belajar bisnis dari emak

by - September 29, 2017


Saya dilahirkan dari keluarga yang tak jauh-jauh dari yang namanya dagang. Bapak dan ibu saya seorang pedagang baju di pasar wage Tulungagung. Keduanya merintis usaha itu dari nol. Bapak bekerja sebagai tukang potong baju di konveksi yang cukup besar di Tulungagung. Sedang ibu, berdagang keliling dari pasar ke pasar, untuk memasarkan baju yang ia ambil dari bos konveksi. Waktu berlalu, hingga keduanya bisa membuat usaha konveksi sendiri di rumah dan membeli kios di pasar.

Usaha yang dirintis berdua terus berkembang. Pesanan baju dalam jumlah besar dari luar pulau jawa mulai berdatangan. Roda berputar. Hingga suatu hari, krisis 1998 mulai meredupkan usaha. Gempuran baju murah impor, kain murah, dan pasar yang mulai lesu membuat sedikit demi sedikit orderan berkurang. Saya tak ingat apa penyebabnya. Tapi kemudian bos besar di daerah Surabaya yang biasa memesan baju untuk dikirim ke luar pulau memutus kerjasamanya.

Cobaan terus datang. Bapak sakit, dan meninggal akibat kanker otak stadium IV saat pemilu 2009. Praktis, kebutuhan keluarga hanya disuplay dari satu orang, ibu. Padahal kami berempat masih sekolah. Saya dan adik saya sedang menamatkan kuliah, dua sisanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Roda kembali berputar.

Ibu terus berusaha mencukupi segala kebutuhan. Bangun lagi, dan mulai berjalan. Saat ini, ia menjadi buruh konveksi besar di Tulungagung. Baju yang sudah dipotong, ia ambil untuk dibagikan kepada penjahitnya yang masih tersisa. Tanpa resiko, begitu katanya. Begitu seterusnya. Selain itu, sudah sejak lama ibu menerima order baju seragam TK Muslimat. Karena ia juga seorang guru disana. Baginya menjadi guru itu bukan pekerjaan. Itu hobi, hiburan, ladang ibadah. Kalau kerja ya dirumah, njahit. Sesederhana itu.

***

Singkat cerita, lulus kuliah, saya diterima bekerja di salah satu stasiun tv local di Surabaya. Selang setahun bekerja, saya kepincut bikin usaha. Tak jauh jauhlah dari dagang. Jualan nasi kepal kekinian, sego njamur. Keinginan membuka usaha ini tak sampaikan sama ibu. Tanpa ba bi bu, blio mengiyakan plus modal hihi… sayapun membeli franchise sego njamur dari mahasiswa ITS. Entah kenapa, Ibu semacam selalu punya energy tambahan kala denger peluang usaha baru. Meskipun di awal saya sempat ragu, tapi katanya, segala usaha punya resiko. Tak berani ambil resiko, tak akan kemana mana. Suntikan energy itu yang kemudian membulatkan tekad saya untuk memulai bisnis. Hasilnya?! Pailit. Saya bangkrut. Uang hasil penjualan dibawa kabur penjaga warung yang sudah saya percaya. Marah?! Gak. Sesekali ibu bertanya dan saya jelaskan. Setelah itu tak pernah bertanya lagi. Padahal cicilan modal ke ibu baru dibayar 3 kali hihihi.

Bagi ibu, gagal itu pelajaran yang luar biasa. Belajar segalanya. Mungkin dia tahu anaknya yang satu ini gak suka penjelasan panjang lebar tentang usaha. Jalani, rasakan, belajar, gagal, bangun lagi. Begitu mungkin logikanya. Tapi ya namanya manusia mosok gak ada galau-galaunya. Ada, pasti. Saya belajar banyak sekali dari ibu. Blio orang yang lihai mengatur mood. Kalau penat dengan pekerjaan rumah dan usahanya, keluar. Ketemu sama temen-temenya di pengajian atau khataman Quran. Atau ketemu dengan temen-temenya di organisasi. Ibu kebetulan aktif di muslimat. Mobilitasnya sebagai emak-emak memang josss…

Begitulah caranya menghadapi keruwetan hidup. Banyak masalah dalam hidup, tapi jauh lebih banyak cara untuk menertawakannya. Keluar dan bersenang senanglah sesuai seleramu.

