Serba Virtual Pasca Pandemi Siapkah Kita?

by - April 28, 2020



Tidak ada yang bisa memprediksi pasti kapan pandemi virus covid-19 ini bakal berakhir. Sejumlah penelitian mengungkapkan, virus covid-19 sudah masuk fase melandai di kurva. Tapi inipun tidak bisa jadi patokan. Apakah virus akan benar-benar hilang. Kita hanya bisa berusaha menghadapinya untuk saat ini.

Seminggu belakangan, saya membaca kabar bersliweran di timeline instagram maupun twitter. Virus corona di Indonesia akan berakhir pada Juni mendatang. Sayapun juga berharap demikian. Mari gunakan patokan ini saja untuk terus menumbuhkan optimisme di tengah kondisi yang serba tak menentu ini. Tapi tetap terus waspada pada sekitar. Tidak lengah, tidak pula spaneng. Pas.

Lalu, jika pandemi ini berakhir, apa yang akan kamu lakukan? Saya berandai-andai, jika ini berakhir, kebiasaan yang sudah dilakukan selama pandemi ini mungkin bisa bertahan. Menjadi kebiasaan baru.

Kenapa?

Dalam Islam, memulai kebiasaan baru bisa dilakukan dengan melakukannya selama 40 hari berturut turut. Jika sudah lewat waktu tersebut, maka, kebiasaan baru bisa terbentuk. Bahkan, kita tidak merasa sedang melaksanakan sesuatu yang baru. Ini akan menjadi tindakan yang lumrah dilakukan.

Saya percaya ini. Semoga, social atau physical distancing yang selama ini kita lakukan, telah membentuk kebiasaan-kebiasaan baik untuk terus dilakukan meskipun pandemi telah berakhir.

Salah satu yang tidak bisa dipungkiri adalah kehidupan berbasis teknologi. Kebijakan work from home, membuat para pekerja, bekerja remote dari rumah.

Kali ini, saya ada cerita sedikit tentang orang-orang yang sedang belajar memulai kebiasaan baru berbasis teknologi. Sebenarnya ini bukan hal baru. Kita sudah mulai bersentuhan dengan aplikasi online jauh sebelum virus covid-19 ini merebak.

Tapi kondisi pandemik ini beda. Ternyata, tidak semua orang siap untuk tidak bertatap muka. Apalagi belum semua instansi baik pemerintah maupun swasta siap dengan kondisi ini.

Nah, Saya punya cerita lucu tentang ini.

Suatu hari, saya sedang ngobrol dengan teman lama via wa. Tentang work from home (WFH) yang sedang digalakkan pemerintah. Sebut saja bunga, bukan nama sebenarnya. Sebagai seorang ASN, bunga juga melakukan kebijakan WFH dengan penyesuaian. Seperti jadwal masuk yang disusun bergilir, protap kebersihan saat masuk kantor dll.

Si bunga ini mengeluh. WFH di lembaganya masih sangat sulit diterapkan. Kenapa? Karena kantor pemerintahan masih menggunakan metode yang sangat jadul untuk pengurusan berkas. Seperti tanda tangan asli, cap stempel basah (saya ngakak waktu dia bilang gini. Terakhir dengar stempel basah itu waktu SD klo gak salah hihihihi).

Nah, kalau sudah begini, bagaimana mau WFH? Wong aturannya masih jadul.

Lalu saya bilang dong dengan sok tahunya “Berarti ini moment bagus kan, buat belajar mengubah sistem jadi serba elektronik nantinya?”

“Au ah” jawabnya. Saya ngakak lagi, barangkali dia sedang sumpek dengan pekerjaan yang serba ‘baru’.

Itu satu. Ada juga cerita lain tak kalah lucunya.

Suami saya, sedang mengurus relaksasi kredit motor beberapa hari lalu. Setelah browsing via online, dia gak menemukan cara untuk daftar relaksasi di salah satu perusahaan leasing. Datanglah ke kantornya.

Sesampainya disana, banyak sekali antrian. Karena sudah menerapkan social distancing, antrian mengular sampai parkiran. Panas banget.  Gak tahan, akhirnya suami mengurungkan niat untuk antri. Bertanyalah dia ke satpam.

“Pak, tiap hari antriannya begini?”

