Menangkal Berita hoax pada anak

by - Januari 09, 2019



"Buk kalau diculik itu terus dibunuh ya?"
"Maksudnya?"
"Tadi bu guru bilang kalau diculik, dibunuh makanya hati2"
(emaknya msh loading, mencoba menerka ada apa gerangan dengan anak unyu-unyu persis maknya inih)
"Trus gimana?" (biar dia cerita terus)
"Katanya gak boleh dikasih permen nanti diculik" (mungkin maksudnua gak boleh nerima permen dari orang gak dikenal)
😅😅
"O... Gt"
Terus dia pergi entah kemana...

Berita penculikan anak beberapa minggu ini sempat heboh LAGI. Saya juga sempet was was. Di grup sekolahan anak, juga ramai pesan berantai. Ditambah foto bombastis, kepala dan badan tinggal kerangka. Itu anak apa ikan pindang đŸ¤ĻđŸģ‍♀️. Dilihat sekilaspun kelihatan editanya. Tapi yasudahlah....

Dan terbukti beberapa pelaku penyebar hoax penculikan anak sudah ditangkap pihak berwajib.

Saya menyayangkan pihak sekolah justru fokus menyebar ketakutan, alih-alih mengajarkan tindakan pencegahan. Tapi yasudahlah ketakutan terlanjur tertanam di benak anak saya. There we go, rumah harus menjadi tempat dia kembali untuk sekedar ha-ha-hi-hi. Dan dia melakukanya dengan baik. Bertanya pada emaknya segala sesuatu yang membuat dia gak nyaman. Come come.... 🤗

***

Di jaman media sosial sudah menjadi sego jangan, menambah skil anak untuk merespon informasi jadi penting. Dulu, kalau mau tentang ini itu, RPUL bisa jadi jujukan, macam wikipedia saat ini. Dan isinya bisa dipertanggungjawabkan. Na sekarang, informasi banyak bersliweran. Jangankan mau mencari kebenaran berita, baca aja seringkali judulnya tok, trus di share. Belum lg broadcast di wa, bbm, dengan informasi tambahan ‘copas dari grup sebelah’. Wew….

Kadangpun, kita, eh saya gak bisa membedakan antara opini individu dengan fakta yg bercampur berita tumpang tindih kesana kemari. Sudah gak yakin tetep ngotot di share. Astaghfirullahaladim…

Kalau emaknya begini, bagemana anaknya?!

Jadi kenapa kemudian si bocah musti didekatkan lagi dengan buku. Sejak dini. mengajarkan anak untuk melek literasi itu membuat dia aktif untuk bertanya. Tentang segala macam yang belum diketahui, atau menggelitik untuk dicari tau. Ini bisa jadi bekalnya kelak untuk sadar hoax.  Seperti, apakah jerapah yang baru lahir lehernya sudah panjang? Atau apakah gajah bisa bersin? Atau kenapa monyet suka pisang bukan nanas? Kan sama2 kuning? Susah kali ngupasnya bang..... 😅

Pertanyaan-pertanyaan ini contoh nalar kritisnya mulai bekerja. Kemudian dia akan terbiasa menanyakan sesuatu yang ‘tidak sesuai’ imajinya. Atau hal baru baginya.

Skil bertanya tentang apa yang menggelitik rasa ingin tahunya ini perlu dipupuk. Karena suka membaca itu gak genetis, diturunkan begitu saja. Ia merupakan tindakan berulang yang harus menyenangkan.

Bayangkan, kalau anak mulai mengenal buku bacaan saat dia sudah duduk di bangku sekolah. Isinya matematika, PPKN, Bahasa Indonesia, Fisika, Kimia, ah pingsan.... sungguh tidak menyenangkan bukan?!.

Akan berbeda jika mereka tahu sejak dini, buku dengan cerita fabel yang menggemaskan. Cerita tauladan nabi-nabi, tentang sains dengan ilustrasi gambar unyu-unyu. Dan lain sebagainya.

Tapi buk, ini hanya tips aja ya, bukan obat. Apalagi obat kuat yang sekali tenggak langsung greng. Anak tidak serta merta terbebas dari berita hoax dengan membaca saja. Interaksi dengan orang tua juga harus intens. So, mari belajar bersama-sama. Istiqomah dengan mengajarinya mencintai buku. Kalau dia sudah gandrung, Tinggal kita, eh saya harus selalu siap untuk ditanyai tentang apa yang mereka ingin ketahui. Siap?! Budal........

#semuamuridsemuaguru

Nov, 2018
Mak rizqi



You May Also Like

1 comments

  1. numpang share ya min ^^
    Hayyy guys...
    sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
    dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
    di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^

    BalasHapus