Tips Mengajak Balita Naik Gunung

by - Agustus 11, 2018






Bulan Juli dan Agustus merupakan peak season untuk para pendaki. Di bulan-bulan ini biasanya cuaca cerah. Pemandangan di atas gunung akan terpampang nyata. Tak hujan dan musim panas akan berakhir. Bediding, begitu orang menyebutnya. Dingin dingin gimana gitu hahaha… Kebetulan saya dan suami memang hobi naik gunung sejak SMA. Suami sih yang aktif di mapala. Saya sih Cuma ikut-ikutan, yang penting happy hehehe...

Persiapan untuk naik gunung sebenarnya gak ribet-ribet banget. Bahkan bisa dilakukan dalam semalam. Macam bikin seribu candi ala Roro Jonggrang. Mulai  dari baju, logistik, sampai peralatan perang emak-emak.

Kali ini kita mau ke gunung Bromo. Membawa dua anak. Satu balita, mas Zafran dan satunya batita, Inara. Bayik belum genap 5 bulan. Bapaknya anak-anak sebenarnya sudah rewel sejak awal Juli kepingin naik gunung, entah sama teman-temanya atau Zafran saja. Tapi selalu bertabrakan dengan jadwal kantor, terutama budget yang belum terkumpul. Hahay..

Pertengahan Juli, jumat malam, tetiba pulang dengan membawa dua jaket dingin untuk anak-anak. “besok berangkat ke Bromo” begitu katanya tanpa ba bi bu. Saya pun iya iya saja. Selain memang sedang butuh hiburan, saya yakin si bapak sudah ada budget buat kita kita hahaha…

Malam itu juga, saya siapkan printilan buat naik gunung. Sembari mikir, besok pagi mau bikin apa buat sarapan. Biar setelah beres semua bisa langsung cuz berangkat.

Gunung Bromo, terkenal dengan sunsetnya. untuk melihat sunset, kita harus berangkat jam 3 pagi. Tapi, saat di penginapan, kita memutuskan untuk tidak melihat sunset. Karena udara dingin banget. Dua bocah belum terbiasa dengan udara dingin, belum lagi jalan berdebu. Fix kita berangkat jam 8, sesuai dengan jadwal jeep yang turun dari puncak.

Pada prinsipnya, bagi saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan dipersiapkan. Ada 6, waspadai no terakhir hahaha… (kayak judul media klik bait hehe… )

1. No social media allowed

Ini sebenarnya khusus diperuntukkan buat sang bapak. Karena si bapak gak bisa lepas dari medsos sejak dalam pikiran. Maklum sih pekerjaannya juga sedikit banyak berkutat dengan medsos. Tapi untuk kali ini saya tegesin. No medsos. Hp Cuma buat foto, atau balesin wa. Inipin juga berlaku buat saya. Tapi meskipun emaknya mak olshop, sering males upload-upload gitu. Kecuali upload dagangan haha…Tau kan kalau sudah dapet foto yang medsosable, biasanya suka gatel pengen upload saat itu juga. artinya, acara pegang hp tambah lama. Belum lagi kalau ada yang komen template 'ini dimana?'. Wah bakal tambah lama konsentrasi ke gadgetnya. Trus, kapan kita liburnya? 

Kenapa ini menjadi penting? Karena kita bawa dua bocah. Balita dan bayik. Yang boro2 duduk, nungging aja masih jungkel. Alhasil kalau ditinggal meleng dikit. Si masnya pasti ngilang. Dan bayinya mungkin diajak ngilang juga hahaha… Apalagi sama suasana baru. Masnya pasti kebelet explore segala sesuatu. Mulai lampu penginapan yang dipencetin, kamar mandi dibuka tutup, lari-lari di depan kamar dengan lebar cuma selompatan orang dewasa, lantai dua pula. So medsos kali ini sungguh nir faedah. Upload nanti kalau sudah gak sama anak-anak.

2. Bawa baju banyak buat bayi

Ini pertama kali emak naik gunung sama dua bocah. Karena persiapan yang cuma semalem, baju bayik cuma seiprit. Karena masih dijemuran dan belum kering. Taulah mak,baju bayik kan cuci kering pakai. Hasilnya, ya gitu emak bingung nyari ganti baju. So kalau mau bawa bayik, bawa baju ganti yang banyak. Sesuaikan dengan kondisi lapangan dan lama kunjungan. Basah dikit kena iler atau air putih, buruan ganti. Karena berpotensi masuk angin. Apalagi kalau anak masih ileran, beh… musti banyak stok ni mak. Kalau ada, cari baju yang cepat kering tapi tidak gerah buat anak. Untuk ini, pastilah nambah budget lagi. Jadi, paling aman, bawa banyak baju. Lagian kita kan mau ke gunung Bromo yang kesananya naik jeep, dan nginep di penginapan. Bukan gunung Semeru yang musti nge-camp dan jalan. So tak masalah bawa baju banyak buat bayik.

3. Logistik

Anak dan cemilan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Apalagi, saya masih asi eksklusif. Alhasil, cemilan hasil ready to eat setiap saat. Karena gendong bayi dan ngajak ngobrol masnya biar gak bosen selama perjalanan, adalah dua hal yang menguras tenaga kuda. Kebayang kan Sidoarjo-Probolinggo ditempuh selama 4 jam. Udah lebih dari 2000 kata itu. jadi, mood emak dan anak harus tetap terjaga. Salah satunya cemilan.

