7 cara mudah mengajarkan toleransi pada anak

by - Februari 02, 2020


Ilmu parenting memang tidak pernah ada habisnya. Selalu berkembang setiap generasi. Tentu, untuk menyesuaikan perubahan zaman. Pendidikan untuk anak generasi milenial akan berbeda dengan gen Z atau bahkan generasi alpha.

Sama juga ketika saya ingin mengajarkan toleransi. Dulu, waktu masih SD, toleransi ‘sebatas’ menghormati yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda. Tapi, makin kesini, sikap toleran tidak hanya berkutat pada lingkup sekitar saja. Perkembangan teknologi informasi mengubah makna toleransi menjadi lebih luas. Apalagi, media sosial sudah menjadi makanan sehari-hari.

Seperti kasus perundungan di media sosial. Atau sikap intoleran kepada orang yang berbeda keyakinan. Makin kesini, kasusnya semakin ngeri. 

Bagi saya, toleransi ini bukan cuma soal sifat yang musti ada dalam diri anak. Lebih dari itu. kemampuan menerima perbedaan adalah kebutuhan hidup dalam masyarakat yang beragam.

Ah, saya memang sangat was-was untuk soal ini. Melihat berita-berita intoleran bersliweran di media sosial. Bikin bulu kuduk saya merinding. Ada yang berakhir damai dengan musyawarah mufakat. Tapi juga gak sedikit yang berujung korban nyawa. ‘Hanya’ karena berbeda!! Duh!

Lantas, apakah saya harus menjelaskan kepada anak tentang bagaimana toleransi berkembang di negara berflower ini? seperti apa reaksi pemangku kebijakan terhadap aksi-aksi intoleran? Atau hal-hal apa saja yang harus dilakukan saat melihat aksi intoleran?

Hah…….. belum. Berat jendral. Saya lebih memilih dia belajar senatural mungkin. Mengamati polah tingkahnya. Menjawab sesuai usia. Lalu, mencari celah untuk melanjutkan perbincangan ke arah yang berat-berat itu tadi. Sebenarnya, saya, juga sedang belajar tentang ini.

1. Berikan contoh

Anak adalah peniru ulung. Bahkan sampai ada istilah, jangan khawatir jika anak tak mendengarkanmu. Takutlah saat ia melihatmu. Maka, di urusan toleran ini, orang tua harus selesai dulu. Artinya, sikap toleran ini bukan nature tapi nurture. Ia dipupuk sedemikian rupa, sehingga membuahkan hasil.

Pupuknya alami dari tingkah laku orang tua setiap hari. Dari polah yang kadang abai. Seperti berkata baik dengan siapapun, menghapus stereotype, tidak menjelek-jelekkan orang lain. Sederhana tampaknya, tapi tak bisa juga dibilang mudah. Saya membayangkan, kalau setiap hari sedang diintai cctv. 

Saya ingat betul saat saya kira mas Zafran (6) lagi sibuk main game di hp ayahnya. Tetangga datang bawa undangan RT. Kita ngobrol sedikit tentang masalah anak-anak di sekolah. Saya pikir, si masnya cuek, taunya dia ‘ikut nimbrung’ juga.

“Kenapa mbak N buk?”

“Lagi sakit makanya gak sekolah”

“Sakit apa?”

“Panas”

Saya kagum dong, sama kemampuan ‘detektif’ dia ahahahaha. Udah kayak bapak jualan bakso bawa HT.
foto: twitter
Nah, dari hal sederhana tadi saja, mas Zafran betul-betul memperhatikan lo. Padahal dia lagi asik main gawai. Radarnya tajam juga. 

Saya juga punya pengalaman yang sama. Sampai sekarang saya masih ingat saat almarhum bapak diminta untuk ngarak manten. (kalau di desa temu manten itu di arak pakai rebana dengan lantunan ya nabi salam). Nah, saat itu, kebetulan si manten nikah beda agama. Entah bagaimana cerita detailnya, orang-orang tidak mau ngarak. 

Singkat cerita akhirnya si manten jadi di arak gara-gara bapak bilang "Kita hormati mereka sebagai tetangga". Saya tak ingat usia berapa waktu itu, tapi sungguh membekas sampai hari ini. 
   
Saya jadi ingat petuah orang tua dulu “Lek wes dadi wong tuwo, sembarange kudu ngati-ngati. Ngomong sak ngomong dipikir. Tingkahe yo di jogo” (Kalau sudah jadi orang tua, segala sesuatunya harus hati-hati. Perbuatan dan perkataan musti dijaga dengan baik). 