“Iya mas ada yang datang jam 5 pagi malah”

“Duh gusti… saya mau daftar restrukturisasi caranya gimana ya pak?”

“Ooo… daftar online dulu mas, kalau gak daftar online, nanti gak bisa diproses. Setelah daftar online, baru kesini lagi mas”

Pak satpam menunjukkan tata cara pendaftaran online.

“Oke”

Suamipun pulang. Mendaftar online dirumah.

Besoknya ke kantor leasing lagi. Untuk melakukan proses selanjutnya. Ternyata, proses selanjutnya adalah, mengambil formulir untuk diisi di rumah. Formulir yang diambil, tidak berisi satupun keterangan yang telah diisi via online.

Jadi cuma form kosongan gitu. Lalu ngapain musti daftar online bambang...! Duh jadi ikut emosi.

Setelah itu menunggu kabar selanjutnya via telpon. Setelah mendapat telepon, suami diminta kesana lagi untuk melakukan kesepakatan relaksasi. Dijelaskan pilihannya, lalu seminggu lagi disuruh datang untuk tanda tangan berkas.

Jadi total ada 5 kali kedatangan fisik ke kantor tersebut. Setiap pulang, selalu saya suruh mandi dan ganti baju. Sesuai protap covid-19 dirumah. Wow, sudah berasa tenaga medis saya.

Lucu kan ya?!

Barangkali, untuk kantor pemerintahan dan kantor swasta seperti ini masih butuh adaptasi untuk melakukan pelayanan via online. Cukup menantang memang jika semuanya dilakukan tanpa tatap muka. Selain sistemnya belum jalan, masyarakat pun belum semua mendapatkan akses internet secara merata.

Tapi, sepertinya, kita semua sedang belajar menuju ke arah sana. Mengurangi kehadiran fisik, tapi tetap melaksanakan tugas dengan penuh tanggungjawab. Semangat ya.

Lalu, kebiasaan baru apa yang akan muncul?

Masih tentang teknologi. Kali ini seputar kesehatan. Olahraga.


Hayo, siapa disini yang jadi rajin olahraga? Saya gak, tapi suami iya hehehe. Suami dulu pernah ikut lari half marathon yang diselenggarakan di Surabaya. Saat pandemi kayak gini, gak mungkin dong, menyelenggarakan lari marathon lagi. Yang ikut aja bisa ribuan.

Tapi, sekarang ada yang namanya virtual run.

Apa itu?

Virtual run adalah kegiatan olahraga solo yang bisa dimulai kapan saja dari rumah. Ada waktu yang ditentukan dan dapat diakumulasi pada jangka waktu.

Menurut laman Lari.in, ayo lariin kotamu, virtual run sudah digelar sejak Januari 2020. Dan masih akan terus berlanjut hingga Juni.

Bagaimana cara kerjanya?
  • Mendaftarkan diri di laman penyelenggara, dengan cara download aplikasi. Bisa android atau ios.
  • Isi data dan tentukan kategori yang dipilih (10K dan 19K)
  • Lakukan pembayaran
  • Laporan hasil lari akan ditampilkan di aplikasi sesuai ketentuan penyelenggara.
  • Pengiriman medali dilakukan pasca pengumuman pemenang via aplikasi
  • Medali diterima. Bisa foto selfie lalu upload ke media sosial sesukanya. Ahay!

Mudah bukan?! Bisa ikut kompetisi sehat tanpa harus bertemu banyak orang.
Jika kamu pengen ikutan, bisa cari informasinya di google ya. Lengkap. Ini hanya gambaran saja, bagaimana kompetisi lari yang sedang hits beberapa bulan belakangan bisa tetap diselenggarakan. Dengan metode virtual.

Welcome to the new world

Kalau tadi tentang menjaga kesehatan, ini tentang pekerjaan berbasis virtual. Tentang penyelenggara event. 

Begini ceritanya

Suami bekerja di salah satu perusahaan event organizer di Surabaya. Tahu kan, bisnis EO dan segala tetek bengek dunia MICE (Meeting, Insentive, Convention, Exhibition) menjadi salah satu yang mendapat imbas besar covid-19.

Ya mau gimana lagi, tidak boleh ada kerumunan. Mau buat event apa coba.

Nah, Kementrian Pariwisata Dan Ekonomi Kreatif mengadakan pelatiah virtual event. Bertajuk Best Practice And Idea.

