performa Honda Astrea Prima, in Memorian Fulgoso

by - Januari 16, 2019

Honda Astrea Prima
foto: rizqillah zaen

Saya sebenarnya bukan penyuka motor lawas garis keras. Baru saat kuliah, kecintaan dengan motor lawas mulai muncul. Soalnya, saya dibelikan bapak motor honda astrea prima tahun 90an.  Motor ini dibeli sudah copot tebengnya. Kata bapak, dibeli di penjual tahu yang lagi butuh duit. Awal make motor ke kampus ada rasa malu. Muka imut-imut saya gak begitu singkron dengan tunggangan macam ini. Hehe… Tapi, inilah awal saya jatuh cinta dengan motor lawas.

Motor honda ini selalu menemani saya kemanapun pergi. Udah kayak pacar aja. Bedanya, dia gak berisik hahaha… kata teman kuliah yang menyukai motor lawas. Motorku ini mesinya masih bagus. Performanya okelah buat naik turun tanjakan. Saya kuliah Universitas Negeri Jember waktu itu. kontur jalan Jember memang naik turun. Apalagi daerah kampus. Praktis, itu motor harus menyesuaikan medan.
Awal dipakai agak rewel. Kadang mati tanpa sebab. Padahal bensin masih ada. Gak full banget sih, maklum, duit bensin ngepres. Bapak pernah berpesan, kalau mesin mati, kemungkinan ada 2 penyebab. Pertama, busi kotor, atau waktunya ganti oli. Saya pernah mikir, kenapa bapaku ini pesenya kayak sama anak cowok, bukanya suruh bawa ke bengkel, ee… malah suruh benerin sendiri. Kan ribet.

Tapi dari situ saya belajar banyak hal. bapak tak pernah mengajari anak-anaknya yang kesemuanya perempuan untuk mengeluh dan meminta bantuan. Jika bisa dikerjakan sendiri, lakukan. Begitu kiranya pesan dari bapak.

Praktis, semasa kuliah sayapun nyambi jadi montir. Kadang, dalam kecepatan maksimal, kap mesin motor tiba-tiba copot. Glonthang!! Begitu kira-kira suaranya. Saya harus siap dengan obeng di jok motor untuk membetulkanya. Kondisi ini membuat saya harus berkendara dengan lebih siaga alias pelan-pelan. Tidak lebih tidak kurang. Pas untuk ukuran motor lawas.

Oh iya, motor ini saya namai Fulgoso. Iya, nama anjingnya Marimar. Dia tangguh di segala medan.
Setelah menjalani perbaikan, Fulgoso sudah siap tempur. Sempat mengalami kecelakaan kecil sehingga lampu dank kaca spion pecah, namun tidak mengurangi performa mesinya. Tetep handal.

Temen-temen kampus juga mulai menyukai Fulgoso. Maksudnya, sering minjem. Berkat kepiawaianya menjelajah jalanan Jember, Fulgoso cepat tenar. Di Kampus, nama Fulgoso sering disebut-sebut untuk sekedar mencoba menikmati sensasi menaikinya. kunci motor yang sudah soak, memudahkan teman-teman saya untuk langsung menaiki tanpa ijin terlebih dahulu.

Kunci kos, kunci lemari atau bahkan bukan kategori kunci, seperti obeng, bisa digunakan untuk menjalankan Fulgoso yang always ready to go. Makanya, ini motor sering tiba-tiba ilang di parkiran kampus. Tapi selalu ketemu setelah bunyi tit tit tulilulit “nek, motormu tak pinjem”. Dan motor itu sudah nangkring dengan selamat di parkiran pas saya selesai kuliah.
Punya motor lawas itu gampang-gampang susah ngrawatnya. Karena ketersediaan spare part ori bisa dibilang gak ada. Jadi ya beli seadanya. Apalagi kantong mahasiswa yang pas pasan. Buat makan aja susyah, apalagi ngoprek motor. Haish….

Sebagai referensi saya akan sedikit mengulik tentang motor Honda Astrea Prima punya saya. Fitur-fitur apa saja yang masih oke waktu itu.

1. Elektrik starter
ini sebenarnya sudah rusak. Tapi masih bisa diperbaiki. Dan bertahan agak lama sebelum akhirnya rusak lagi. Dan saya menggunakan kick starter. Baru ngerti itu istilahnya kick starter. Dulu saya sebut jeglengan motor hahha…

2.      Suspense depan
Dulu saya menyebutnya skok. Kata beberapa sumber, honda astrea prima menggunakan suspensi teleskopik pada roda depan. Artinya saat pengereman, motor akan menukik. Jadi sebenarnya Fulgoso ini bisa buat ala-ala ngedrift gitu. Cuma karena rangkanya sudah kurang sehat, jadi ya dipake motoran biasa aja. Hehe…

3.      Warna
Astrea Prima mulai di pasarkan di Indonesia pada tahun 1989. Secara desain umun, Honda Astrea Prima menggunakan cat warna hitam pada body dengan menggunakan sayap berwarna putih. Namun pada seri limited edition lansiran 1991, Honda menawarkan warna full hitam untuk Astrea Prima (termasuk sayapnya). (motorisblog.com). Fulgoso dibeli sudah tak punya sayap. Saya menyebutnya tebeng. Jadi saya hanya menduga, dia bukan termasuk fersi limited. Tebeng putih yang entah kemana.

4.      Mesin asli Jepang.
Honda Astrea Prima ini lebih bandel dan lebih bertenaga di banding motor jaman sekarang. Pada saat itu Honda belum sepenuhnya berproduksi di Indonesia. Semua part di kirim dari Jepang, dan di rakit di Indonesia. Hasilnya, mesin produksi asli Jepang itu memang tidak main-main. Meski sudah puluhan tahun, Astrea Prima ini masih yahud. Selain hanya bandel, mesin Astrea Prima juga menghasilkan power dan torsi yang lebih besar dibanding motor-motor generasi berikutnya (generasi sekarang). (motorisblog.com)

Namun sayang seribu sayang. Fulgoso, sang legenda, sudah berpindah tangan. Tukar tambah dengan motor honda keluaran terbaru. Saya lupa namanya. Motor itupun juga sudah tinggal nama.
Tapi, karena Fulgoso, sang Astrea Prima, saya jadi suka motor lawas. Meskipun sampai saat ini saya belum beli haha… bagi saya, motor lawas bukan hanya masalah performa saja. tapi, cerita dibaliknya memberikan nilai yang tak tergantikan. Semoga saya bisa beli yang lawas lagi ya… pingin kalong merah hehe….
Jika ada kesalahan penulisan atau terkait performa Honda Astrea Prima di atas, tulis di komen ya… trimakasih…



You May Also Like

1 comments

  1. numpang share ya min ^^
    Hayyy guys...
    sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
    dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
    di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^

    BalasHapus