. cobainnnnn, rasanya juara. bisa dicampur es juga. atau makan pakai emping mlinjo. duh nulis gini aja ngiler aku hehehe..

      Hapus
  2. Waaah tape ketan itu juga makanan yg selalu ada di Sibolga, kampungku mba. Mama apsti masak itu trus tiap lebaran. Sejak aku nikah dan tinggal di JKT, jd ga prnh lagi ngerasain manisnya tape ketan mama. Tp bedanya, kalo di Sibolga, tape ketan biasa dimakan Ama lemang ato ketupat ketan yg dimasak dalam santan :).

    Lontong juga ada kalo utk tradisi kami, beda penyajian aja kali yaa :). Yg pasti kalo utk org Sumatra rasanya lebih pedas :D. Aku jd kangen sih pgn banget mudik kalo baca ini. Tapi tahan diri dulu lah sampe wabah reda :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau di Tulungagung aku biasanya makannuya pake kripik mlinjo mbak. iya ih... tahan dulu ya sampai semuanya membaik. selamat berlebaran di rantau mbak :-)

      Hapus