salah kaprah zero waste

by - Oktober 31, 2019


Sampah menjadi isu yang terus berkembang. Kampanye zero waste gencar dilancarkan. Terutama produk plastik yang sulit terurai. Namun, ada yang salah kaprah dalam memaknai zero waste ini. Alih-alih mengurangi konsumsi sampah, malah menciptakan produk sampah baru.

Seperti kampanye no plastic straw yang sedang menjadi tren. Sedotan plastik, menjadi langkah awal kampanye mengurangi penggunaan sampah plastik. Bukan tanpa sebab. Menurut Sarah Gibbens pada salah satu atikelnya yang dimuat oleh National Geographic dengan judul “A Brief History of How Plastik Took Over the World”, 8 ribu ton plastik berakhir di lautan tiap tahun. Sedangkan 0,025% dari jumlah tersebut disumbang oleh sampah sedotan plastik. Tak mengherankan jika, kampanye no plastic straw ini sangat masif. Langkah ini kemudian diikuti oleh perusahaan makanan cepat saji, dengan tidak menyediakan sedotan plastik pada kemasan minumannya. Meskipun, tetap saja mereka masih memakai penutup plastik pada gelas kemasannya. Fiuh…

Saya sangat mengapresiasi langkah ini. Tapi kemudian, pasar, membidik kampanye zero waste ini sebagai peluang menggiurkan. Dengan apa?! yup, menjual produk-produk 'ramah’ lingkungan. Seperti sedotan dari bahan stainless. Ada juga dari bahan bambu.

Bagi saya ini kontraproduktif dengan kampanye zero waste yang digalakkan. Mengapa? Karena menurut penelitian, penggunaan sedotan stainless dan bambu, membutuhkan energi yang tidak sedikit dalam pembuatannya. Bahkan, sedotan stainless menyumbang emisi karbondioksida terbesar dibanding kaca, bambu, bahkan sedotan plastik. Perbandingan lengkapnya ada di info grafis di bawah ini.
emisi sedotan

Nah lo, bingung kan?!

Bagi saya, kampanye zero waste ini sebenarnya simple kok. Tidak perlu ribet mencari produk lain sebagai pengganti. Namanya saja zero waste. Kalau bikin produk lain meskipun diklaim ramah lingkungan, kan sama saja dengan membuat sampah baru. Walaupun, menurut sejumlah penelitian, sedotan ini biasa diganti setelah penggunaan selama 5 tahun. 5 tahun itu jangka waktu yang lama memang. Tapi, jika jumlah penggunanya sama dengan jumlah pengguna sedotan plastik? Bukankan akan jadi PR baru untuk memusnahkannya agar tidak nyampah?

Maksud saya begini

Penggunaan sedotan plastik bisa sama sekali dihilangkan tanpa alat pengganti. Minum langsung dari gelas. Lebih simple kan?! Lalu sebenarnya apa fungsi sedotan stainless? Biar gak blepotan?! Ayolah…. Kita lagi kampanye zero waste, masak blepotan dijadikan alasan. Sekarang coba sebut deh, minuman apa yang tidak bisa diteguk langsung dari gelas atau botol minuman? Boba? Bisa kok. Butuh effort lebih memang. Tapi bisa kan?! Kita lagi berjuang mengurangi sampah lo.

Tapi gak gini ya...

sumber: tenor.com

Jadi menurut saya memang se-simple itu. Menghilangkan produk sampah sama sekali. Bukan menggantikannya dengan produk lain.

Ini juga berlaku untuk pengurangan sampah plastik lain. Seperti kresek. Kalau mau melakukan kampanye zero waste dengan mengurangi sampah kresek. Yasudah, tidak usah pakai kresek lagi. Bisa pakai tas belanja daur ulang dari sampah plastik, atau tote bag dari baju lama yang dimodifikasi. Bukan dengan membuat tas belanja unyu-unyu berbahan katun yang diklaim bisa terurai dengan  mudah. Atau memproduksi tote bag bergambar lucu-lucu. Dibikin sesuai selera anak muda. Dijual dengan mengatas namakan kampanye zero waste. Kemudian berubah jadi tren. Jika dirasa coraknya ketinggalan jaman, bisa beli lagi yang lebih hype abis. Walah…

Saya juga kurang setuju dengan gerai-gerai swalayan yang menjual tas ramah lingkungan sebagai pengganti kresek. Mereka tentu sedang memproduksi sampah baru. Jika ingin mengurangi sampah plastik. Bisa dengan memberi diskon bagi pelanggan yang membawa tas daur ulang sebagai pengganti kresek. Atau, pemilik gerai membeli tas daur ulang dari pengrajin sampah plastik, lalu jual kepada pelanggan. Intinya, jangan bikin produk baru lagi. Itu bakal jadi calon sampah juga kan?!.

