Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2019

Tips mengelola dana THR

Gambar
Lebaran tinggal menghitung hari. Udah pada belanja persiapan lebaran?! Beli tiket mudik?! Atau bikin to do list buat pos-pos uang THR (Tunjangan Hari Raya)?! Pernah gak sih setelah menerima dana THR tiba-tiba gak sampe semingguan, udah habis tak bersisa?! Saya!! paling kenceng hahaha... Bisa jadi ada yang salah dengan pengelolaan uang THR kita eh saya selama ini. Tunjangan Hari Raya merupakan uang tambahan diluar gaji yang diberikan menjelang Idul Fitri dari perusahaan. Biasanya diberikan dua minggu sebelum lebaran. Besaranya bisa satu kali gaji bulanan. Ada juga yang dua kali. Tergantung masa kerja dan kebijakan perusahaan. Ini untuk perusahaan swasta seperti suami saya. Nah, kebetulan, awal bulan Mei, saya nemu webinar gratis dari @mrdiy.indonesia. Mumpung gratis yakan, ambil aja. Apalagi sangat buibu rumah tangga friendly.   Maksudnya, bisa ikut dari rumah via facebook live. Bekerja sama dengan Orami, mrdiy. indonesia mengangkat tema cara pintar mengatur keuangan

Membangun habit investasi

Gambar
pixabay Beberapa minggu ini saya sedang bersemangat belajar tentang investasi. Secara membabi buta follow akun-akun finansial planner. Baca artikel-artikel keuangan. Influencer-influencer yang berbagi tips seputar keuangan saya follow juga. Anak-anak muda yang udah jago investasi sejak dini, tak luput dari pantauan saya. Pokoknya ini otak isinya investasi mulu hehehe Salah satu yang paling hits @jouska_id. Kumpulan finansial planner yang gak menjual mimpi. Sangat realistis menurut saya. Ada juga tips-tips sederhana nan menculek mata untuk mengelola keuangan ala ibu rumah tangga dari mbak @rindasukma_. Lain hari, ikut webinar dari @Orami tentang cara pintar mengatur keuangan rumah tangga. Langsung diampu oleh mbak @bunga_mega. Bahasannya khas ibu-ibu. Sangat mudah dipahami. Apalagi buat emak-emak newbie investasi kayak saya. Dan sederet akun finansial planner lainnya. Melek investasi sih udah lama sebenernya, tapi entah kenapa akhir-akhir ini, ghirohnya beda. lapar banget

Cerita seru dibalik Mainan kardus

Gambar
“Children learn as they play. More importantly, in play, they learn how to learn”   O. Fred Donaldson Anak-anak dan bermain adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bermain bagi mereka adalah belajar yang sesungguhnya. Ini saya rasakan betul. Anak pertama saya, Zafran (5th) sangat senang bermain. Kadang dia malah malas sekolah, karena mainan tak sebanyak dirumah. Suatu hari, dia mendapati mainan lego besar di sekolahnya. Tapi, belum dibuka dan katanya gak boleh dimainin. Curhatlah dia pas pulang ke rumah. “Buk, disekolahan sebenernya ada lego banyak, tapi gak boleh dimainin” “Kenapa?” “Kata bu guru nanti susah beresinya” Terkejutlah saya, apa iya bu guru melarang bermain dengan alasan itu. sayapun berinisiatif bertanya pada guru kelas tentang mainan tersebut. Kata bu guru, mainan itu memang baru, dan baru akan dipakai minggu depan. Syukurlah… Sejak saat itu, si sulung ini bersemangat ke sekolah. Katanya legonya banyak jadi bisa main banyak-banyak. Heh

#ayohijrah bersama bank muamalat indonesia, halal dan berkah

Gambar
“Pak, cicilan KPR sudah di transfer hari ini?! ”Sudah" “Tinggal berapa ya cicilanya?” “Belum ngecek sih. Dulu waktu akad katanya 3 atau 4 tahun cicilan masih bayar bunganya aja” “MasyaAllah...” Andainya dulu kita gak gegabah untuk ambil KPR di bank konventional, mungkin percakapan diatas gak bakal ada. Sayangnya, obrolan itu nyata saat ini. cicilan KPR baru akan selesai 10 tahun lagi. Dengan bunga yang bergerak naik tiap tahun. tapi mau bagaimana lagi. Jalan satu-satunya ya dihadapi. Bagaimanapun caranya. Dulu, setelah menikah, saya memang bertekad untuk tinggal sendiri. Mandiri. Awalnya kami berdua nge kos di daerah dekat kantor sambil mencari perumahan yang mungkin cocok untuk pasangan muda. Cocok lokasi plus dana. Kata orang, nyari rumah itu emang hoki-hokian. Kalau lagi hoki, sekali ketemu, bisa langsung setuju. Kalau tidak, berapa kalipun nyari, tetap saja ada halangan. Mulai finansial, sampai lingkungan sekitar. Mungkin hari itu, kami lagi hoki.

perlukah gigi susu ditambal? (bag_2)

Gambar
Hari sabtu kemarin (27/04), mas Zafran (5th) balik lagi ke dokter gigi. Kali ini, buat tambal gigi permanen. Dua gigi geraham bawah sudah ditambal sementara minggu lalu. Hasilnya?! Kondisi gigi dan gusi tidak bengkak ataupun nyeri, meskipun lubangnya cukup dalam. Cerita pertama pergi ke dokter gigi bisa diklik disini. Ini kali kedua Zafran ke dokter gigi, tapi tetap saja sebelum masuk musti didongengin dulu. Nanti mau diapain dan ngapain aja di dalem. Tapi kali ini dia sudah bisa cerita sendiri. “Buk nanti kumanya dihilangin lagi ya” “Iya” “Nanti aku gak salah lagi kok, airnya tak buang, gak ditelen” Wkwkwkwkwkw. Minggu lalu soalnya dia telen air kumur. Mungkin agak grogi hahaha. “Iya, klo giginya bersih nanti mau makan apa aja enak, gak sakit lagi mas” “Oke buk” Setelah diperiksa, dokter gigi J yang baik hati langsung melakukan tindakan. Oiya, sukanya lagi nih sama dokter J. beliau gak bohong sama anak-anak. Biasanya kan ya, agak bohong gitu bilang gak sakit pada