Membangun habit investasi

by - Mei 16, 2019


pixabay
Beberapa minggu ini saya sedang bersemangat belajar tentang investasi. Secara membabi buta follow akun-akun finansial planner. Baca artikel-artikel keuangan. Influencer-influencer yang berbagi tips seputar keuangan saya follow juga. Anak-anak muda yang udah jago investasi sejak dini, tak luput dari pantauan saya. Pokoknya ini otak isinya investasi mulu hehehe

Salah satu yang paling hits @jouska_id. Kumpulan finansial planner yang gak menjual mimpi. Sangat realistis menurut saya. Ada juga tips-tips sederhana nan menculek mata untuk mengelola keuangan ala ibu rumah tangga dari mbak @rindasukma_. Lain hari, ikut webinar dari @Orami tentang cara pintar mengatur keuangan rumah tangga. Langsung diampu oleh mbak @bunga_mega. Bahasannya khas ibu-ibu. Sangat mudah dipahami. Apalagi buat emak-emak newbie investasi kayak saya. Dan sederet akun finansial planner lainnya.

Melek investasi sih udah lama sebenernya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini, ghirohnya beda. lapar banget gitu klo ngomongin soal investasi. Jadi semua kayak berasa enak aja dilahap. Pokoknya, yang bau-bau ngatur duit saya follow dah hahaha…

Tapi nih kadang saya itu suka rakus klo pas lagi suka sesuatu. Klo denger investasi ini pengen coba. Kalau ada itu, pengen buru-buru kesana. Masalahnya, yang buat invest ini lo belum nyatah sodara-sodara. Jadi, memang masih dalam bayangin pengin ini dan itu.

Minggu lalu, saya curhatlah sama pak suami. Saya sering forward feed ig para finansial planner ke paksu. Atau kirim-kirim artikel via email biar bapaknya juga ikut-ikutan on fire kayak saya. dan seperti sudah saya duga sebelumnya, doi cuma manggut-manggut saja. Entah setuju entah gak punya waktu buat mikir ini itu. Ya soalnya kerjaan di kantornya lagi bener-bener ribet. Oke kita tunda obrolan ini. Tapi saya tetep bombardier sama artikel-artikel finansial hahaha…

Sepertinya paksu sudah mulai gemas dengan saya. Yang secara membabi buta pengin buru-buru investasi endebra endebre. Jadilah kemarin malam kita ngobrol serius tentang investasi. Kita ulik-ulik lagi, management amplop yang selama ini kita gunakan. Oiya sekedar informasi, saya ibu rumah tangga nyambi online shop. Sedangkan suami kerja di salah satu perusahaan event organizer di Surabaya. Hasilnya?! Begini

Don’t be living in someone else's life

Dari berbagai artikel yang kami baca, polanya sebenarnya sama. Solusinya sebenarnya mirip-mirip sih. Berani memulai, menyisihkan sekian persen untuk ini dan sekian sisanya untuk itu. Tapi kondisi masing-masing orang beragam. Nah, tips-tips itu bisa dibuat rambu-rambu. Jika sudah jauh melenceng, kita bisa tahu jalan, ke arah mana perlu diluruskan. Intinya, kita punya kondisi keuangan yang berbeda. Tentu, model, bentuk, sampai kapan memulai itu juga gak bakal sama. Kalau mau disamakan, ya bakal susah sendiri. Don’t be living in someone else's life. Berats….

By the way, investasi yang saya maksud disini ada banyak. Mulai saham, reksa dana, deposito, emas dll. Selama ini kita hanya mengandalkan menabung konvensional untuk biaya pendidikan anak saya. itu juga kadang campur sama uang sisa bulanan, atau uang jatah buat orang tua. Intinya, masih blepotan sana sini.