Untuk konsisten di jalur ini memang sulit. Masyarakat perlu diedukasi secara simultan. Butuh proses. Tapi paling tidak, kita sudah memulainya dari diri sendiri. Kalau kamu? masih minum boba pake sedotan? Atau sudah ngurangin sampah apa saja? sharing yuk….

salam,



You May Also Like

12 comments

  1. Nah, akhirnya ada yg mewakili pemikiran saya...
    Menghentikan produksi sampah dengan cara memproduksi calon sampah baru..... Dan sayangnya masih banyak yg belum paham tentang ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... yang disayangkan adalah peran influencer2 yang gencar mempromosikan 'produk ramah lingkungan'. ini jadi semacam tren. ajang keren kerenan. sayang sekali..

      Hapus
  2. Huahahahhahaha... seketika aku ketawa, ketawain sampah-sampah baru yang bermunculan gara-gara Zero Waste. Btw, aku suka judulnya "Salah Kaprah Zero Waste".

    Setuju banget dah... Aku sampai sekarang tetap hidup normal yang nggak repot-repot mengganti semua sampah plastik menjadi sampah-sampah baru. Ribet etalaah...

    Aku cukup belajar dengan lebih minimalis lagi, padahal selama ini udah minimalis banget. Eh, masih usaha lebih minimalis lagi. Wkwkwk...

    Tapi, seminimalisnya hidupku, aku tetep cewek yang rempong dan aku juga tetep berusaha hidup minimalis yang menyehatkan.

    Aku nggak ikut-ikutan beli barang-barang yang diklaim untuk Zero Waste sih. Hehe...
    Tapi, dari dulu sebelum ramai pakai tumblr, aku udah pakai tupperware dan bawa bekal sendiri alias jarang jajan.

    Aku salut dengan post ini. Suka!

    BalasHapus
    Balasan
    1. trimakasih mbak nid, btw, harga barang2 zero waste tu gak murah lo. apalagi yang pake brand. butuh terus belajarlah ini...

      Hapus
  3. Nah, benar juga, sih, Mbak. Tapi kalau soal sedotan, tempo hari saya membaca ulasan dari luar, bahasan tentang kampanye tidak pakai sedotan sekali pakai, dari sudut pandang pejuang kelompok difabel gitu atau yang punya keadaan medis spesial (dari anak-anak sampai lansia), di mana sedotan memang diperlukan karena secara kondisi, mereka kesulitan minum langsung. Benar, jumlahnya mungkin tidak terlalu banyak, tapi kalau bilang begitu khawatir juga kitanya seperti mengecilkan keberadaan mereka.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah info baru ini. trimakasih infonya kak :-)

      Hapus
  4. Selalu akan ada pihak2 yang memanfaatkan hot issue untuk kepentingan mereka, alih-alih melakukan edukasi. Padahal ya bener, solusinya sederhana...ganti kebiasaan, bukan ganti produk.

    Tapi ya itu, sederhana itu seringkali tidak mudah. Dan yang mudah, belum tentu sederhana untuk jangka panjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, memulai kebiasaan baik itu butuh usaha lebih memang.

      Hapus
  5. kalau aku masih belum sampai di tahap tidak sama sekali pakai yang plastik kak, selama masih hindari ya ayo,kalau memang harus pakai ya ayoo...cuma nanti tas plastiknya misal masih bisa dipakai ya dismpan lalu dipakai lagi...udah gitu aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga pelan-pelan kok mbak nguranginya. bikin habit baru itu memang butuh kerja keras. ini juga masih terus belajar. semangat... :-)

      Hapus
  6. Setuju banget, Mbak..seperti penggunaan kantong kertas sebagai ganti kantong kresek. Harusnya sebisa mungkin kita gunakan kantong kresek untuk beberapa kali pemakaian, nggak langsung dibuang seperti zaman sekarang...Karena dulu diciptakan kantong kresek juga buat solusi sebagai ganti kantong kertas yang mudah rusak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup, dimulai dari diri sendiri dulu ya mbak, pelan-pelan. ini memang tanggungjawab semua pihak. (wow, udah kayak pejabat akutu) hehe...

      Hapus