Pilih cemilan yang mengandung banyak karbo. Roti, coklat, gandum, atau apapunlah, gak karbo juga gak papa, yang penting kenyang haha… stok cemilan juga digunakan pada malam hari. Selain hemat, kita juga gak perlu keluar malam hanya untuk beli cemilan. Selain jauh, udara dingin, dan malas keluar, itu juga menghabiskan tenaga. Simpan tenaga baik-baik untuk besok saat mendaki.

4.  Penginapan yang nyaman buat bayi

Sekarang sudah banyak pilihan penginapan di sekitar gunung Bromo. Sepanjang perjalanan, kiri kanan jalan sudah dipadati rumah-rumah penginapan. Mulai hotel, guest house, hotel backpacker, atau rumah-rumah warga yang disiapkan untuk para pendaki. Pilih yang nyaman buat bayi. Pastikan ada air hangat untuk mandi atau sekedar cuci muka. Tapi kayaknya pasti ada ya, secara itu di gunung gitu, udaranya adem bingits. Sebagai pertimbangan, bisa browsing via Traveloka. Banyak sekali pilihan disana. Atau kalau pergi dadakan juga gak perlu khawatir, banyak penyedia jasa penginapan disana.

Nah, karena baru pertama kali naik gunung sama dua bocah, si bapak udah booking penginapan yang nyaman dan pas untuk berempat. Namanya Pagupon. Kamarnya pas buat keluarga kecil dengan dua bocah. Satu bed besar, dan kamar mandi yang ada air hangatnya. Ternyata, penginapan ini satu managemen dengan hotel Jiwa Jawa. Salah satu spot di hotel ini dijadikan tempat Jazz Gunung. Tau kan mak, itu acara tahunan bagi para pecinta musik Jazz. Menikmati alunan musik Jazz dengan background alam. wuih... seru... Kita dapet bonus lihat stage Jazz Gunung. Meskipun gak lihat tampilannya hahaha… mahal mak tiketnya hihihi…

5. Membangun suasana

Namanya juga anak-anak. Masih moody. Kadang gembira sangat, bisa jadi lima menit kemudian bosan akut. Ajak anak bicara sesuatu yang menyenangkan. Tentang apa yang dia lihat di sekitar. Gunung, awan, hewan atau apapun yang dijumpai di jalan bisa jadi topik yang menarik. Beruntung, Zafran sangat suka bercerita. Jangan paksa anak melakukan sesuatu yang ia tidak suka. Naik kuda misalnya. Hehehe… kemarin sempat memaksa Zafran naik kuda. Alhasil dia bad mood. Untung bisa cair lagi setelah naik jeep.

Tanya anak apakah dia suka melakukan ini atau itu. Jangan segan-segan bilang tidak kalau itu dirasa membahayakan. Tapi namanya juga anak-anak. Ditempat baru, mereka pasti akan mencoba segala sesuatu. Lari-lari di pasir, tendang-tendang biar debu pada terbang, ngoceh sana sini. Begitulah…




6. Waspadalah

Bagi emak-emak yang punya suami mantan Mapala. Patut diwaspadai, pasca naik gunung dadakan ini,  jangan-jangan sebenarnya si bapak cuma mau bilang “bulan depan aku mau naik gunung”. Dilihat dari posisi manapun, jelas ini bukan kalimat permohonan ijin. Tapi FYI, for your information. Dan anda hanya bisa mengangguk lemas tanda setuju.

Tips di atas hanyalah pengalaman emak-emak yang mendadak naik gunung dengan dua bocah. Bisa digunakan, bisa tidak. Tapi ada hal penting yang wajib dilakukan. Yaitu, membangun suasana. Jangan sampai anak-anak merasa terpaksa naik gunung. Komunikasikan sebelumnya. Apa hal yang menarik sampai kita memutuskan liburan ke gunung. Sedangkan poin yang lain akan sangat berbeda jika tujuannya lain. Bukan di gunung Bromo misalnya. Karena setiap gunung punya kondisi alam yang berbeda. Otomatis, persiapan pun berbeda. Mulai printilan baju, logistik sampai persiapan fisik.

Sebagai referensi yang ciamik. Sila mengintip akun ig dokter hewan @nyomiez. Anaknya Max yang mengagumkan, mungkin bisa menjadi contoh sekaligus bahan pertimbangan untuk mengajak anak mendaki. You know mak, Max sudah naik gunung sejak usia 5 bulan. Yes, sama seperti Inara anak kedua saya. Sampai usia 5 tahun dia sudah mendaki lebih dari 30 gunung di Indonesia. Wow.

Tapi setiap orang tua pasti punya pertimbangan sendiri bagaimana cara mendidik anaknya. Mencintai alam sejak dini sangat bagus untuk pertumbuhanya kedepan. Bagi saya, ngalas atau naik gunung punya efek yang luar biasa bagi kehidupan. Banyak rintangan. Dan pilihanya hanya dua, kembali atau hadapi. Jalan kembali bukan tak punya rintangan. Lalu?!. Ya hadapi. Wong sama kok sulitnya. Bukankah begitu kita setiap harinya. Menghadapi masalah dengan frekuensi masing-masing. Dan menyelesaikannya dengan cara terbaik yang kita mampu.

Mencintai perjalanan dan mampu memaafkan ketidakmampuan. Berdamai dengan diri sendiri.



Salam dari keluarga kecil kami

The Harnoko’s






You May Also Like

0 comments