Ini adalah kegiatan yang dilakukan dalam rangka mendukung para pelaku industri event di Indonesia selama masa darurat covid-19. Intinya, ada dua tahap yang musti dilalui. Webinar, dan project riil, event online.

Ada syarat dan ketentuan yang harus dilakukan untuk ikut dalam virtual event ini. Salah satunya mampu berbahasa inggris minimal level intermediate. Kenapa? Karena keynote speakernya semua dari luar negeri.

Keuntungannya, dapet ilmu gratis tentang virtual event, uang saku, sertifikat internasional, networking, dan kesempatan untuk mewujudkan event online impian.

Berniat ikut?

Sila ke web resmi kemenparekraf. Semoga bermanfaat J

Itu tadi cerita gado-gado saya. Tentang kondisi saat ini dan persiapan kedepan. Saya membayangkan, semua aspek kehidupan nantinya bisa ditunjang secara virtual.

Memang, sebelum terjadinya virus covid-19 ini, kita sudah terbiasa dengan yang online-online gitu. Transportasi, makanan, informasi, kesehatan, bisa diakses sekali klik. Tapi kali ini sungguh berbeda.

Dunia seakan-akan sedang menuju abad baru yang tengah kita persiakan sendiri. Pelan tapi pasti. Agar kita, eh saya gak terlalu gagap menghadapi. Ini bukan pilihan. Tapi konsekwensi peradaban. Mari hadapi bersama.

Kamu sudah siap? Sudah melakukan kebiasaan baru selama 40 hari? punya bayangan apa kedepan pasca pandemi? Sharing yuk…







You May Also Like

7 comments

  1. Kalo saya sbnrnya selama pandemi ini tertarik ikut event seperti webminar, tp kalau pakai zoom saya agak malas karena mungkin faktor jaringan, jd drpd webminar sy lbh senang ikut event dlm bentuk kulwap

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih mbak kulwab lebih enak klo memang kendalanya di jaringan. tai zoom juga bisa jadi seru sih bisa tatap muka. sapa tahu udah pada tua temen- temen kita soalnya udah 40 hari gak keluar hehehe...

      Hapus
  2. sangat gak siap, banyak yang kuota internet gak selalua da krn ekonomi, ada yang nyuruh anaknya belajar gak bisa shg gak pernah nyetor tugas

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya sih mbak, tapi memang kita gak bisa milih sih. kemajuan ini pasti terjadi. makanya musti dihadapi dan disiapkan. semangat :-)

      Hapus
  3. Sebenarnya saya agak terbantu saat suami WFH, karena biasanya saya sendirian mengurus rumah dan 3 anak balita & bayi.
    Lumayan bisa ada yang mangku bayi kalau lagi urus si Balita. Biasa sampai rumah jam 7an karena perjalanan jauh, tapi saat WFH, selesai jam 5 ya udah kan, hahahaha..
    Tapi lalu suami harus balik kerja kantor lagi, huhuhu. Kewalahan lagi deh.
    Kalau saya mah udah 3 tahunan bekerja dari rumah jadi tidak terlalu terasa bedanya.

    BalasHapus
  4. Lucu juga ya mbak. Bisa lari bareng secara virtual gitu😁
    Tapi memang menyesuaikan segalanya supaya bisa serba online nggak mudah ya, butuh proses juga. Meskipun dari dulu udah biasa, kali ini jadi luar biasa. Mulai dari sekolah, kerja, dll jadi serba online.

    BalasHapus
  5. Buat saya pribadi, yang jauh sebelum wfh suka minta wfh ke boss, seneng banget kalau harus wfh walau ngumpulin 10 ribu langkahnya langsung dirapel.. hihi
    Tapi ngerasa prihatin banget sama sekolah sd, smp, sma online karena anak anak perlu yang namanya pola dan keteraturan, interaksi sosial juga sama pentingnya. Apalagi kemarinan baca katanya kurikulum online bakal diteruskan walau corona berakhir.
    Fasilitas sekolah nya berarti tidak dioptimalkan, akses internet dan gadget nya juga bagaimana, dan jika orang tua mereka kembali bekerja, lalu siapa yang akan mengawasi? dan masih banyak pertanyaan lainnya

    anw, makasih infonya, saya langsung meluncur ke website nye kemenparekraf.

    BalasHapus