4 Tradisi Puasa Yang Hilang Saat Pandemi Covid-19

by - Mei 07, 2020



Menjalani puasa Ramadan di tengah pandemi virus covid-19 ini memang berbeda. Banyak hal yang membuatnya tak lagi sama. Seperti tidak adanya tradisi-tradisi yang biasa dilakukan saat puasa.

Tradisi sendiri berarti adat atau kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Bentuknya bisa bermacam-macam. Sesuai adat di daerah masing-masing.

Waktu pelaksanaan bisa beragam. Ada yang dilakukan saat puasa. Bisa juga dilakukan menjelang Idul Fitri tiba. Ketetapan waktu ini berbeda di tiap daerah. Sesuai dengan ‘kepercayaan’ masing-masing.

Nah, di tempat saya tinggal sekarang, Sidoarjo, tradisi yang berlaku hampir sama dengan di Tulungagung, kota kelahiran saya. Tak ada perbedaan signifikan. Masyarakat disini juga masih berpegang teguh pada tradisi yang dijalankan secara turun temurun. Beruntungnya saya.

Namun, saat pandemi covid-19 ini mulai datang ke Indonesia pada Februari 2020 silam, bayangan menjalankan tradisi saat bulan Ramadhan perlahan sirna. Apalagi melihat sebaran virus mulai masuk ke daerah-daerah terpencil di Indonesia.

Pemerintahpun mengambil kebijakan physical distancing, jaga jarak aman interaksi. Kemudian PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di sejumlah wilayah untuk menekan angka penyebaran virus.

Praktis kebijakan-kebijakan tersebut berdampak pada pelaksanaan tradisi saat Ramadan di sejumlah daerah. Kenapa? karena tradisi ini dilakukan oleh sekumpulan orang. Satu kampung malah. Jadi, gak mungkin dong, tetap menjalankan tradisi, di tengah ikhtiar melawan virus?!

Apa saja tradisi yang hilang, atau postpone kali ya, tunda tahun depan. Ini dia.

1. Ngabuburit

Ngabuburit ternyata berasal dari Bahasa Sunda. Terbentuk dari lakuran ngalantung ngadagoan burit. Artinya, bersantai santai sambil menunggu waktu sore. Kata dasarnya burit, berarti sore. Waktu ini biasanya antara usai shalat asar hingga sebelum matahari terbenam.

Barangkali ada versi lain tentang istilah ngabuburit ini, sila tulis di kolom komentar ya J

Di sini, ngabuburit biasa dilakukan sambil berburu takjil (makanan untuk berbuka uasa). Sembari jalan-jalan sore, banyak pedagang menjajakan kue khas Ramadan di pinggir jalan. Minuman segar seperti jus atau es camur juga ada.

Sumber: Radarsurabaya.com
Ngabuburit juga bisa dilakukan dengan tadarus di masjid. Sembari menunggu azan magrib berkumandang. Bisa juga sekedar kumpul bareng keluarga, lalu ngobrol bersama.

Namun, setelah negara api menyerang (covid-19), kondisi ini tak lagi sama.

Pemerintah melarang adanya kerumunan lebih dari 5 orang. Melakukan physical distancing, serta memberlakukan PSBB di sejumlah wilayah. Pemerintah juga menghimbau untuk berada di rumah saja, jika tidak ada kepentingan mendesak di luar rumah.

Kebijakan ini praktis membuat tradisi ngabuburit hilang. Jangankan mau jalan-jalan sore sambil berburu takjil, mau keluar rumah buat beli camilan saja musti mikir berulang kali. Maklum, saya sendiri masih was-was untuk membeli makanan di luar. Lebih tenang kalau masak sendiri. meskipun sekedar camilan kentang goreng bumbu sajiku.

2. Nyekar

Nyekar adalah kegiatan ziarah kubur ke makam leluhur. Biasanya dilakukan saat menjelang puasa dan menjelang lebaran. Di Jawa Tengah, tradisi ini disebut Nyadran.

Nyekar biasanya dilakukan dengan membaca yasin, lalu membersihkan makam. Kemudian tabur bunga di makan tersebut.

Saya biasanya ke makan almarhum bapak di Tulungagung. Mbah-mbah saya juga dimakamkan di lokasi yang sama. Jadi sekalian ke mbah juga. Kegiatan ini sudah biasa saya lakukan bersama keuarga.

Saat bulan puasa tiba, di pinggir jalan biasanya sudah berjejer penjual bunga untuk nyekar di makam. Isinya bermacam-macam. Ada kembang boreh, bunga mawar, melati, sama enjet (putih-putih kayak pasta). Semua jenis bunga itu tadi di bungkus daun pisang. Harganya berkisar 5000-10.000 rupiah tiap bungkusnya.

Sumber: VOA Indonesia
Nah, karena tahun ini kami tidak mudik sesuai anjuran pemerintah, saya juga tidak melakukan tradisi ini. Saya hanya membaca doa di rumah untuk almarhum bapak dan para leluhur.

3. Megengan

Ini tradisi yang biasa dilakukan beberaa hari sebelum puasa Ramadhan tiba. Kalau di kota kelahiran saya, Tulungagung, megengan dilakukan di masjid dengan membawa berkat (makanan lengka dengan wadah kardus makan atau wadah dari plastik).

Sumber: NU Online
Di Jawa Barat tradisi ini bernama Munggahan. Sedangkan di betawi bernama nyorog. Tujuannya sama, bersyukur akan kedatangan bulan Ramadhan yang penuh berkah. Dengan cara makan bersama dengan berbagai menu dan kemasan khas daerah masing-masing.

Nah, tradisi ini juga tidak ada karena covid-19 mulai merebak di sejumlah wilayah di Indonesia. Kumpul-kumpul dilarang. Untuk memutus rantai penyebaran virus covid-19.


Ada satu lagi yang barangkali hilang saat lebaran bersama covid-19 L

4. Sungkeman

Kami sekeluarga memutuskan untuk tidak pulang kampung tahun ini. Sesuai anjuran pemerintah. Alhasil, acara sungkeman saat lebaran juga bakal hilang. Diganti dengan video call dengan keluarga jauh.

Rasanya pasti akan sangat berbeda. Karena bagi saya, ini adalah momen paling sakral saat lebaran. Meminta maaf kepada orang tua. Bersimpuh sambil berjabat tangan dan meminta maaf. Lalu berpelukan. Biasanya saya pasti menangis saat momen ini. Duh!

Tapi mau bagaimana lagi, toh ini untuk kebaikan bersama. Barangkali menunda bertemu untuk waktu yang tidak bisa diprediksi adalah pilihan terbaik saat ini. Sabar….  

Itu tadi, 4 tradisi yang biasanya saya ikuti dan lakukan. Bagi saya, melestarikan tradisi leluhur itu penting. Agar kita selalu ingat asal usul. Toh tujuannya baik. Sebagai bentuk syukur atas nikmat yang selama ini diberikan. Juga sebagai pengingat untuk terus berbuat baik sebelum ajal menjemput.

Kalau di daerahmu? Kamu kehilangan tradisi apa? sharing yuk…






Sumber: 

https://www.liputan6.com/ramadan/read/4237409/5-tradisi-unik-selama-bulan-ramadan-di-indonesia#
https://travel.kompas.com/read/2019/05/09/070700527/6-tradisi-khas-bulan-ramadhan-di-pulau-jawa?page=all








You May Also Like

0 comments