Saya lebih cenderung ke reksa dana untuk memulai langkah awal ini. Tujuanya untuk dana pensiun. Biar anak saya nanti gak jadi generasi sandwich. Selain itu juga punya cita-cita investasi jangka menengah untuk pendidikan anak kedua. Dan jangka panjang untuk pendidikan anak pertama.
Masalahnya, kadang saya menyamaratakan kemampuan saya dengan apa-apa yang ada di artikel. Ini sah-sah saja sih sebenarnya. Cuma kurang realistis. Ada banyak batasan yang saya dan paksu miliki untuk memulai investasi. Reksa dana misalnya. Duitnya belum ada bro hahaha. No, bukan itu sih problem terbesar. Kita belum puya habit berinvestasi.

Habit

Habit atau kebiasaan ini memang butuh usaha. Tidak hanya dalam diri sendiri, tapi juga dari lingkungan. Nah gak mungkin dong saya ngotot sendiri untuk menyisihkan uang, tapi paksu masih melihat ini belum terlalu urgent, atau belum masuk itungan?!

Pada akhirnya kita sepakat untuk memulai. Apa itu?! kebiasaan berinvestasi. Jangan dulu sebut bentuknya apa. tapi menyisihkan sebagian income diluar gaji bulanan itu perlu. Penting bahkan. Anggap saja uang hilang.
pixabay
Fyi, kerjaan sebagai EO, selain gaji bulanan, honor per event juga ada. Selama ini, honor bisa habis entah kemana. Buat hobinya paksu atau kebutuhan lain yang biasanya lebih masuk ‘foya-foya’ sekeluarga wkwkwk… Apalagi saya, kalau tahu suami dapet honor, seringan copy paste nomor virtual account. Kan boncos pemirsa hahaha…

Kita sepakat nih buat ngencengin ikat pinggang. Sembari terus menambah ilmu tentang investasi. Dan memulai lagi bisnis online shop saya dengan lebih serius. Menambah income.

So, habit ini perlu dibangun dan diusahakan. Terlambat?! Bisa dibilang iya. Tapi better late than never kan?!

Sabar

Ini nih yang sulit sebenernya dari berbagai tips investasi. Sabar memang gak bisa dibangun dalam semalam. Butuh latihan. Bahkan, kita seperti harus jatuh dulu untuk mengukur nilai kesabaran. Sama dengan investasi. Hasilnya gak bisa ‘mak bedunduk’ ada. Bisa-bisa kalau gak sabaran, kena investasi bodong dengan iming-iming return gede. Bukan untung malah buntung.

Sabar yang kedua adalah menyisihkan uang yang didapat tiap bulan. Baik dari gaji bulanan maupun income diluar itu. Sabar menunggu sampai benar-benar, prioritas yang kita tetapkan di awal gak belepotan cuma gara-gara pengin invest ini itu.

Seperti, dari awal menikah kita sudah sepakat untuk tetap memberikan jatah bulanan ke orang tua. Tapi, sampai saat ini kita baru bisa ngasih setahun sekali pas lebaran. Duh! Atau kadang kalau pas ada rejeki, kita bagi buat orang tua. Nah, jangan sampai tujuan ini lolos cuma gara-gara kita, eh saya heboh sendiri pengin investasi.

Begitu kira-kira obrolan malam kita selepas berbuka. Berat yes. Tapi memang harus dimulai kok. Dari sejak kita sadar, ada sesuatu yang kurang bener selama ini. segala macam tips-tips investasi maupun financial planner akan sia-sia belaka jika tak berani terbuka. Dan memulai semuanya dari awal, sesuai kondisi dan kesepakatan bersama.

Kata jouska sih, money is more taboo than sex. Betul juga. Klo ngomong soal sex, paksu nyambung amat disegala situasi. Giliran ngomongin investasi, musti re-schedule sampai benar-benar lowong hati dan pikirannya. Hahaha… tak apa bu. beginilah seninya berkeluarga. Semuanya harus klop di waktu dan situasi yang tepat. Kalau gak, mau ngomong sepenting apapun, bakal kabur diterpa angin lalu.

Kalau buibu, sudah invest apa aja? Sharing yuk…

You May Also Like

0 comments