2. Bermain

Dari bermain, saya akan mengetahui bagaimana anak ini menanggapi perbedaan. Misalnya, Saat main sama adiknya. “Dik, kamu tu harusnya main boneka” kata mas Zafran saat adiknya pegang mobil-mobilan miliknya. Padahal, gak apa-apa kan adiknya main mobil-mobilan?!

Dari sini saya jadi tahu, mulai dari mana menjelaskan tentang menghargai pilihan orang lain.


Atau di lain hari misalnya, saat mas Zafran berantem dengan teman di blok sebelah. Dia mulai marah-marah dengan memberikan label pada semua anak.

“Aku gak mau main sama blok sebelah”

“Kenapa?”

“Nakal semua”

“Gak semua anak yang disana nakal, emang kamu udah kenal semua?”.

“Belum”

“Nah, kan. Kenalan dulu lah biar tahu” 

Atau saat dia mulai memilihkan mainan buat adiknya,

“Dik, kalau cewek itu warna pink, cowok biru”

Saya nyelonong “Masak sih? Adik boleh lo pilih warna sesukanya, kamu juga bisa pilih warna pink kalau suka”.

Pahamkah dia saat itu? belum.

Tapi bagi saya ini penting untuk bekal awalnya memahami apa itu toleransi. Kill the stereotype. Ya meskipun gak semua stereotype itu buruk. Tapi saya yakin, suatu saat dia bisa memilih mana yang yes, atau big no.

3. Bercerita

Membacakan cerita. Cerita nabi-nabi, cerita rakyat, fabel, apapun. Biasanya, sebelum bercerita, saya mencoba selesaikan dulu ceritanya. Jadi kalau saya sudah paham, cukup mudah untuk menyusupi pesan-pesan ‘sponsor’. Termasuk juga tentang toleransi.

Menurut saya, hampir semua cerita bisa diselipkan pesan ini. Bahkan cerita princess sekalipun. Seperti buku Guess Who Sofia ini. Punya Inara (2). Buku ini berisi tebakan tokoh-tokoh di sekitar Sofia, the Princces. Cluenya detail. Warna dan jenis rambut, warna baju, sampai sifat tokohnya.
Buku Guess Who Sofia | foto: doc. pribadi
Dari sini bisa diselipkan pesan bahwa meskipun kita berbeda, kita bisa berteman. Bahkan dengan orang yang sifatnya berbeda sekalipun. Di akhir cerita, mereka berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahun Sofia.
Isi buku Guess Who Sofia | foto: doc. pribadi
4. Panggilan

Memanggil laki-laki yang lebih tua dengan sebutan bapak atau pak. Seperti saat saya bilang “Itu bapak tukang sampah yang biasa bersihin sampah depan rumah mas”.

Posisinya sama dengan “Itu namanya bapak presiden mas, yang jadi pemimpin seluruh rakyat Indonesia”, saat dia lagi nonton tv.

Bagi saya, penyetaraan panggilan ini bisa menjadi bekal untuknya. Bahwa tidak ada pekerjaan yang lebih rendah atau lebih tinggi. Semua manusia setara, sama. Yang membedakan adalah perilaku dan akhlaknya. Maka, saya lebih memilih panggilan ‘bapak’ alih-alih ‘tukang’ kepada bapak-bapak yang mengambil sampah.

5. Menempel peta dunia di dinding kamar

Ini saya buat, agar mas Zafran tahu, bahwa dunia ini isinya gak cuma Indonesia. Ada banyak negara lain di dunia. Dengan banyak orang di dalamnya. Tentu dengan karakter dan budaya yang berbeda. Dari peta ini dia juga bertanya banyak tentang musim dan bagaimana cara bertahan di musim itu.
Peta Dunia | foto: doc. pribadi
Saya kira ini cukup mudah untuk masuk dalam tema yang lebih luas. Seperti perbedaan warna kulit, suku, agama, budaya dan lain sebagainya. Yes, we are different!

Yah, maklum ya mas, belum bisa ke luar negeri. Jadi, kita lihat dunia lewat buku sama peta ini aja dulu ya. Nanti sekolah yang pinter, biar bisa menjelajah dunia. Amin..

6. Bermain diluar

Saya biasanya membebaskan mas Zafran untuk bermain di luar rumah. Bermain tidak hanya dengan teman sebaya, tapi juga teman yang lebih tua atau muda. Dengan begitu, saya akan tahu, bagaimana si anak merespon tingkah laku anak lebih tua, atau menghadapi anak lebih muda.

Seperti misalnya, kadang, dia akan pulang dalam kondisi menangis. Saat ditanya kenapa,

“Mas B gak mau ngajak main, soalnya aku masih TK”.

“Terus?”

“Ya aku jadi males maen.”