Selepas resign dari pekerjaan sebagai detektif partikelir di salah satu stasiun tv local di Surabaya, saya mulai merintis usaha. Ternyata, keinginan membuka usaha juga didukung lagi oleh emak saya. Setelah mendapat lampu hijau dari suami, saya mulai berdagang online. Cara ini sangat masuk akal saat itu, karena tak meninggalkan rumah. Kebetulan anak saya juga butuh perhatian khusus.

Mendapat modal usaha dari suami, mulailah saya membeli baju dari beberapa distributor, via online. Selang beberapa waktu, Alhamdulillah saya kena tipu lagi. Uang sudah disetor, tapi barang tak kunjung sampai. Akhirnya saya marah sama diri sendiri, teledor, grusa-grusu, gak pikir panjang dan seterusnya dan seterusnya. Ditambah lagi akun facebook saya sebagai garda depan penjualan, kena blokir om Mark. Lengkap sudah… setelah cerita ternyata pak suami gak marah, malah bilang “kurang sedekahe”. Yasudah saya tertawa lagi. Menertawakan diri sendiri yang mulai gak lucu.

Setelah menunggu cukup lama, menunggu ada dana lagi hehe… saya mulai membuat pasar baru. Akun fb baru, fp plus instagram untuk jualan. Kali ini saya mencoba mmebuat baju sendiri. Kebetulan usaha konveksi ibu masih berjalan. Setelah mengungkapkan keinginan, seperti yang sudah diduga, emak saya mengiyakan untuk bekerjasama. Kain yang saya beli via online, saya kirim ke Tulungagung untuk dibuat model baju yang saya contohkan. Tak banyak, awalnya cuma 2m dan laku. Ketagihan, saya putar modal untuk membeli kain lebih banyak. Begitu seterusnya hingga sekarang.
Lebaran tahun ini memberi berkah tersendiri. Dagangan laris manis kembang kimpul. Tapi tiba-tiba ibu saya mengingatkan “dagangan laris ki cobo (cobaan). Kamu lebih milih keluarga apa dagangan”. Jleb. Seketika saya mikir. Bentar aja, gak lama, trus dagang lagi hehe…

Emak saya memang bukan lulusan sarjana. Blio menamatkan sma kemudian menikah. Sekarang, diusianya yg lebih 40 tahun, ia memutuskan untuk sekolah lagi. Sampai sekarang. Mungkin itu adalah salah satu cara memelihara mood diusianya. Belajar adalah cita-cita besarnya sejak awal. Saya tahu, ibu adalah pelajar gaek. Dia banyak belajar dari kehidupan. Semua orang mungkin bisa. Tapi yang mau menerapkan pelajaran yang sudah didapat dengan konsisten dan ikhlas, bisa dihitung jari.
Pelajaran berharga dari emak saya adalah, jangan takut melangkah. Diam membuatmu tak akan pernah kemana-mana. Semua yang dilakukan dan diusahakan punya resiko masing-masing. Hadapi. Tak ada cara menyelesaikan masalah dengan lari. Kalau jatuh, satu-satunya obat adalah berdiri. Berjalanlah, cari pelipurmu sendiri. Dan yang terpenting, menunduklah. Jalanmu ada di bawah. Dan akan selalu di bawah. Berhentilah mengeluh. Itu tak akan merubah apapun. Terus bersyukur, tak ada yang membahagiakan dan melegakan di dunia ini selain bersyukur.


Ibu saya tak pernah bicara seperti itu dengan anak-anaknya. Tapi saya melihat, merasakan, mengamini, kemudian mencoba mencontohnya. Belum semua. Masih jauh. Tapi bukankah kita diberi kesempatan untuk terus belajar?! Apapun, dimanapun, kapanpun. Sehat terus mak. Biar bisa terus jalan-jalan dan tertawa bersama.

You May Also Like

0 comments