Menghadapi kehamilan pertama

by - September 25, 2019

pict by: pixabay

Beberapa hari ini saya gelisah dengan notifikasi email dari mbak Andien dengan Bentang Pustaka. Iya, Andien Aisyah, penyanyi idola saya. Sejak anak kedua, saya mulai mengikuti Instagram mbak Andien. Terutama seputar kehamilan pertamanya sampai melahirkan seorang bayi laki-laki lucu bernama Kawa.

Di akun instagramnya, mbak Andien ingin berbagi kisah melalui tulisan seputar masa kehamilan sampai melahirkan buah hatinya. Siapa saja yang berminat, bisa isi data via mailchimp. Saya langsung isi dong. Kemudian, email pun berdatangan. Ada tiga. Email kedua membuat saya terhenyak. Ternyata, apa yang saya lihat di Instagram mbak Andien selama ini keliru.

Yang terlihat memang kehamilan yang menyenangkan, disertai foto-foto ciamik nan instagramable. Fase mual muntah yang dilewati dengan bahagia dan masih banyak lagi moment selama hamil yang ditunjukkan di Instagram pribadinya. Nyatanya, semua tak seindah feed Instagram. Mbak Andien gak bahagia?!. Gak, bukan begitu. Tapi ada proses yang harus dilalui saat mengetahui dirinya hamil Kawa. Proses menuju bahagia versi mbak Andien. Dan itu, gak mudah.

Email dari mbak Andien dg Bentang Pustaka. Cerita kehamilannya akan dibukukan.  
Terimakasih sudah berbagi mbak J

Setelah membaca cerita mbak Andien, saya jadi teringat pengalaman hamil anak pertama. apa yang saya rasakan hampir sama. Senang karena sudah dikasih kepercayaan menjadi calon ibu. Tapi juga cemas, takut, gelisah, atau saya tidak tahu apa yang sedang saya khawatirkan sebenarnya.

Tulisan mbak Andien akan saya sertakan di akhir cerita.

Kehamilan pertama saya memang ‘tidak direncanakan’. Setelah menikah, saya masih ingin menikmati masa-masa manten anyar. Belum lagi, kerjaan di kantor juga lagi asyik. Ya, pekerjaan saya sebagai wartawan saat itu sedang seru-serunya. Memasuki tahun kedua bekerja. Sudah enjoy dengan suasana kerja. Menikmati banyak pertemanan baru. Mulai menyukai deadline. Dan berbagai pengalaman-pengalaman baru disana.

Dan saat tahu kalau saya hamil, blash! Tiba-tiba seperti hilang arah. Seperti takut, cemas, bahagia, campur seneng, tapi juga gelisah. Nyampur jadi satu.

Masuk trimester pertama, saya mual muntah hebat. Flek juga. Bahkan, waktu itu, memutuskan untuk tidak puasa Ramadhan selama sebulan penuh karena kondisi ini.

Tapi, saya masih sangat beruntung. Karena keluarga memberikan support saat itu. kebetulan saya masih tinggal sama orang tua. Suami, mendukung saya resign dari kantor. Ibu saya juga begitu.

Berbeda dengan mbak Andien yang tetap bekerja, saya memutuskan resign karena kondisi kesehatan tak memungkinkan bekerja berat. Satu yang saya sesali saat itu sebenarnya. Saya tak tahu harus berbuat apa saat mengandung anak pertama. Membaca buku tentang ibu hamil juga sekilas saja. Referensi mengenai tahap persiapan melahirkan juga nol. Yang saya ingat waktu itu bahwa, melahirkan itu sakit. Begitu kata orang-orang. Dan itu sampai masuk ke dalam alam bawah sadar saya. Sakit.

Begitu seterusnya, sampai saya melahirkan Zafran dengan operasi caesar. Bayi terlilit usus hampir 3 putaran. Saat sudah HPL pun saya tak merasakan apa-apa. Tapi tiba-tiba keluar darah begitu saja. Tidak ada rasa sakit atau mules layaknya orang mau melahirkan.

Dan qodarullah, anak saya selamat. Meskipun setelah lahir, dokter mendeteksi kelainan di bagian kelamin. Dalam dunia kedokteran disebut Hipospadia.


Jadi tambah lagi tantangan menjadi ibu.

Tapi satu yang saya pelajari. Bahwa semua  orang pasti punya masa-masa sulit dalam hidupnya. Bedanya, tinggal bagaimana menghadapi. Peran orang sekitar juga sangat berpengaruh. Agar kita gak merasa sendiri menghadapi ‘perbedaan’ atmosfir. Dari bekerja, jadi ibu rumah tangga.

Satu lagi. menerima diri sendiri. Iya, menerima bahwa kondisinya memang berbeda. Berkompromi dengan diri sendiri itu susah! Kita mungkin bisa memberikan nasehat panjang kali lebar kepada orang lain dengan kondisi sama. Tapi, coba ngaca, lalu ngomong sama diri sendiri. Ah susah pemirsa!

But, time heals

Saya banyak belajar dari waktu yang menempa kesabaran. Sedikit demi sedikit, beradaptasi dengan keadaan. Tak lupa suami mengingatkan untuk selalu bersyukur atas apa yang sudah dianugerahkan.

And, life finds a way…

Anak saya sudah dua :-) 


Ini saya sertakan email kedua dari mbak Andien yang menurut saya relate banget dengan yang saya alami saat itu.







Jadi, sudah siapkah kamu menghadapi kehamilan?! share yuk...

Salam,





You May Also Like

8 comments

  1. Tulisannya relate dengan saya :') dan sy jg udah lg nulis cerita ttg kehamilan pertama heheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah tos dulu kita :-) senang bisa berbagi :-)

      Hapus
  2. Sy udh 2 ank tp klo mau hamil lg mikir2 :D

    BalasHapus
  3. Sama kayak saya dulu, pengenya mah pacaran dulu setahun ma suami krn kkita gak pacaran dulu sblm nikah. Alhamdulillah dikasih cepett... cucu pertamanya nenek

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya alhamdulillah dikasih cepet. pelajaran banget ini um anak pertama hehe..

      Hapus
  4. Sukak bgt siih ama ni blog. Dunia nya isi IRT kabeh lope lope deh

    BalasHapus