Saya diam.

Saya kadang hanya memperhatikan dari jauh, apa reaksinya jika ada kejadian seperti ini. Benar juga, tak lama kemudian dia main lagi sama si anak tadi.

Saya pikir dia akan butuh waktu agak lama untuk kembali tune in sama temanya. Tapi ternyata, 5 menit berlalu sudah haha hihi saja. Ya kadang saya memang over thinking sama anak-anak. Padahal dunia mereka akan rasa marah, senang, sedih itu gak serumit orang dewasa macam saya. Ah nak, ibuk perlu belajar tentang ini dari kamu.

Lah, kok jadi kemana mana. Kembali ke laptop.

Jadi gini, dari cerita di atas, saya bisa melihat sejauh mana dia mananggapi perbedaan. Temannya yang mengatakan dia anak TK dan gak boleh bermain itu kan jelas pandangan yang berbeda. Jadi, kalau anaknya lari dan memilih pulang, berarti dia belum bisa menerima ‘beda pendapat’ itu.

Butuh belajar. Gak bisa serta merta memang. Tapi toh, dia balik lagi untuk bergabung dengan temannya. Artinya, everything is oke. Bisa jadi, dia bukan sedang tidak bisa menerima beda pendapat. Hanya butuh waktu saja untuk mencerna sembari meredakan emosi.

7. Memberi hadiah

Saat ada temannya ulang tahun, saya biasanya menanyakan dia ingin menghadiahkan apa buat temennya. Atau kalau dia bilang terserah, ya saya siapkan saja. Momen seperti ini sebenarnya yang saya suka. Anak belajar untuk memberi dengan senang hati. Pada siapapun.

Di kompleks saya kebetulan dari berbagai latar belakang agama. Saat ada anak beragama lain yang sedang ulang tahun, ada momen saat berdoa. Tentu berbeda. Si masnya memperhatikan lalu bertanya.

“Doanya kok gitu?”

“Ya memang beda mas, mbak N kan agamanya Kristen”

“O…”

Lalu meyayikan lagu selamat ulang tahun sama-sama. Here we go boy, unity in diversity. Kek tagline seminar kampus hahaha.

Itu tadi cara saya mengajarkan toleransi sama anak-anak. Mungkin mereka belum ngeh saat ini. tapi suatu saat nanti, saya yakin mereka bakal paham kok. Bagaimana menghargai pilihan orag lain, menghilangkan stereotype, memahami perbedaan, dan menghormati pemeluk agama lain. Kita belajar sama-sama ya mas… luv u J

Kalau buibu, ada tips? sharing yuk...






 


You May Also Like

8 comments

  1. Wah keren banget. Kebetulan ini keponakanku dua cowok semua. Kelas 5 dan 6 SD. Beberapa tahun lalu mereka masih demen nonton Frozen. Kalau film itu lagi main di TV Kabel aku pasti dipanggil lalu mereka ngajak nobar. Eh sekarang pas Frozen 2 main di bioskop, kuajak dong mereka nobar ke bioskop. Kaget banget sama responnya yang sudah memberi label ke film itu.

    "Nggak mau nonton Frozen 2, banci!"

    Maksudnya dia nganggap Frozen film perempuan. Duh. Darimana mereka kenal pelabelan semacam ini. Pasti dari temen-temennya. *tepokjidat

    Untungnya, mereka masih mau ke dapur. Sudah diajarin untuk masak air, masak mie instan, dan mencuci piring sendiri. Jangan sampai deh, mereka melabeli pekerjaan dapur itu pekerjaan perempuan.

    Tantenya punya PR gimana supaya mereka enggak diskriminasi gender. Hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wow Banci. hiks... masih terus belajar kok ini mbak. anak2 itu susah susah sulit dipahami hehehe.. semangat belajar :-)

      Hapus
  2. mantapp nekk.. sangat menginpirasi *tak siap siap aku hihihi
    suwun :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. iki cupung iki ya, tak siap2 spidol merah, mbunderi tanggalan :-)

      Hapus
  3. Bagus untuk dipraktekkan kalau aku sudah punya anak nanti. Terimakasih sudah berbagi ya, Mbak.😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehehe... ditunggu cerita tentang anak-aaknya nanti :-)

      Hapus
  4. Belajar sambil bermain memang nyata dampaknya memberi perubahan ke anak, ya. Karena kondisinya tidak merasa dipaksa malah dalam keadaan senang sehingga pesan yang masuk jadi sampai dengan baik

    BalasHapus
    Balasan
    1. yup mbak, yg butuh effort ya membersamai itu. masih sama-sama belajar ini. semangat buat buibu :-)

      Hapus